Kampanye Boleh Pake Baju Kotak, Sampai Masuk Kotak Pun Ahok Bukan Kotak-Kotak

16 Maret 2017 19:24:32 Diperbarui: 16 Maret 2017 19:28:13 Dibaca : Komentar : Nilai : Durasi Baca :

Sungguh Tak Enak Ber IQ Jongkok

Walaupun Semangat Tetap Terseok

Sungguh Tak Berpikir Timnya Ahok

Walaupun Jiplak Jokowi tetap Keok

Sebagai orang yang pernah mengikuti pilkada beberapa kali, Ahok dan timnya tergolong sangat,sangat tidak kreatif. Padahal, Ahok pernah memenangkan pilkada saat menjadi bupati Belitung Timur dan Pilkada DKI bersama Jokowi. Bahkan, Ahok juga pernah mengalami kekalahan saat pilkada Bangka Belitung, namun hal tersebut tidak membuat ada terobosan berarti dalam pilkada.

Miskin Kreatifitas, terlampau Fotokopi Jokowi terlihat dalam kampanye pilkada putaran 1. Atribut baju kotak-kotak yang dahulu digunakan Jokowi. Salam dua jari, yang dahulu digunakan Jokowi saat pemilihan presiden. Dukungan artis masih sama, yaitu basis pendukung slank. Jika, Ahok diwartakan “ Salam Dua Jari untuk Ahok-Djarot dalam Konser "Gue 2". Jokowi Kampanye Pilpres Jokowi JK “ Membeludaknya Konser Salam 2 Jari, Bukti Warga Taruh Harapan ke Jokowi-JK.

Baju kotak-kotak yang identik dengan Jokowi ternyata idenya langsung dari Ahok.

Liputan6.com 9 November 2016.mewartakan

"Idenya dari Pak Ahoksendiri karena beliau ingin menyampaikan bahwa baju kotak-kotak itu identik dengan para pekerja. Jadi jika bekerja bersama-sama, apa pun yang kita lakukan bisa kita raih," kata Nevi Ervina seperti dikutip dari Antara, Rabu (9/11/2016). Ia juga enegaskan pakaian tersebut berbeda dengan baju kotak-kotak yang dikenakan Joko Widodo dan Ahok saat Pemilihan Gubernur 2012.

"Saat bersama Pak Jokowi kotak-kotaknya lebih kecil dan lebih berwarna. Saat ini baju kotak-kotak Pak Ahok ukuran kotaknya lebih besar," kata dia.Nevi menjelaskan, warna merah pada baju kampanye adalah simbol pemimpin yang berani. Sementara warga hitam menunjukkan kesiapan untuk turun ke lapangan menjalankan program pembangunan.

Meskipun Ahok bersama dengan Jokowi saat berkampanye pilkada DKI 2012, namun pada dasarnya Ia sangat berbeda. Keinginannya memfotokopi hanya urusan pragmatis. Jelas, Ahok tidak mampu menjadi kotak-kotak, ia tidak mampu meresapi apa yang dipikirkann Jokowi. Kotak-kotak yang dahulu dijadikan simbol Jokowi merupakan cerminan harmonisasi dari berbagai warna dan kelompok dalam satu bingkai baju. Ahok memikirkan tentang siapa dirinya, bukan siapa warganya.

Hasilnya pun terlihat, fotokopi tidak akan pernah sebagus aslinya. Mari kita lihat dalam respons media tentang baju kotak-kotak. Jika saat kampanye pilkada Jokowi Ahok 2012 baju kotak-kotak direspons positif oleh masyarakat, bahkan ada begitu banyak dibeli oleh masyarakat, berbeda dengan baju kotak-kotak sekarang. Jika dahulu sulit dibedakan pengguna baju kotak-kotak tim suksesdengan yang tidak, tetapi sekarang hanya tim sukses yang menggunakan.

Jokowi memiliki keinginan yang kuat untuk dapat mempersatukan. Hal ini terlihat bagaimana Prabowo, Megawati dan berbagai tokoh mau bersatu menggunakan baju kotak-kotak. Jokowi tidak menggunakan merahnya PDIP atau Putihnya Gerindera. Ia membuat keduanya bersatu tanpa harus kehilangan identitasnya. Bandingkan dengan Ahok, Ia lah orang yang menceraikan partai dengan pilkada saat begitu yakinn maju dari calon independen. Ia lah orang setiap hari menambah permusuhan. Jika Jokowi menggabungkan kotak-kotak, maka Ahok mengkotak-kotakkan gabungan. Jika Jokowi mampu mengambil hati warga Betawi dengan menggunakan seragamnya, maka Ahok mampu membuat mengirimkan racun sakit hati dengan ancaman dan kebijakannya.

Jelas sudah, motivasi Ahok menyakan Jokowi semata-mata untuk mendulang suara. Asumsi pendukung Jokowi yang begitu besar di Jakarta akan mendukungnya membuat akal dan rasa mati.Pendukung Jokowi tidak akan langsung terpikat semata-mata karena berbaju kotak-kotak. Pendukung Jokowi pasti kecewa, karena apa yang pernah dijanjikan Jokowi diinjak-injak oleh Ahok.

Jokowi punya prinsip menggeser bukan menggusur, Ahok Gusur lalu geser, Jokowi punya konsep rumah deret, kampung deret. Ahok punya deretan konsep memulangkan warganya ke kampung. Jokowi mau mendatangi langsung warganya, Ahok mendatangkan langsung satpol PP ke rumah warga. Jokowi sibuk blusukan ke rumah-rumah warga, Ahok sibuk rapat dengan pengembang.

Ahok tidak sedang melanjutkan cerita Jokowi, ia tidak akan pernah mau. Ahok hanya menggunakan cerita Jokowi untuk memenangkan pilkada. Jokowi hanya menjadi alat simbol peraup suara, soal ide dan pemikiran Ahok punya cerita sendiri. Bahkan, jika dalam keadaan genting, Jokowi pun dapat dikorbankan.

Beberapa perilaku Ahok yang menunjukkan Ia bukan lah Kotak-Kotak Jokowi, melainkan pihak yang mengkotak-kotak Jokowi dan menterinya.

Sindo News,com 23 Juni 2016 Mewartakan” Ahok: Tanpa Pengembang Jokowi Tidak Bisa Jadi Presiden”.

Detik.com 13 Juli 2017. Mewartakan “ Ahok Bersurat ke Jokowi, Pertanyakan Menko Rizal Ramli yang Batalkan Pulau G”.

Merdeka.com 15 April 2017. “  Ditantang Ahok hentikan reklamasi, ini jawaban Menteri Susi” .

Dalam skenario terburuk (masuk kotak) kalah dalam pilkada DKI 2017 Ahok dapat menjadimasalah buat Jokowi, namun hal tersebut tidak lebih besar pengaruhnya jika ia menang. Jokowi bisa kehilangan wibawa, karena ada kotak-kotak di atas kotak-kotak. Padahal, kotak-kotak yang asli hanya Jokowi, yang lain KW.

Guntur Saragih

/guntur_saragih

Saya adalah orang yang bermimpi menjadi Guru, bukan sekedar Dosen atau Trainer.
Selengkapnya...

KOMPASIANA ADALAH PLATFORM BLOG, SETIAP ARTIKEL MENJADI TANGGUNGJAWAB PENULIS.

NILAI :

Daftarkan email Anda untuk mendapatkan cerita dan opini pilihan dari Kompasiana

Featured Article