HEADLINE HIGHLIGHT

Kompasianer Perempuan Paling Seksi

18 Juli 2012 00:11:55 Dibaca :
Kompasianer Perempuan Paling Seksi

Saya seringkali kesulitan menilai perempuan, sama susahnya dengan menilai bebungaan. Padahal mereka tiap hari di seputar saya berkeliaran, menebar wangi dan wajah rupawan. Lebih gila lagi jika menyangkut hati, lalu saya disuruh menilai satu persatu dengan pikiran. Pikiran dan hati, setahu saya adalah dua hal yang saling berlawanan. Maka ada perang di dalam diri saya, maka semuanya jadi begitu keteteran, belingsatan dan sedikit tidak keruan.

.

Kini saya tidak bisa lari dari masalah: soal perempuan dan keindahan yang mereka ciptakan. Tentang seberapa bagus foto-foto mereka. Maksud saya hasil visual yang mereka rekam dalam sebuah foto. Yang tentunya khas perempuan, yang tentunya banyak memakai hati ketimbang pikiran.

1342539986914694347.

Saya pernah berdiri seperti tiga fotografer pada foto Aryani. Di ujung bebatuan karang dan menghadap cakrawala, sementara debur ombak meneriakkan suara-suara. Sudah pasti pula angin berhembus cukup menerbangkan rambut saya dan dada saya terkena beberapa cipratan air asin. Sepuluh tahun yang lalu dan situsai itu kini dihadirkan kembali oleh Yani. Dan jangan heran kalau dara cantik ini banyak menghabiskan waktunya keliling tempat-tempat yang aduhai. "Perjalanan" adalah nama tengahnya yang saya berikan padanya.

Menurut saya karya Yani menginspirasikan, tentang bagaimana memotret landscape dengan gaya yang berbeda. Dan saya rasa, saya tidak berlebihan.

Adalah memukau ketika slow speed-nya membekukan ruap-ruap ombak. Sebuah titik galau yang mempertemukan mereka: manusia dan sebentang alam. Dan barangkali juga kegelisahan Yani yang tidak dapat tidak "menantang" alam hingga menjadi sahabatnya. Dara manis ini selalu memakai warna merah jambu untuk "melihat" semuanya. Apakah pada saya pula?

. 1342540076661239893 .

Lain halnya dengan Dwi yang sepintas dengan gampangnya aspret (asal jepret) merekam bangunan pencakar langit malam hari. Oh tidakkkk.....itu tak mudah, saya sudah mencobanya. Kamera saku di selangkangan tembok-tembok beton? Apalagi Dwi berada di Hong Kong dengan ingar-bingarnya, berani taruhan, puluhan frame dia pakai untuk menghasilkan karya itu. Night Photography, sebuah aliran yang lumayan ditakuti bagi mereka yang memotret dengan kamera kotak sabun. Tambahan lagi, Dwi tidak suka mengolah fotonya dengan piranti lunak. Ia biarkan apa adanya: fresh from the oven (begitu ia menyebutnya).

Bukan Dwi  jika tak dapat menyelesaikan persoalan itu, bukan Dwi kalau gampang menyerah dengan keadaan yang membingungkan. Dwi yang menyukai bunga, Dwi yang tahu banyak tentang bebungaan plus serangga aneh-aneh yang dia kejar. Dwi yang seksi, meski keseksiannya hanya ia sematkan di hati, entah untuk siapa nantinya. (Ingat ya, she also fresh from the oven).... :)

. 13425401931532580589.

Saya tidak tahu siapa dia di belakang akun Kompasiana: Gaganawati. Yang jelas kegairahannya terhadap fotografi memanggil-manggil saya untuk mencermatinya. Sepertinya dia mengajak saya untuk berkeliling, antara satu event ke event lain, pada objek unik-unik hingga yang dia temui di jalan-jalan. Pada foto di atas saya merasa dia menarik saya kembali ke masa kecil saya, berkeliaran di negara asing yang suhu dan makanannya tak lazim.

Objek foto di atas (mungkin) sederhana, namun bisa bayangkan andai tak ada orang lewat pada bagian kiri. Sudah pasti foto tersebut beku. Ini yang saya maksud dengan "gaya tarik". Bagaimanapun sebuah sasaran foto kita akan diam tak beranjak, namun seringkali manusia di belakang lensa membuatnya serupa hidup dan bernafas. Bergerak-gerak, bersuara, mengeluarkan aroma dan menyentuh kita dengan suhu. Gaganawati membungkus itu semua, lalu menghadirkannya pada kita kembali. Saya menyukainya.

. 13425402581114342941.

Akan halnya seorang Nana, yang kerap "tidak setengah-setengah" dalam berkarya, foto di atas membuat saya ingin kenal lebih lanjut: Siapa sih dia? Di mana sih tinggalnya, berapa umurnya, sudah punya pacar atau belum....dan sebagainya dan sebagainya. Rupanya selama ini ada perempuan kreatif yang terlewatkan.

Food Photography merupakan salah satu genre yang "menakutkan" buat hobiis laki-laki. Mungkin mereka gemar makan dan makan, tapi untuk memasak, menatanya sedemikian rupa hingga menarik hati dan membuat penatapnya ngecesss....ah jarang banget ya. Apalagi harus membingkainya dalam sebuah foto, merekam tekstur, warna dan bidang-bidang yang selekasnya nanti masuk perut penikmatnya. Nana menitipkan hatinya pada lensa kamera -itu yang saya tangkap dari karyanya di atas.

Lihatlah bentuk hati yang ia letakan  di tengah-tengah, apakah kamu masih meragukan kesungguhannya? Dia pula membenturkan dua warna primer yang "bermusuhan" yaitu hijau dan merah. Dan lihatlah kembali bagaimana Nana menetralisir masalah itu. Tahu kan maksud saya?

Plis deh Nana, jangan menggoda saya untuk mengetahui kamu lebih lanjut yaaa.....*hiks.

.

13425403771628404773.

Mungkin semua lelaki suka fotonya mbak Margaretha di atas. Apalagi saya. Tapi, tahukah tentang kesulitan memotret fesyen dengan pencahayaan yang pas-pasan? Objek yang selalu berubah dan unpredictable gerakannya. Belum lagi bagaimana ia harus memposisikan diri hingga mendapat sudut bidik yang leluasa. Dan gini lhooo....fesyen itu bukan melulu cewek cantik kan? Tekstur baju harus nampak, potongannya pula harus jelas, gaya bahasa tubuh model musti pantas. Itu sekian dari syarat memotret yang kudu dipenuhi. Dan Mbak Margaretha menyelesaikannya dengan cantik, secantik dirinya.

Satu hal: selalu ada bidang gelap pada foto-fotonya, yang mana menjadi ciri khasnya. Saya nggak tau apa artinya, tapi saya mencoba mengerti setidaknya lewat sekian banyak karyanya ciamiknya: ada Gotham City yang ingin ia tampilkan selalu. Sebagai Kampretos, itu wajar kan?

.

13425404791041603423.

Emmanuelly Keisa, adalah member Kampret yang belum banyak menggunggah foto-fotonya. Namun mengejutkan saya dan ada banyak hal yang saya catat. Foto tersebut tidak berfokus tunggal, sebagian ilalang tajam, sebagian lagi blur. Tidak sulit memetakan apa sebabnya: ilalang berdiri secara acak, hingga depth of field lensanya seolah bekerja tidak konstan. Hal itu membuat visual tersebut serupa tertiup angin, dan gambar itu menjadi hidup! Pesona warna dan komposisi bidangnya sebaiknya tidak usah saya bicarakan, saya sudah terlajur terkesima dengan aura yang ditampilkan, nuansa yang di hadirkan. Hanya ilalang, tapi berlayer-layer dengan bunga, rerumputan dan teduh pepohonan.

Ajak ke sana dong!, kata saya dalam hati. Semoga dia mendengarnya. Saya ingin menulis puisi di tengah-tengah ilalang tersebut, dan saya ingin membacakannya keras-keras agar dia dan cakrawala mendengarnya. Saya berharap setelahnya ia menyodorkan secangkir coklat panas, lalu saya akan diam seribu bahasa. (Terlelap entah di bahunya sebelah mana.)

. Saya seringkali kesulitan menilai perempuan, sama susahnya dengan menilai bebungaan. Padahal mereka tiap hari di seputar saya berkeliaran, menebar wangi dan wajah rupawan. Diam-diam saya terperanjat: saya masih sendirian! . ***** . Dari catatan harian Granito dengan penuh subyektifitas dan dengan sekuntum cinta. . Untuk karya teman Kampret silahkan klik disini

Granito Ibrahim

/granito

Fotografer jalanan dan penulis fiksi yang moody.
Selengkapnya...

KOMPASIANA ADALAH MEDIA WARGA, SETIAP KONTEN DIBUAT OLEH DAN MENJADI TANGGUNGJAWAB PENULIS.

Siapa Yang Menilai Tulisan Ini ?