Sofyan Salim
Sofyan Salim pelajar/mahasiswa

Proud to be a Muslim | Manusia "miskin," yang "rakus" Ilmu! |\r\n=========================\r\nBlog :http://sofyanmsalim.blogspot.com/ |

Selanjutnya

Tutup

Ubud Writers & Readers Festival, Jurunarsis, dan Berita - Berita

2 November 2015   22:53 Diperbarui: 3 November 2015   00:25 117 4 0

Ubud Writers & Readers Festival, Jurunarsis, Dan Berita - Berita Oleh Sofyan Salim

Ubud Writers & Readers Festival (URWF) adalah festival tahunan bagi para penulis dan pembaca (jika dilihat dari arti bahasanya) yang perhelatannya selalu “damai” selama 12 tahun terakhir. Festival itu kembali dihelat di daerah Ubud, Bali, Oktober 28 – November 1 (dirubah menjadi 29 Oktober - 1 November), 2015. “Kopdar” istimewa bagi para penulis, penerbit dan “insan kutu buku” untuk berjumpa, berbagi dan bertukar pikiran (serta tanda tangan fans atau konsesi, dlsb). Menurut keterangan di halaman About pada situs URWF, bahwa misi dari ajang tersebut adalah menciptakan festival kelas dunia, merayakan kisah – kisah yang luar biasa, mengumandangkan suara keberanian, dan menangani/mendiskusikan/memecahakan persoalan - persoalan global beserta ide –ide besarnya. Ajang ini menurut mereka terbesar dan terkenal di Asia Tenggara sebagai panggung budaya dan sastera. Terekanal di seantero Asia Tenggara, namun, belum tentu terkenal dikalangan “kutu buku” Indonesia secara keseluruhan (umum).

Partners—atau bisa dibilang sponsor—utama pada periode ini adalah Planet Wheeler organisasi philanthropic (dermawan) dari Maureen and Tony Wheeler, sang penulis top bidang pariwisata serta pemilik penerbitan Lonely Planet Publications yang menerbitkan “buku jalan – jalan!” Kemudian Hivos, sebuah persekutuan untuk menangani persoalan – persoalan sosial di seluruh dunia. Terakhir adalah US Embassy (kedutaan besar Amerika) yang tak perlu lagi dijelaskan! Sementara dari Indonesia, ada Adi Kusma dengan Biznetnya (gold partners), Wonderful Indonesia (bronze partners), Teh Kotak (festival partners), dan lain – lain (sekitar 138 partners dengan masing – masing kelasnya, bisa lihat disini).

Acara tersebut seharusnya diselenggarakan pada 28 Oktober - 1 November, 2015 (lihat disini). Panitia kemudian menyusun daftar acara pembukanya (menjadi) pada tanggal 27 Oktober, dengan tema: Art Exhibition, The Act of Living. Susunan acaranya kemudian dirubah lagi, alsannya karena "pengawasan dari otoritas lokal yang memiliki wewenang untuk mencabut izin, melalui kepolisian nasional." Panitia berdalih bahwa panitia, pemerintah dan pihak kepolisian telah berdiskusi secara panjang lebar, dan "otoritas" kemudian menyarankan untuk menghilangkan beberapa program acara. Dalih tersebut dituliskan dalam catatan dengan judul "Notice regarding select Festival program changes." Anehnya, tidak ada keterangan dari kepala "otoritas lokal" mapun pihak kepolisian tentang "saran otoritas untuk menghentikan beberapa program acara." Catatan tersebut diterbitkan 23 October 2015.

Dibawah judul "Like oil and water, censorship and writers festivals don't mix" atau Ibarat Air dan Minyak, Sensor dan Festival Penulis takkan menyatu. Janet DeNeefe, sang founder UWRF menulis kegalauannya di sebuah media Australia (SMH, Sydney Morning Herald). Dalam tulisannya itu, ia membahas bagaimana UWRF berdiri, awal kedatangannya ke Indonesia, latar tentang mengapa ia mengangkat persoalan 65, para penulis Indonesia yang katanya akan bereaksi akan berita ini (baca sensor), kesedihannya karena acara yang terkait dengan 65 terpaksa harus dibatalkan, dan rasa prihatinnya akan nasib korban 65. Tulisan ini seperti tulisan "Notice regarding select Festival program changes" yang di terbitkan di situs UWRF namun dengan tambahan yang cukup dramatis! Curahan hati tersebut diterbitkan 24 Oktober 2015.

Para jurunarsis dunia akhirnya mendengar kabar tersebut. CNN Indonesia (Pembatalan 'Sesi 1965' di Ubud Writers, Bentuk Sensor Baru?, yang ini lebih heboh: Penyelenggaraan Ubud Writers Terancam Teror 1965); The Guardian (Censorship is returning to Indonesia in the name of the 1965 purges) ditulis oleh orang Indonesia; ABC (Message to Joko Widodo: Strong nations don't censor writers festivals); dan lain - lain (lihat disini). Intinya, dalam setiap berita - berita tentang "sensor" itu, tidak ada yang memuat surat izin acara (lengkap dengan nomornya) dari polisi sebagai bukti otentik bahwa ada pelarangan dalam program acara yang terkait dengan peristiwa 65. Hal demikian diperkuat oleh keterangan Kapoleres Gianyar, bahwa tidak ada tekanan atau larangan terkait sesi 65, panitia sendiri yang membatalkannya. Beliau mengatakan jika kepolisian melarang (sensor), maka sejak awal kesepakatan mereka akan membatalkan program terkait 65. Namun katanya, mereka (otoritas) tidak tahu menahu terkait program tersebut. Lain tanah lain rasa, menurut Ketua Program Nasional UWRF 2015 I Wayan Juniarto yang akrab dipanggil Jun, bahwa pemerintah setempat, kepolisian dan lain sebagainya telah menyarankan mereka untuk fokus saja pada tujuan festival, "Diskusi tentang peristiwa 1965 dianggap tidak berhubungan dengan promosi pariwisata dan budaya sama sekali,” ujar Jun. Ia pun menambahkan bahwa "Jika masih ada diskusi-diskusi tentang 1965, mereka tidak akan memberikan rekomendasi untuk izin.” Pernyataan Jun saya kutip dari Rappler.com dengan berita dibawah judul "Kronologi pembatalan diskusi tragedi 1965 di Ubud Writers & Readers Festival," diterbitkan 29 Oktober, 2015. Kontradiksi pemberitaan itu membuat saya teringat akan kata Eliza Vitri Handayani: "ada jurang antara yang diberitakan dan yang sebenarnya terjadi."  

Sebenarnya bukan hanya terkait sesi 65 yang dibatalkan, sesi yang tidak terkait dengan peristiwa 65 pun dibatalkan panitia, diantaranya: Workshop tentang Yoga For Writers yang diisi oleh novelis terkenal dari India Ira Trivedi, For Bali tentang persoalan Reklamasi Teluk Benoa yang diganti dengan masalah Asap (lihat susunan acaranya). Dalam susunan acaranya, memang terdapat banyak sesi tentang peristiwa 65, jumlahnya sekitar 6. Akibat banyaknya sponsor (baca 138 partners), maka panitia pun tidak mau kehilangan muka, mereka pun mengumumkan kepada dunia terkait "sensor sesi 65" yang diawali dengan Catatan mengenai pembatalan program, curhatan hati sang direktur di situs SMH (Sydney Morning Herald), serta berita - berita media Internasional lainnya. Dalam tulisannya di (SMH) ia mengatakan bahwa rekonsiliasi terkait peristiwa 65 yang belakangan menjadi topik menarik di Indonesia membuatnya tergerak. Ia pun mengangkat topik tersebut dalam perhelatan UWRF tahun ini, yang terpaksa harus dibatalkan.

Festival kelas dunia pun akhirnya kalah kelas dengan acara salah satu stasiun TV Nasional yang tayang seminggu sekali yakni, Indonesia Lawyers Club yang dengan gagah membahas peristiwa 65 di bawah tema yang cukup bohai "50 Tahun G30SPKI: Perlukah Negara Minta Maaf?" yang disiarkan tanpa sensor, dihadiri oleh Ilham Aidit (anak DN Aidit), Amelia Yani (anak Jenderal Ahmad Yani), dan Chaterine Pandjaitan (anak Brigadir Jenderal Donald Izacus Panjaitan). Manajemen Ubud Writers & Readers Festival tampaknya harus belajar bagaimana mengemas acara terkait peristiwa 65 pada manajemen ILC yang presidennya Karni Ilyas itu! Oya, saya lupa ini festival Internasional, sponsornya banyak, otomatis penghasilannya banyak juga, jika dipaksakan maka eksistensinya bakal terancam pula! Bukankah misi mereka adalah menguatkan suara - suara yang berani. Ataukah mereka takut rugi? Ah, jangan.., jangan berburuk sangka! Festival tersebut untuk Indonesia dan orang Indonesia, entah orang Indonesia miskin, menengah atau orang kaya saja! Masih bias!