GONG2017
GONG2017 kenek dan supir angkot

Kenek dan Supir Angkot. Peace.

Selanjutnya

Tutup

Cerpen highlight

Cerpen | Mata Tengkulak

20 Maret 2017   15:39 Diperbarui: 20 Maret 2017   15:50 238 15 8
Cerpen | Mata Tengkulak
Kompasiana image by GONG2017

Residivis! Stigma itu dari kaum feodal kolonial, melekat di tubuhku meski hanya satu kali aku melakukan kesalahan di hidupku, di langkahku di keputusanku, untuk kepentingan publik Desaku. Paceklik di musim kemarau panjang. Lahan kering mata air tertidur sejenak.

Kaum tengkulak hidup mewah menimbun pangan hingga air. Bendungan dikuasai, mengairi lahan produktif mereka, ladang, kebun, sawah dan industri milik mereka. Dari rempah, bahan pokok hingga buah-buahan dikuasai sistem monopoli di jalur perdagangan kaum tengkulak kolonial itu.

Perlawanan! Tak ada kata lain. Menghimpun kekuatan massa alap-alap, membuat sodetan dari Timur ke bagian belakang dari bawah tanah danau, arah berlawanan Baratnya bangunan bendungan. Sodetan itu berada di antara dua bukit Cakra dan Setaman. Pekerjaan berisiko. Kami membuat lubang gua bertahap berdiameter cukup besar. Dari terusan celah dua bukit menembus dinding bukit didepannya searah jalan air melalui sodetan itu.

Setelah air mengalir menuju gua air buatan, menurun bagai air terjun, masuk ke Situ-situ kecil tampungan air buatan kami. Himpunan pasak bambu saling mengikat, di susun satu persatu berjumlah cukup banyak berfungsi penahan tanah di dalam gua agar tak longsor. Instalasi gua air menjulur menembus dinding bukit di depannya.

Aliran air terarah melewati lorong gua. Setelah dari Situ, mengalirkan air langsung ke sumur-sumur berfungsi sebagai sumber tampungan telah disiapkan di masing-masing rumah penduduk, Seterusnya mengalirlah air menuju rumah penduduk di lereng bawah, berkelanjutan hingga menuju desa berikutnya menggunakan teknik bambu sebagai saluran air, menuju rumah-rumah penduduk bertanah datar di bawahnya dan seterusnya di bawahnya lagi.

Gotong-royong telah ditentukan, air sampai di rumah penduduk sebagaimana telah direncanakan, diteruskan dengan Instalasi bambu ke sumur kecil di masing-masing lahan warga bertanah datar dan seterusnya, penduduk dipersilakan membatasi dirinya mengambil kebutuhan sejumlah air untuk keperluan mereka. Di instalasi bambu itu air mengalir deras, ke lahan tanaman pangan dan keperluan lainnya. Semua gembira dan cerah ceria.

“Aku bertanggung jawab penuh”. Joran menegaskan pada Paman Sadikun. “Para tengkulak itu terlalu kenyang memperdaya penduduk Desa kita. Ini perlawanan sederhana tanpa pertumpahan darah, telah berhasil dengan seksama”. Joran lebih menegaskan. “Apakah Ibumu telah merestui?” Suara Paman Sadikun datar dan tegas.

“Aku akan jelaskan apa adanya. Bapakku mati diracun, tak jelas oleh siapa. Itu pelajaran pahit bagi keturunan keluarga kita.” Joran seperti menyala suaranya.

“Aku paham. Kau siap melawan kekuasaan terlalu besar itu. Jangan jadi pahlawan pencari nama. Bapakmu almarhum calon Kepala Desa lurus budi. Teladani sikapnya.”. Paman Sadikun suaranya bergetar. “Bagaimanapun niat baikmu, upaya air untuk penduduk itu telah sukses, tetap berpredikat mencuri, melawan hukum ketentuan mereka.” Sadikun tegas.

“Ya. Aku mencuri berkat Tuhan untuk penduduk desa-desa kita. Dicuri kaum tengkulak itu. Lalu aku ambil kembali. Di mana salahnya. Aku siap jadi tumbal Desa ini.” Suara Joran mengendalikan gejolak dalam diri.

Keduanya hening. “Memang. Para tengkulak itu keterlaluan. Untuk kepentingan pemilihan tahun depan, mereka membiayai Pak Kamit, konon akan nyalon lagi jadi Kepala Desa ini, keempat kalinya. Kamit, melakukan kunjungan, mendukung Pemangku Desa Kalalen nun di sana. Pesta ala raja-raja. Kamit, tak menghormati publik Desa ini, meninggalkan tugas dan tanggung jawab begitu saja”. Pada suara Paman memberat.

“Kabar keberangkatan empat puluh ekor kuda, Pengayom dan Cantrik bermuka dua, beberapa abdi Kepala Desa, menyertai kunjungan itu, menurut laporan mata-mata alap-alap. Mereka dipinjami pengawal, atas kuasa para tengkulak itu. Kamit seperti raja kecil keluar dari Istana.” Geram suara Joran. Lanjutnya lagi. “Kehormatan, apa dicari di Desa Asing itu. Kamit dan para pengikutnya telah melanggar tradisi nenek moyang desa kita, tak menghormati tata laku Desa ini, arogan dan hedonis.”

Malam di puncak bukit semakin terasa membeku sedingin perasaan Joran dan kekhawatiran Pamannya. Udara mendekati sedingin inti es akan meledakan badainya. Keduanya termangu menatap keindahan panorama malam desanya. Ditemaram rembulan terasa sejagad. Paman Sadikun menarik napas, mengepulkan asap rokok kelobotnya ke udara, memainkan asap, bagai sirkus politik mengudara, mencari pangsa pasar berbunga kapital, berterbangan kian kemari, seperti memberi jawaban, pertanda sesuatu akan terjadi.

“Lintang melintas berekor merah darah. Joran. Firasatku tak nyaman. Lebih baik kita berlatih. Rembulan sedang jatuh cinta membabi buta pada berjuta gemintang”. Sret! Paman Sadikun melepaskan jurus serangan, bertubi-tubi, dengan depa menjepit. Bhatara Kala Gugat, jurus pamungkas turun temurun keluaraga Ayah Joran, kakak Sadikun. Joran terdorong, terdesak, terhuyung kehilangan kendali. “Gunakan Jurus Prana Mukti, stabilkan keseimbanganmu”. Aba-aba Sadikun.

“Siap Paman. Awas!”. Joran, menekan balik dengan kekuatan dua jurus sekaligus Prana Mukti dan Sukma Harum, lawan seperti mencium wewangian, lama kelamaan akan memabukan dan berhalusinasi. “Ha ha ha Putra Si Kentir, Ayahmu telah mewariskannya, cerdas juga. Sigap! Awas! Jurus sikap, Panah Geni. Jaga dadamu”. Blaf! Sret! Gebyar! Joran terhuyung, tiga depa, segera menahan dengan jurus, Naga Pesona. “Stop!”. Suara Eyang Agung bergema.

“He he hek hek…”. Eyang terkekeh. Suara khasnya. “Kalian berdua seperti mau perang badar saja. Untuk apa mengurus penjahat kecil semacam Kamit. Dia cuma kutu ompong pelaksana tugas sebagai abdi para tengkulak wedus gembel. Dia sudah tak memiliki kehormatan pada tradisi tatanan baik nenek moyangnya. Dia tidak punya malu. Tak perlu dibasmi. Biarkan karma memberi jalan terbaik untuk Kamit.” Suara Eyang dan nyengir ngeledeknya.

“Menghaturkan sembah Eyang.” Keduanya memberi hormat.

“Ungsikan penduduk. Sekarang. Segera. Secepat-cepatnya. Tak usah bertanya”. Tegas Eyang Agung, tubuhnya seperti bercahaya lalu lenyap.

Joran dan Sadikun, menuju pos jaga di gerbang Desa. Bertemu beberapa kerabat Desa, sedang tugas siskamling. Tak ada tanya jawab apapun. Segera di beritakan kepada penduduk semua Desa, agar mengungsi waktu itu juga. Berbondong dalam sunyi malam, semua dalam kabut, di senyap, menuju puncak Bukit Kembar Utara hingga Selatan.

Joran dan Sadikun, memberi tahu kurir alap-alap, bahwa dia akan bertemu penduduk di Bukit Kembar. Joran dan Sadikun menuju kediaman Kepala Desa, namun dihadang para pengawal di regol kediaman Kepala Desa itu. Melihat situasi rawan marah, Sadikun menengahi. “Tenang Ki Sanak. Kami hanya akan memberi kabar baik kepada Kepala Desa. Jika tidak boleh. Baiklah kami akan pulang”. Suara Sadikun berat mengguncang malam.

Pengawal itu menghardik bergaya preman oportunis sana sini oke terpenting duit di tangan. “Apa keperluanmu begundal”. Sadikun dengan sabar menjawab. “Hanya akan mengabarkan kepada Kepala Desa. Tidak kepadamu”. Sadikun dan Joran serentak membalikan badan, meninggalkan kediaman itu. Tak terduga, dua pengawal melempar tombak menukik ke tengkuk Joran dan Sadikun. Slap! Gubrak! Gedebuk! Dua pengawal itu terpental jungkir balik, berteriak. “Aduh! Tobat! Dasar jaran!”.

Keduanya terus berjalan meninggalkan dua pengawal masih mengaduh, berteriak kesakitan. Lagi, serangan bertubi-tuibi dari dua pengawal lainnya, menuju Sadikun dan Joran. Lagi, kegaduhan teriakan kesakitan menggema. “Siapa di luar!” Teriak suara dari dalam kediaman Kepala Desa.

Joran dan Sadikun menghentikan langkah. “Kami, Joran dan Sadikun, akan memberi kabar baik”. Teriak keduanya.

“Malam larut begini nyelonong! Ke rumah petinggi Desa!”. Suara menghardik.Temaram nyala obor sekitar kediaman itu, tampak sosok Kepala Desa, gemuk bulat seperti hewan potong, berkaca mata. Terjadi perdebatan sengit. Kepala Desa, menolak mengungsi, jika tanpa alasan rasional.

“Kami berniat memberi kabar baik”. Kata Sadikun. “Tak satupun bisa memerintahku!”. Bentak Kepala Desa. Keduanya segera melesat meninggalkan kediaman Kepala Desa. Di kejauhan terurai suara gemuruh, suara badai. Gelegar petir bersahutan menjadi raksasa.

Karma, sebuah kepastian pernyataan logis dari suatu siklus waktu. Alam Besar menyimpan catatan-catatan. Gelegar menghantam! Bendungan jebol. Banjir bandang dahsyat menambah luasnya Danau Bendungan itu. Desa terendam. Penduduk telah mengungsi. Badai mereda di waktu bersauh, hening gemintang. Entah, nasib Kepala Desa, juga para tengkulak di rumah-rumah besar itu, tak tertulis di sejarah Desa, terkubur di dalam Danau.

Para penduduk berkumpul di bentangan ketinggian Bukit Kembar dari Utara ke Selatan. Hutan-hutan mendesis angin, memberi makna perubahan peradaban, subak tersusun indah di bawah matahari. Eyang Agung telah menyiapkan segalanya bagi penduduk Desa.

“Puluhan tahun silam. Aku dan Sadikun ditangkap petugas resmi kolonial, dituduh menjebol Bendungan itu”. Suara hati Joran terus bergema di kabut ketinggian Bukit Kembar. Di sejarah seluas Danau itu.

Bahagia bagi Joran dan Sadikun, menjalani tuduhan hukuman berat. Sadikun wafat di penjara kolonial. Eyang Agung, terus mengawasi dari ruang dan waktu.

Joran dan Sadikun dikenang, di ujung-ujung pepadian, di oksigen, di embun, di dedaunan, di tembang, macapatan, kinanti, serat centhini, di kisah-kasih anak cucu, menakjubkan, bagi murid-murid sekolah di Bukit Kembar, di serat lontar para sesepuh Desa Danau Teratai, di kabut itu. Hening.

Jakarta, Indonesia, March 20, 2017.