Giri Lumakto
Giri Lumakto Dosen

Pensadora, a thinker | Pemerhati pendidikan literasi digital, teknologi, bahasa, dan budaya | Solo - Wollongong | Personal blog: lumakto.blogspot.co.id | tweet: @lumaktonian |email: lumakto.giri@gmail.com

Selanjutnya

Tutup

pilihan headline

Kampanye Hitam, ASMR, dan Viralitas

13 Maret 2017   20:00 Diperbarui: 14 Maret 2017   08:16 319 12 3
Kampanye Hitam, ASMR, dan Viralitas
Mastermind - ilustrasi: motivationhere.com

Jika sudah membaca frasa 'kampanye hitam' fikiran kita berisi negasi pada Pilkada. Hampir setiap Pilkada yang ada selalu aja menjadi ajang gelut calon pemimpin. Dengan otak-atik media kampanye yang kian ciamik. Muncullah otak-atik cara yang licik pula. Mungkinkah dalang kampanye hitam senang melakukan hal ini? Lepas dari motif ekonomi dibalik kampanye hitam. Bukankah kampanye hitam disangsikan akal sehat dalangnya pula. Plus, medsos yang kini menjadi 'kebutuhan primer' digital native. Kini menjadi media yang viral dan tepat menyasar para pemilih.

Mungkinkah dalang dan kita dihinggapi ASMR saat menyaksikan dan mendengar kampanye hitam? Dengan gegap gempita kita pun viralkan dengan share di FB, Twitter, IG, dll. Semua tanpa perlu cek dan ricek kebenaran.

Ada kabar berita tentang jenazah pemilih salah satu cagub DKI yang ditolak diurus jenazahnya. Ada pula video viral menyoal bai'at ibu-ibu untuk memilih salah satu Cagub DKI. Atau video salah satu Cagub yang diduga menghina ayat suci diputar berulang-ulang pada detik itu-itu saja. Atau isu SARA, PKI, antek asing, dan pro-konglemerat terus di-spin dalam kampanye hitam untuk menjegal salah satu calon. Semua menjadi 'bumbu' yang kadang lebih enak dari 'hidangan' dalam Pemilu dan Pilkada.

Apa yang kita rasakan saat mendengar atau menonton berita seperti ini. Sebagai pendukung salah satu calon pasti antusias. Banyak yang bersorak dengan kicauan atau like. Seolah ada perasaan 'mengalahkan' salah satu calon setelah membuat berita tadi viral. Mereka merasa 'berjasa' telah menyebarkan borok salah satu calon. Ada perasaan (mungkin) bangga dan senang. 

Inilah fenomena ASMR yang mungkin kita tidak sadari. ASMR sebenarnya mungkin sering kita alami. ASMR atau Autonomous Sensory Meridian Response adalah sebuah perasaan euforis ringan. ASMR muncul saat indera penglihatan dan pendengaran terlibat. Saat kita melihat video sebuah minuman cola dingin saat hari panas. Ditambah 'desisan' cola yang menimbulkan buih saat dituang ke dalam gelas penuh es. Ada perasaan ingin bahkan 'merinding' untuk bisa meminumnya bukan.

Mungkin inilah yang terjadi saat dukung mendukung calon pemimpin. Ada perasaan senang saat melihat ada 'borok' salah satu calon pemimpin. Dia itu tidak sempurna seperti malaikat atau nabi. Intinya, jangan pilih dia. Pilih calon saya. Dan tidak lupa share ke media sosial. (Baca artikel saya: Menyelami Fenomen 'Komen, Amin, Like dan Share')

Maka viral-lah berita atau video. Satu kelompok akan bertepuk tangan saat publik tahu. Sanggahan dan verifikasi pihak kontra malah menjadi bahan bakar debat kusir. Twitwar pun kadang terjadi. Adu komen di kolom post FB menjadi 'medan umpatan' pendukung pro vs kontra. 

Rasa senang mengungkap borok menjadi rasa cinta. Tiap pendukung memiliki caranya sendiri untuk membela. Tidak ingin kalah atau mengalah semua ingin membuktikan. Walau kadang jatuhnya berita atau video yang disebar ternyata hoax dan editan. (Baca artikel saya: Telisik Berita Hoax dengan Digital Dieting)

Seperti sebuah idioma 'catching tail'. Semua tidak ada akhirnya dan hanya jadi permainan saat semua berakhir. Saat perasaan ASMR sudah terlibat dalam dukung-mendukung. Kadang urusan menjadi semakin personal. Dari mulai dikucilkan di lingkungan sampai tidak diurusi jenazahnya bisa saja terjadi.

Apa kampanye hitam menjadi ring tinju? Sebenarnya kita yang menyuraki jagoan kita? Atau kita yang sebenarnya diadu domba? Viralitas medsos menjadi anak panah yang kian tepat mengarah target. Karena sifatnya yang personal dan real time, medsos pun menjadi media adu domba. (Baca artikel saya: Divide Et Impera ala Sosmed)

Fenomena ini pun menjadi hidangan yang tidak lepas saat pemilihan pemimpin. Maukah kita terus dihinggapi perasaan senang saat mengungkap aib seseorang. Alih-alih saling menasehati dalam kebaikan. Kini (dengan sosmed) umat saling merasa paling benar. 

Filter dengan baik berita di sosmed. SIlahkan libatkan ASMR. Namun ada baiknya cek dan ricek dengan yang akan kita share (Baca artikel saya: Hati-Hati dengan Ndasmu).

Referensi: asmruniversity.com

Salam,

Wollongong, 14 Maret 2017

12:00 am