PILIHAN HEADLINE

Hebat, Iklan Rokok Kini Sudah "Bebas" Seliweran di TV

20 April 2017 10:42:56 Diperbarui: 20 April 2017 11:50:02 Dibaca : 501 Komentar : 14 Nilai : 15 Durasi Baca :
Hebat, Iklan Rokok Kini Sudah "Bebas" Seliweran di TV
TV Mind Control - ilustrasi: elbdisliker.at.ua

Adalah sebuah keprihatinan saat iklan rokok kembali tayang sebelum pukul 9:30 malam. Saat aturan ini sudah jelas digariskan PP 109/2012 tentang Iklan/Promosi Iklan Rokok, para produsen pintar-pintaran 'menyesatkan' kita. Pada Pasal 29 tegas tertulis jika iklan rokok hanya boleh disiarkan setelah pukul 21:30-05:00. Detail-detail menyangkut promosi iklan baik dalam penyiaran maupun non-penyiaran sudah jelas digariskan. Namun, ada saja cara produsen rokok 'meracuni' televisi dengan iklan rokok, sepanjang hari.

Saya sudah beberapa kali menyaksikan iklan rokok tayang pagi, siang atau sore hari. Banyak yang menyadarinya secara sub-conscious. Namun, tidak banyak yang bisa mengonkretkannya dengan kata. Karena tampilan grafisnya begitu keren. Ditambah, 'bungkus' iklan rokok pun tidak menunjukkan iklan rokok. Jika kita lihat iklan rokok di atas pukul 10 malam, iklan ini memakai pembungkus yang jelas.

Kenapa iklan ini bisa berseliweran di TV di luar jam tayang? Mungkin itu pertanyaan kita sekarang. Bukankah sudah ada larangannya? Benar adanya larangan dan batasan sudah dipatuhi. Namun, apa yang terjadi adalah simbolisasi inklandestin dari rokok itu sendiri yang kini ditayangkan.

Saya ambil contoh sederhana seperti kasus 'simbol' palu arit pada duit pecahan 100 ribu. Bagaimana isu ini menjadi viral dan meresahkan adalah karena asosiasi simbol dalam kepala kita yang begitu aktif. Kita akan cenderung mengingat dan mengasosiasikan simbol/nuansa/rasa/nada, dll. dengan pengalaman. Simbol di pecahan 100 ribu yang diduga (dengan visualisasi kreatif) adalah palu arit adalah kreativitas pikiran kita. 

Pecahan 100 RIbu - foto: republika.com
Pecahan 100 RIbu - foto: republika.com

Jika simbolisasi palu arit adalah latensi bangkitnya komunisme menjadi isu yang tabu. Maka dengan iklan rokok, hal ini berbeda end product-nya. Karena rokok menjadi kebutuhan primer bagi sebagian orang, tidak ada yang begitu signifikan. Ditambah kerugian isu ekonomis di mana ribuan pekerja dan petani tembakau tergantung penjualan rokok. Di satu sisi, isu ini menjadi signifikansi bagi para penggiat anti rokok dan kesehatan. Maka muncullah aturan yang mengatur dan mencari solusi win-win kedua belah pihak.

Namun, pihak yang kontra tampaknya saat ini sudah bingung untuk melihat fenomena simbolisme inklandestin iklan rokok.

Iklan rokok kini berbungkus beasiswa, pertandingan olahraga, ajang olahraga ekstrem, dll. Kenapa iklan-iklan ini saya sebut juga iklan rokok? Pada penampakan literalnya, iklan seperti ini memang tidak sama sekali menyinggung PP 109/2012. Namun, yang bermain di kepala kita adalah kreativitas simbolisasi.

Cobalah baca kata-kata dengan tanda asterik berikut: 

Dja** atau Sur**P**

Tanpa tanda asterik pun kita tahu nama lengkap produk tadi. Bahkan, warna font, borderline font, warna background font iklan rokok ini ada di dalam pikiran kita. Ditambah, iklan-iklan rokok non-penyiaran pun begitu sering kita lihat. Di baliho, di warung kelontong, di spanduk toko atau pasar, dsb. Iklan-iklan non-penyiaran dengan brand produk rokok yang tanpa tedeng aling-aling dikonsumsi pikiran kita, menambah kreativitas inklandestin simbol. 

Mungkin saja anak SD yang tidak paham iklan beasiswa Dj*** akan tahu bahwa beasiswa tersebut dari produsen rokok. Karena mau-tidak mau, faktanya brand rokok jelas terpampang di iklan beasiswa. Dengan ejaan lama dan font yang serupa dengan apa yang anak ini lihat di spanduk atau baliho di depan sekolahnya.

Begitu pun dengan iklan-iklan rokok dengan bungkusan yang 'kreatif'. Saat simbolisasi produk/brand/nama rokok menjadi konsumsi pikiran sehari-hari di luar tayangan TV. Maka akan sangat mudah mengafirmasi pikiran kita dengan iklan-iklan yang kita anggap 'bukan iklan rokok'. Pikiran bawah sadar kita akan dengan mudah mengasosiasi simbol-simbol ini. Dan kembali, masih banyak dari kita yang mengganggap iklan ini bukan iklan rokok!

Sepertinya pun secara aturan hitam di atas putih, aturan soal bungkus berbeda iklan rokok ini belum diatur. Atau memang sengaja tidak dibuat? Semua agar ada loop (celah) yang cukup para produsen rokok menyugesti pikiran kita dengan produknya. Aturan menyoal simbolisme baru ini dibuat nanti-nanti saja, 2, 3, 4 atau 5 tahun lagi. Saat pikiran kita sudah begitu hafal dengan brand rokok yang ada, secara tidak sadar.

Apakah kita pemirsa belum cukup prihatin dengan semua ini? 

Salam,

Wollongong, 20 April 2017

08:43 pm

Giri Lumakto

/girilu

TERVERIFIKASI

Pensadora, a thinker | Pemerhati pendidikan literasi digital, teknologi, bahasa, dan budaya | Solo - Wollongong | Personal blog: lumakto.blogspot.co.id | tweet: @lumaktonian |email: lumakto.giri@gmail.com
Selengkapnya...

KOMPASIANA ADALAH PLATFORM BLOG, SETIAP ARTIKEL MENJADI TANGGUNGJAWAB PENULIS.

NILAI :

Daftarkan email Anda untuk mendapatkan cerita dan opini pilihan dari Kompasiana