HEADLINE FEATURED

Cerita di Balik Menikmati Hari Waisak di Borobudur

07 Mei 2012 01:54:41 Diperbarui: 11 Mei 2017 01:03:16 Dibaca : Komentar : Nilai : Durasi Baca :
Cerita di Balik Menikmati Hari Waisak di Borobudur
Para Bikhu dan Bikhuni saat berada di Altar Puja bakti (Dokumentasi Pribadi)

Candi Borobudur dan Candi Mendhut, menjadi pusat perayaan hari raya waisak bagi umat Buddha, kemarin, minggu (6/5). Perayaan tersebut masih ditentukan dengan perhitungan bulan. Berdasarkanperhitungan perputaran bulan, Waisak 2012 jatuh pada pukul 10.34.49 WIB, kemarin, bertepatan dengan bulan purnama yang kali ini secara khusus posisi bulan di jarak terdekat dengan bumi. Hingga saya berniat datang dari Yogyakarta dengan menggunakan sepeda motor bersama teman, untuk menyaksikan perayaan tersebut di Candi Mendut dan Candi Borobudur.

Gong khusus ditabuh tiga kali oleh Biksu Wongsin Labhiko Mahathera didampingi Biksu Tadisa Paramita Mahasthavira di depan altar dengan patung Sang Buddha Gautama di tengahnya. Saat itulah dimulai segala prosesi perayaan, dimulai dengan meditasi detik-detik Waisak 2012. Mereka melakukannya di Pelataran Candi Mendut, sekitar tiga kilometer dari Candi Borobudur, Kabupaten Magelang, Jawa Tengah.

Tampak umat Buddha bersama para biksu memasuki keheningan bersama. Mereka duduk bersila, dengan sikap badan tegak menjalani apa yang dibilang meditasi tersebut. Mereka larut dalam suasana tenang, memusatkan fikiran, hingga pada tahta puncak perayaan Tri Suci Waisak 2012. Siang itu begitu terik, banyak warga yang tampak antusias menyaksikan prosesi tersebut.

Disela-sela prosesi, Biksu Tadisa yang juga sebagai Koordinator Vidya Kasabha DPP Walubi menyampaikan sebuah renungan Waisak 2012. Dirinya mengatakan kehadiran Buddha, bukan sekadar dikenang, dihormati, dipuja-puji, akan tetapi hendaknya semua makhluk hidup mempraktikkan darma Sang Buddha itu dalam kehidupan sehari-hari. Selepas segala prosesi di Candi Mendut, para biksu beserta umat beriringan melakukan arak-arakan menuju Candi Borobudur.

Pada saat arak-arakan tersebut berjalan, hujan mengguyur di wilayah Magelang.Sekitar pukul 13.00 WIB, sampai di depan Hotel Pondok Tingal sekitar pukul 14.00 WIB hujan deras. Tetapi, hal ini tidak menjadikan arak-arakan tersebut terhenti. Barisan kirab (arak-arakan) terdiri dari barisan pembawa bendera merah putih dan bendera Walubi. Kemudian, diikuti oleh kendaraan hias yang membawa relief Sang Buddha. Selain itu, ada pula mobil yang membawa Api Dharma dan air suci.

Tampak ada barisan Bikhu dan Bikhuni yang mengenakan caping, sambil membaca doa puja bakti. Terdapat juga barisan muda-mudi Umat Buddha yang mengenakan pakaian tradisional dari seluruh daerah di Indonesia. Beralih ke dalam area Candi Borobudur, sudah tampak ratusan warga yang datang dari penjuru wilayah telah memadati disetiap sudut tempat. Di area ini pun sudah didirikan beberapa tenda, yang digunakan oleh Umat Buddha melakukan ibadah. Saat saya berkeliling sembari menunggu mereka tiba di dalam area, saya juga sempat mendapati satu tenda yang ternyata sudah ada bikhu yang sedang melakukan ibadah. Dengan sigap, saya bersama fotografer dan pengunjung lain langsung mengabadikan moment tersebut.

Dibawah ini beberapa foto yang berhasil saya abadikan:

Ratusan warga memadati kawasan Candi Borobudur (Dokumentasi Pribadi)
Ratusan warga memadati kawasan Candi Borobudur (Dokumentasi Pribadi)
Umat Buddha khusyuk beribadah di salah satu tenda
Umat Buddha khusyuk beribadah di salah satu tenda
Altar Puja (Dokumentasi Pribadi)
Altar Puja (Dokumentasi Pribadi)
(Dokumentasi Pribadi)
(Dokumentasi Pribadi)
(Dokumentasi Pribadi)
(Dokumentasi Pribadi)
(Dokumentasi Pribadi)
(Dokumentasi Pribadi)
(Dokumentasi Pribadi)
(Dokumentasi Pribadi)
(Dokumentasi Pribadi)
(Dokumentasi Pribadi)

Setibanya kirab di area Candi Borobudur, mereka langsung menuju pelataran puja bakti, yang berlatar belakang Candi Borobudur. Disana sudah terdapat tempat beribadah, yang memang dikhususkan untuk perayaan Waisak, dan sudah menjadi tradisi. Prosesi ibadah usai pada pukul 4 sore, yang kemudian akan dilanjutkan kembali pada pukul 6 malam. Sebelum prosesi dimulai, banyak para pengunjung yang sudah bersiap-siap, berdiri mencari posisi untuk malam nanti mengambil moment. Tapi sayang, hujan masih mengguyur, hingga semua yang ada disana, berpayung dan berjas hujan.

(Dokumentasi Pribadi)
(Dokumentasi Pribadi)
Berpayung dan jas hujan, para pengunjung serta Umat Buddha tetap bersabar menanti dimulainya prosesi ibadah yang dimulai pukul 18.00 wib
Berpayung dan jas hujan, para pengunjung serta Umat Buddha tetap bersabar menanti dimulainya prosesi ibadah yang dimulai pukul 18.00 wib

Tepat pada pukul 6 malam, para Bikhu dan Bikhuni beriringan berjalan bersama menuju altar kembali. Dan mereka bersama-sama Umat Buddha melakukan meditasi kembali, untuk beribadah bersama. Pada saat mereka melakukan meditasi, saya merangsek maju menuju tengah, untuk mengambil moment tersebut. Selepas peribadahan, sekitar 300 bhiksu bersama ribuan umat Buddha kemudian melakukan pradaksina atau berjalan mengelilingi Candi Borobudur sebanyak tiga kali sambil membawa lilin.

Saya yakin, dari sekian banyak para fotografer dan pengunjung yang mengabadikan moment, aka nada 30 orang yang fotonya sama. Terutama, pada saat Umat Buddha beribadah malam hari. Karena, suasana disana lebih banyak para fotografer, daripada para pengunjung. Malam puncak perayaan Hari Raya Imlek pada pukul 8 malam, yang ditutup dengan pelepasan ribuan lampion (sayangnya pada saat moment ini, camera saya mati batrai habis).

Selamat merayakan Waisak, bagi yang merayakan. Semoga ucapan ini belum terlambat.

Beautiful and Amazing Moment, Yogyakarta -- Gilang Rahmawati

KOMPASIANA ADALAH PLATFORM BLOG, SETIAP ARTIKEL MENJADI TANGGUNGJAWAB PENULIS.

NILAI :

Daftarkan email Anda untuk mendapatkan cerita dan opini pilihan dari Kompasiana