HEADLINE HIGHLIGHT

Sejarah PON Berawal dari Ketersinggungan Bangsa Indonesia

14 September 2012 04:22:15 Dibaca :
Sejarah PON Berawal dari Ketersinggungan Bangsa Indonesia
sumber : merdeka.com

Adakah kaitan antara prestasi olahraga dengan harkat dan martabat sebuah bangsa? Jawaban sederhananya: ada. Ajang Olimpiade misalnya, medali bukanlah satu-satunya tujuan. Disana gengsi Bangsa dan Negara juga dipertaruhkan.

Pada Olimpiade ke-14 di London, (waktu itu Indonesia baru beberapa tahun merdeka) kehadiran atlet Indonesia ditolak oleh Inggris selaku tuan rumah. Alasannya, prestasi olahraga Indonesia waktu itu belum layak masuk ajang Olimpiade. Alasan sebenarnya bersifat politis. Inggris adalah sekutu Belanda. Belanda kala itu belum ikhlas atas kemerdekaan Indonesia.

Dari pihak Indonesia, Olimpiade London saat itu memiliki nilai strategis, yakni mau menunjukan kedaulatan dan kemerdekaan Indonesia kepada dunia. Maka, betapa tersinggungnya para Pemimpin Indonesia waktu itu tat kala keinginan untuk ikut Olimpiade, ditolak mentah-mentah. Harga diri bangsa Indonesia seakan dilecehkan.

Berangkat dari ketersinggungan itulah, tahun 1948 PORI (Persatuan Olahraga Indonesia) menggelar konferensi daurat di Solo dan memutuskan untuk menggelar Pekan Olahraga Nasional (PON), sebagai penanda bahwa Indonesia itu ada. Ruh kejuangan seperti itulah yang selalu menjadi daya hidup PON dari masa ke masa.

PON pertamapun digelar 9 September 1948. PON menjadi pertemuan para atlet untuk membulatkan tekad, menggalang solidaritas dalam semangat menggempur Belanda agar meninggalkan bumi Indonesia. Menurut Maulwi Saelan, dalam bukunya "Kesaksikan Wakil Komandan Tjakrabirawa", pada PON I para atlet mengokohkan tekadnya sebagai patriot bangsa yang siap bertempur membela dan mempertahankan kemerdekaan.

"PON ini sekaligus membuktikan bahwa olahraga kita mampu berbicara, bersikap patriotik, dan ikut menjalankan peran strategis dalam revolusi kemerdekaan," tulis Maulwi Saelan.

PON dan Masalah Papua

Penolakan Inggris, erat kaitannya dengan masalah Papua. Selaku sekutu Belanda, Inggris tentu mendukung Belanda untuk mempertahankan kekuasaannya di Tanah Papua. Konferensi Meja Bundar yang diteken di Den Haag pada tgl 22 Desember 1949 berulangkali diingkari Belanda. Yaitu, seluruh bekas jajahan Belanda adalah wilayah Republik Indonesia yang harus diserahkan ke dalam pangkuan NKRI, kecuali penyerahan Papua Barat akan dilakukan 2 (dua) tahun kemudian. Namun faktanya, sampai tahun 1963 Belanda terus bercokol di Bumi Cenderawasih, bahkan diam-diam mempersiapkan berdirinya ‘negara West Papua’ terlepas dari NKRI.

Menilik riwayat PON sebagaimana diuraikan di atas, jelas bahwa lahirnya PON ada kaitannya dengan status politik wilayah Papua. Pertanyaannya, setelah Papua berhasil dipertahankan tetap dalam bingkai Negara Kesatuan RI, bagaimanakah prestasi olahraga atlet Papua di ajang PON?

1347597574466280411
atlet dayung asal Papua meraih emas. (Foto: JUBI)
Dari data yang ada, prestasi terbaik mereka adalah urutan ke-5, yakni pada PON XIII. Setelah itu, posisinya terus merosot. Pada PON XIV Papua urutan 6, PON XV Papua urutan 7, PON XVI Papua urutan 7, PON XVII Papua urutan 11. Pada PON XVIII di Riau tahun ini, apakah Papua harus menduduko urutan ke-12?

Hingga tadi malam (13/9/2012)pukul 22.00 WIB, Jawa Barat masih kokoh di puncak klasemen dengan perolehan 32 medali emas, 28 perak, 35 perunggu. Diikuti Jawa Timur dan DKI Jakarta. Sementara Papua yang kita kenal sebagai ‘gudang’ atlet nasional, posisinya bergeser dari urutan ke-9 pada hari sebelumnya ke posisi 10 dengan 6 emas, 3 perak dan 5 perunggu. Dan Provinsi tetangganya, Papua Barat masih terpuruk di urutan ke-27 dengan 2 perak dan 1 perunggu.

Apa kendalanya?

Wakil Ketua Litbang KONI Papua, DR. Ferdinand Risamasu mengakui bahwa prestasi tim PON Papua dari PON ke PON terus menurun. Kendala utamanya adalah soal sarana dan prasarana yang berarti pula terkait erat dengan persoalan anggaran untuk menunjang atlet-atlet Papua ke arena PON.

Fasilitas Olahraga yang ada saat ini hampir semuanya peninggalan almarhum Acub Zainal semasa menjadi Gubernur Papua era 1970-an. Mulai dari GOR, fasilitas Angkat Besi, Bina Raga, tinju, renang dan lainnya. Ketika Barnabas Suebu menjadi Gubernur, hanya lapangan Mandala yang dipugar menjadi stadion sepakbola. Sementara fasilitas-fasilitas lainnya untuk cabang-cabang atletik belum tersentuh.

Barangkali tak salah kalau sedikit dari triliunan rupiah dana Otsus yang dikucurkan ke Papua setiap tahun, sebagian kecilnya disisihkan untuk membangun dan memperbaiki fasilitas olahraga, memperkuat aspek keorganisasian mereka untuk membina prestasi para atlet serta mengembangkan semua cabang olahraga di wilayah Papua. Supaya di tingkat Nasional orang Papua juga diberi kesempatan untuk naik panggung. Selanjutnya jika prestasinya terus digembleng akan dapat mewakili bangsa Indonesia di pentas Olimpiade. Agar seluruh bangsa di dunia mengakui bahwa Papua memang Indonesia, bukan yang lain.

gerry setiawan

/gerrisetia

TERVERIFIKASI (HIJAU)

aktivis jaringan epistoholik jakarta (JEJAK)
Selengkapnya...

KOMPASIANA ADALAH MEDIA WARGA, SETIAP KONTEN DIBUAT OLEH DAN MENJADI TANGGUNGJAWAB PENULIS.
FOKUS TOPIK PON RIAU KACAU?

Siapa Yang Menilai Tulisan Ini ?