PILIHAN HEADLINE

Menjajal Kereta Bandara di Kuala Lumpur

18 April 2017 17:11:13 Diperbarui: 23 April 2017 20:05:18 Dibaca : 224 Komentar : 2 Nilai : 3 Durasi Baca :
Menjajal Kereta Bandara di Kuala Lumpur
Interior kereta bandara di Kuala Lumpur. (foto pribadi)

Masyarakat Indonesia akan segera merasakan naik Kereta Bandar Udara Internasional Soekarno Hatta di Jakarta. Transportasi berbasis rel yang akan menghubungkan antara bandara tersibuk di Indonesia dengan pusat ibukota Indonesia ini ditargetkan mulai dioperasikan pada Juli 2017. Dengan jalur kereta yang membentang sejauh 36 kilometer (km) dari Stasiun Manggarai hingga Cengkareng dan rangkaian gerbong kereta yang mampu mengangkut hingga 3.500 orang per hari, pergerakan para penumpang pesawat dari Jakarta ke Bandara Internasional Soekarno Hatta maupun sebaliknya tentu akan semakin mudah.

Masyarakat sudah tak sabar menunggu kehadiran kereta bandara di Jakarta karena selama ini terus menerus mengeluh akan waktu yang harus ditempuh untuk menuju ke bandara dari tempat tinggal atau kantor mereka masing-masing. Saat ini mereka bisa menghabiskan hampir 2 jam untuk pergi ke bandara dari area sekitar Manggarai di jam-jam sibuk yang penuh kemacetan pada pagi dan sore hari. Kereta bandara nantinya mampu mengantarkan mereka dari Stasiun Manggarai ke bandara hanya dalam waktu 45 menit.

Stasiun kereta bandara di Cengkareng yang sudah hampir jadi. (sumber foto: kompas.com)
Stasiun kereta bandara di Cengkareng yang sudah hampir jadi. (sumber foto: kompas.com)

Sembari menunggu kereta bandara di Jakarta diresmikan oleh Presiden Joko Widodo, ada baiknya kita menengok moda transportasi serupa di ibukota negara tetangga kita. Jakarta memang bisa dibilang cukup tertinggal dalam hal ini karena Singapura, Kuala Lumpur dan Bangkok sudah punya transportasi rel yang menghubungkan bandara utama dengan pusat kota sejak beberapa tahun yang lalu. Kini kereta bandara menjadi salah satu transportasi andalan bagi masyarakat di kota-kota tersebut.

Minggu lalu, penulis berkesempatan menjajal kereta bandara di negeri jiran kita, Malaysia. Express Rail Link (ERL) mulai melayani warga Malaysia untuk menjangkau Bandara Internasional Kuala Lumpur (KLIA) dari Stasiun Terpadu Kuala Lumpur Sentral dan rute sebaliknya sejak tahun 2002. Ada beberapa hal yang bisa kita ambil sebagai pelajaran dari kereta bandara di Kuala Lumpur agar kereta bandara di Jakarta nantinya dapat nyaman dan aman digunakan.

Kereta bandara di Kuala Lumpur terbagi menjadi dua macam. Yang pertama adalah KLIA Ekspress yang secara non-stop menghubungkan dua terminal utama pada bandara (KLIA dan KLIA2) dengan Stasiun KL Sentral. Yang kedua adalah KLIA Transit yang menghubungkan bandara dan pusat kota dengan pemberhentian di tiga titik yaitu Bandar Tasik Selatan, Putrajaya/Cyberjaya dan Salak Tinggi. Jadwal keberangkatan kereta yang pertama setiap harinya adalah pukul 05.00 sedangkan kereta terakhir adalah pukul 00.00.

Dua tipe kereta bandara di Kuala Lumpur. (foto pribadi)
Dua tipe kereta bandara di Kuala Lumpur. (foto pribadi)

Perjalanan sepanjang 57 kilometres dari KLIA ke KL Sentral ditempuh selama 36 menit dengan KLIA Transit. Tempo yang lebih singkat, yaitu 28 menit bisa didapatkan oleh penumpang yang menggunakan KLIA Ekspress karena tidak perlu berhenti di tiga stasiun. Waktu selama itu tidak akan terasa karena penumpang duduk di kursi yang nyaman dengan suasana gerbong yang lega, pencahayaan lampu yang terang dan pendingin udara yang berfungsi dengan baik. Semoga saja semua komponen ini juga akan kita rasakan pada kereta bandara di Jakarta nantinya.

Pintu masuk pada KLIA Transit dengan rute perjalanan terlihat pada bagian atas. (foto pribadi)
Pintu masuk pada KLIA Transit dengan rute perjalanan terlihat pada bagian atas. (foto pribadi)

Berbicara tentang harga tiket, kereta bandara di Kuala Lumpur tidak bisa dibilang murah meriah. Untuk satu kali perjalanan dari Stasiun KL Sentral ke KLIA baik menggunakan KLIA Ekspress maupun KLIA Transit, penumpang harus mengeluarkan uang sebesar 55 Ringgit Malaysia (dewasa) atau 25 Ringgit Malaysia (anak-anak). Bila dikonversikan dengan kurs mata uang pada tanggal 14 April lalu (1 Ringgit Malaysia = Rp 3.017,00) maka jumlah itu setara dengan Rp 165.951,00.

Tiket KLIA Ekspress. (foto pribadi)
Tiket KLIA Ekspress. (foto pribadi)

Tiket KLIA Transit. (foto pribadi)
Tiket KLIA Transit. (foto pribadi)

Meskipun demikian, jumlah penumpang kereta bandara di Kuala Lumpur tetap banyak. Hal ini karena servis yang didapatkan penumpang memang sepadan dengan harga yang dibayarkan. Kereta datang dan pergi sesuai dengan jadwal yang tertera, alias tanpa keterlambatan satu menit sekalipun. Penumpang juga membandingkan dengan pengeluaran lebih besar yang harus dialokasikan bila pergi dari KLIA ke pusat kota Kuala Lumpur dengan taksi atau mobil pribadi.

Hal ini mengingatkan saya dengan adanya pro dan kontra yang muncul ketika Railink yang merupakan anak usaha PT Kereta Api Indonesia (KAI) dan PT Angkasa Pura II memberi tahu rencana harga tiket kereta bandara Soekarno Hata berada di kisaran Rp 100.000,00 hingga Rp 150.000,00. Banyak pihak yang mengatakan bahwa harga itu terlalu mahal dan justru malah membuat kereta bandara nantinya terancam sepi penumpang. Di lain sisi, banyak juga yang mendukung karena harga tersebut masih lebih murah bila dibandingkan biaya naik taksi dari Manggarai ke Bandara Soekarno Hatta.

Kita berharap apabila kelak harga tiket kereta bandara di Jakarta benar mencapai di atas Rp 100.000,00 sehingga hampir sama dengan kereta bandara di Kuala Lumpur, maka fasilitas yang diberikan juga harus berkualitas baik. Jadwal keberangkatan dan kedatangan kereta pun tak boleh sering molor, Dengan demikian, para penumpang tidak akan merasa rugi sudah mengeluarkan biaya yang tidak sedikit. Kepuasan konsumenlah yang akan menentukan ramai atau tidaknya penumpang kereta bandara di Jakarta nanti.

Etika menggunakan kereta bandara sebagai fasilitas umum juga perlu diperhatikan oleh masyarakat Indonesia nantinya. Belajar dari Malaysia, penulis sama sekali tidak menjumpai adanya sampah seperti botol air mineral yang habis dipakai maupun sisa tissue dan bungkus permen yang tergeletak di bawah kursi pada kereta KLIA Ekspress maupun KLIA Transit. Semuanya dibuang dengan tertib di tempat sampah yang telah disediakan. Tidak ada juga coretan-coretan iseng sebagai hasil perbuatan vandalisme yang nampak di kereta ini. Hal itu menambah nilai kenyamanan bagi seluruh penumpang, baik warga lokal maupun turis mancanegara.

Kereta bandara di Kuala Lumpur bersih dari sampah apapun dan coretan. (foto pribadi)
Kereta bandara di Kuala Lumpur bersih dari sampah apapun dan coretan. (foto pribadi)

Satu-satunya kekurangan dari KLIA Ekspress dan KLIA Transit adalah ketidakadaan  stop kontak atau colokan listrik yang ada di sisi kursi penumpang. Hal ini tentu disayangkan karena beberapa penumpang punya kebutuhan untuk mengisi daya baterai telepon seluler mereka selama perjalanan dari bandara ke pusat kota, maupun sebaliknya. Raut wajah kecewa dan kata-kata keluhan tak bisa disembunyikan oleh sejumlah penumpang yang putus asa karena tidak berhasil menemukan stop kontak di gerbong kereta bandara di Kuala Lumpur.

Pada masa dimana koneksi internet seolah sudah menjadi kebutuhan primer bagi masyarakat modern saat ini, gawai yang selalu terisi penuh baterainya adalah hal yang penting. Semoga kereta bandara di Jakarta nantinya tidak melupakan fasilitas yang satu ini. Sepertinya biaya yang diperlukan oleh operator untuk memasang fasilitas itu tidak mahal juga.

Demikianlah cerita dari menjajal kereta bandara di Kuala Lumpur. Kita tidak perlu gengsi untuk belajar dari negara tetangga yang lebih dulu punya infrastruktur ini. Selamat datang kereta bandara di Jakarta! Semoga kehadiranmu membawa manfaat yang besar bagi kita semua.

Gentur Adiutama

/genturtama

TERVERIFIKASI

Pecinta bulutangkis dan pengagum kebudayaan Indonesia
Selengkapnya...

KOMPASIANA ADALAH PLATFORM BLOG, SETIAP ARTIKEL MENJADI TANGGUNGJAWAB PENULIS.

NILAI :

Daftarkan email Anda untuk mendapatkan cerita dan opini pilihan dari Kompasiana