Gentur Adiutama
Gentur Adiutama Pegawai Negeri Sipil

Pecinta bulutangkis dan pengagum kebudayaan Indonesia

Selanjutnya

Tutup

Humaniora headline

Kisah Pemuda Perancis Menyelami Budaya Dayak

19 Maret 2017   19:44 Diperbarui: 20 Maret 2017   11:58 1187 15 7
Kisah Pemuda Perancis Menyelami Budaya Dayak
Guillaume Sanchez menari Dayak di Kalimantan Tengah. (sumber foto: Facebook Guillaume Sanchez)

Guillaume Sanchez adalah warga negara Perancis yang punya latar belakang sebagai seorang seniman. Di usianya yang masih muda, ia bertekad untuk melakukan sesuatu yang akan memberinya pengalaman luar biasa dan bahkan kemungkinan mengubah jalan hidupnya di masa depan. Ia mantap berkeliling dunia untuk belajar tarian daerah secara langsung di tanah asalnya. Proyek yang ia namai Dance Around The Globe ini seolah menjadi perpaduan antara dua passion yang dimilikinya: menari dan berpetualang.

Gium, demikian ia memperkenalkan dirinya, memilih Indonesia sebagai negara pertama yang dikunjungi dalam proyek ini. Pada akhir tahun 2015, Ia tinggal di Palangkaraya, Provinsi Kalimantan Tengah yang memang terkenal sebagai salah satu pusat budaya Dayak. Ia mendapat kesempatan untuk belajar tarian Dayak kepada para maestro selama tujuh hari. Tarian yang diajarkan adalah Tegah Penyang yang menunjukkan kewibawaan orang Dayak.

Seluruh proses belajar dan petualangan Gium di Palangkaraya secara khusus diabadikan dalam sebuah film dokumenter yang disutradarai oleh Pierce Vaugn, sepupunya. Ia menggandeng Borneo Productions International sebagai mitra lokal dalam pembuatan film ini. Saudaranya yang lain, Bjorn Daniel Vaughn bertindak sebagai co-producer.

Gium (berbaju biru) hidup di Palangkaraya untuk menyelami budaya Dayak. (sumber foto: Facebok Dance Around The Globe)
Gium (berbaju biru) hidup di Palangkaraya untuk menyelami budaya Dayak. (sumber foto: Facebok Dance Around The Globe)

Untuk keseharian selama hidup di Palangkaraya, Gium dibantu oleh Rai Andika Sadewa sebagai penerjemah Bahasa Indonesia ke Bahasa Inggris. Mahasiswa jurusan Pendidikan Bahasa Inggris di Universitas Palangkaraya ini juga membantu Gium memahami instruksi-instruksi dalam Bahasa Indonesia yang diberikan oleh pelatih selama latihan tari. Selain itu, ia memperkenalkan Gium dengan beberapa unsur budaya di Palangkaraya seperti misalnya makanan atau kebiasaan-kebiasaan khusus.

Mulai tanggal 7 Maret 2017, Dance Around The Globe meluncurkan webseries tentang kisah Gium dalam menyelami budaya Dayak. Dengan judul 'Finding The Warrior Within', terdapat enam episode yang secara berkala diunggah di saluran Youtube resminya. Kita diajak untuk ikut mengeksplorasi budaya Dayak bersama Gium melalui tayangan yang tak hanya menghibur namun juga menginspirasi.

Proses belajar Tari Tegah Penyang sama sekali tidak gampang bagi Gium. Ia menilai bahwa tarian ini sangat spiritual sehingga bahkan ada beberapa tes mental yang ia jalani. Ia juga harus menari tanpa alas kaki sehingga menyebabkan kakinya jadi lecet-lecet. Di negara asalnya, ia terbiasa menari dengan menggunakan sepatu. Dalam beberapa episode, Gium terlihat cukup kesakitan karena menahan perih akibat luka pada kaki yang ia balut dengan perban.

Gium memperhatikan gerakan tari yang diajarkan Cencen. (sumber foto: Facebook Dance Around The Globe)
Gium memperhatikan gerakan tari yang diajarkan Cencen. (sumber foto: Facebook Dance Around The Globe)

Kerasnya latihan yang ia jalani bersama Chendana Putra Syaer (Cencen), Jimy O. Andin, Trisno Edi (Nino) dan Kristiwan O. Umar (Jojo) bahkan sampai ia gambarkan seolah sedang berlatih untuk menjadi pasukan perang. Beberapa kali pelatih mengingatkan Gium untuk menguatkan perasaannya agar tidak kaku ketika bergerak. Koreografi tarian selama tujuh menit juga menjadi tantangan baginya karena ia lebih terbiasa dengan koreografi yang berdurasi tiga menit atau bahkan kurang dari satu menit.

Tak hanya sekedar belajar tari, Gium juga menyelami kehidupan Dayak secara lebih luas. Hal ini karena Gium tidak sekedar numpang tinggal di Kalimantan namun juga berinteraksi secara intensif dengan masyarakat suku Dayak. Ada dua pesan penting terkait kehidupan suku Dayak yang ia sampaikan melalui film dokumenter petualangannya di Palangkaraya ini.

Pesan yang pertama adalah terkait preservasi lingkungan. Hal ini bermula saat Gium diminta oleh pelatihnya untuk merasakan diri sebagai seorang Dayak asli ketika sedang menari, bukan sebagai orang asing. Salah satu unsur penting bagi orang Dayak adalah ikatannya yang kuat dengan alam. Orang Dayak tinggal di Pulau Kalimantan yang merupakan salah satu wilayah dengan hutan hujan tropis terbesar di dunia. Alam adalah teman bagi orang Dayak sejak kecil.

Gium pergi ke hutan gambut sekunder Jumpun Pambelon untuk mengeksplorasi arti alam bagi kehidupan suku Dayak. Ia melihat model pengelolaan hutan gambut skala kecil yang juga membuka kesempatan bagi masyarakat luas untuk terlibat pada program adopsi pohon. Oleh pengelola hutan, ia ditunjukkan dampak buruk dari kebakaran hutan yang sering terjadi di Kalimantan. Dalam episode 4 ini, ia berusaha mengajak masyarakat peduli pada lingkungan, khususnya keselamatan hutan di Kalimantan. Menghilangnya hutan di Kalimantan juga menjadi ancaman serius bagi kehidupan orangutan dan fauna lain yang berhabitat disana.

Gium melihat kondisi hutan di Jumpun Pambelon (sumber foto: bbc.com)
Gium melihat kondisi hutan di Jumpun Pambelon (sumber foto: bbc.com)

Pesan yang kedua adalah mengenai pelestarian budaya Dayak. Gium bertemu anak-anak muda Palangkaraya yang tergabung dalam komunitas hip hop bernama The Bboy. Dengan bergiliran, mereka menunjukkan kebolehan menari di depan Gium. Satu hal yang menarik baginya adalah ketika salah seorang anggota grup yang telah berdiri sejak tahun 2009 itu memasukkan gerakan tari Dayak dalam street dance.

Gium juga terkesan pada rap dengan lirik yang berisi pesan sosial bagi anak muda dan diiringi oleh alunan suara suling tradisional Dayak. Menurutnya, komunitas yang mengadopsi budaya populer dari Barat ini tetap menunjukkan kecintaannya pada budaya Dayak sehingga berusaha mengintegrasikan keduanya. Kita dapat melihat aksi Gium dan The Bboy di episode 3.

Pentingnya menumbuhkan kecintaan anak muda pada budaya Dayak juga disampaikan oleh Gium di episode 5 saat ia berkunjung ke Sanggar Seni Budaya Darung Tingang yang dikelola oleh Siti Habibah dan Apriyadi. Sanggar yang punya nama lain yaitu Spirit of The Hornbill Dance Academy ini didirikan dengan latar belakang keprihatinan bahwa anak-anak mulai meninggalkan tari Dayak. Padahal tari sebagai bagian dari seni itu penting dipelajari mereka agar dapat mengenal identitas sebagai seorang Dayak.

Gium bersama The Bboy. (sumber foto: Facebook Dance Around The Globe)
Gium bersama The Bboy. (sumber foto: Facebook Dance Around The Globe)

Di episode terakhir, Gium menampilkan Tari Tegah Penyang sebagai hasil belajarnya selama seminggu di depan masyarakat lokal. Pertunjukan dilangsungkan di Rumah Betang milik keluarga Syaer Sua yang terletak di Desa Tumbang Manggu, Kabupaten Katingan. Di tempat yang berjarak sekitar 260 kilometer dari Kota Palangkaraya itu, Gium menari bersama dengan pelatihnya dan para penari dari Sanggar Seni Budaya Tut Wuri Handayani. Tarian diiringi oleh alat musik gong, gendang, kecapi, kenong dan kletok.

Aksi seorang bule yang menari Dayak dengan pakaian adat lengkap menarik perhatian masyarakat sekitar. Ia mendapat pujian atas penampilannya yang bagus. Tepuk tangan meriah dan sambutan hangat dari orang-orang membuat Gium menjadi puas akan kerja keras yang ia lakukan selama seminggu. Terlebih lagi, apresiasi juga diberikan oleh para pelatih yang mengajarinya dari nol.

Gium dengan pakaian adat Dayak ketika sedang menari. (sumber foto: bbc.com)
Gium dengan pakaian adat Dayak ketika sedang menari. (sumber foto: bbc.com)

Di episode 6 ini, Gium mengatakan bahwa pengalaman menyelami budaya Dayak ini adalah hal yang luar biasa baginya. “Sulit diungkapkan dengan kata-kata. Bahagia dan bersyukur atas pengalaman berharga ini. Tapi juga ada rasa sedih karena khawatir budaya ini bisa hilang tergerus modernitas zaman." demikian menurutnya. Gium sekali lagi menekankan pentingnya untuk melestarikan budaya sebagai bentuk wujud kearifan lokal dan warisan nenek moyang.

Ayo anak-anak muda Indonesia, jangan kalah bersemangat dalam menjaga dan melestarikan budaya kita! Bila Gium yang datang jauh-jauh dari Perancis saja mampu, maka tentu kita juga bisa. Terimakasih Gium atas inspirasi dan pesannya agar kita selalu mencintai budaya sebagai identitas kita. Merci beaucoup!

Salam budaya!