Mohon tunggu...
Gen Mancha Koesoema
Gen Mancha Koesoema Mohon Tunggu... Swasta -

Penulis bayang-bayang dan penikmat kepura-puraan

Selanjutnya

Tutup

Catatan Pilihan

Dewan dan Kebiasaan Lupa

29 Januari 2015   04:38 Diperbarui: 17 Juni 2015   12:10 24
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Bagikan ide kreativitasmu dalam bentuk konten di Kompasiana | Sumber gambar: Freepik

Ini cerita tidak dalam mendeskreditkan salah satu pihak karena tujuannya adalah menumpahkan keluh kesah yang ada. Mungkin ini pengalaman pribadi yang tidak ada hubungannya dengan kondisi bangsa dan negara yang sedang menghadapi rentetan masalah. Masalah penegakan hukum, masalah kerawanan sosial, masalah kesejahteraan, dan masalah TKI dan persoalan yang pelik yang lain.

Yang menurut berita persoalan klise yang sejak dari jaman dahulu kala sejak jaman Soeharto dengan orde barunya sampai Indonesia mengalami perubahan kepemimpinan berkali-kali. Kepemimpinan yang notabene mempunyai karaktek yang berbeda. Dari dewan yang hanya menjadi juru tanda tangan kabinet Soeharto sampai wakil rakyat yang mempunyai kebiasaan mendapatkan kursi dengan membeli, dari dewan yang melalui penunjukan sampai pada pemilihan terbuka.

Dan ritual politik lima tahunan beberapa bulan yang lalu kita baru saja selesai memilih wakil kita termasuk juga presisen untuk memperjuangkan segala halnya terkait dengan hajat hidup rakyat, masalah kelangsungan hidup saya juga (include didalamnya), Baru beberapa bulan yang lalu. Kalau dianalogikan tinta bukti kita mencoblos belum lah hilang sepenuhnya.

Sekelumit cerita yang terjadi mungkin dirasakan orang lain; yang mencari ruang-ruang pengabdian-aktifitas bermanfaat. Keinginan kuat sampai terbawa mimpi hanya untuk sekedar bertemu dengan sesosok yang dihormati. Saya telpon salah satu telpon anggota dewan dari partai Golkar dari dapil jawa tengah II. Dapil yang meliputi kab. Kudus, Kab. Demak, Kab. Jepara. Dapil yang populasi penduduknya sangat relegiustik-etika. Tujuan mengontak sebenarnya tidak ada hubungannya sama sekali dengan pekerjaan cuma sekedar untuk melanjutkan komunikasi yang terbangun selama ini. Komunikasi yang biasa saja atas dasar sesama kader partai lalu dijanjikan besok harinya setelah dengan nada bahasa yang terkesan buru-buru. Entah memang terburu-buru atau sekedar cara saja untuk segera mengakhiri komunikasi dengan saya.

Keesokan harinya saya kembali ke DPR ruangan beliau sempat berkali-kali kembali karena sebelumnya tidak ada orangnya mungkin sedang rapat (karena tugas anggota dewan kan rapat-rapat saja) atau mungkin sedang dalam perjalanan menuju kantor karena Jakarta diidentik dengan kemacetan dan kesemrawutan. Namun, setelah kembali menengok ruangannya dan ketemu dengan asprinya betapa saya kaget katanya tidak ada janjian dengan saya. Dengan senyum dan berpikir positif saya kembali ke ruangan teman yang sangat wellcome walaupun beda partai.

Munculnya iktikat baik untuk menghubungi tidak berdasarkan pada ruang kosong dan hampa. Melain pada keyakinan bahwa segala sesuatu yang berhubungan dengan Indonesia semuanya melalui proses politik dan pemungutan kebijakan melalui keputusan-keputusan politik. Dinegeri ini mana ada kebijakan yang berdasar pada kebijakan yang kebutuhan linier tanpa melalui keputusan politik. Tidak ada.!!!

Berpikir Positif Bernuansa Negatif.

Berpikir positif selalu dianjurkan oleh teman, para sahabat dan para sanak saudara yang peduli. Menurut cerita berpikiran negatif justru akan menambah penyakit kejiwaan yang tidak baik untuk perkembangan. Dan tentunya saya tidak mau dibebani oleh penyakit kejiwaan yang bisa-bisa menggerogoti saya.

Saya sebagai manusia termasuk diri yang selalu berpikir positif, jawaban dari sekpri tersebut saya nilai sebagai jawaban atas tidak pentingnya silaturrahmi rakyat kepada wakilnya. Karena rakyat dimata sebagian anggota wakil rakyat diasumsikan selalu minta dan merepotkan. Padahal tugas fungsinya untuk memperjuangkan kepentingan rakyat. Menjadi wajar jika direpotkan oleh rakyatnya toh gaji dan pendapatan yang didapatnya adalah perahan keringat rakyatnya yang dibayarkan.

Saya mungkin naif banget mau bertemu dengan anggota dewan sang wakil rakyat yang penuh dengan kesibukan, yang banyak menerima tamu yang harus diterimanya. Tetapi bukan itu persoalan yang paling utama, tetapi kurangnya perhatian terhadap rakyat kecil yang ikut membantu mengantarkan dia pada posisi yang penuh dengan tunjangan ini itu, jabatan yang penuh dengan fasilatas lengkap. Fasilitas yang didapat dari keriat rakyat yang sehari-hari bermimpin untuk hidup lebih baik. Anak rakyat yang hanya ingin bertemu dan berkeluh kesah tentang ganasnya kehidupan, pahitnya hidup yang berbanding terbalik dari yang dia nikmati sekarang ini.

Kenaifan yang saya rasakan mungkin menjadi cambuk semangat untuk terus berjuang bertemu dengan wakilnya. Tapi masak iya harus berjuang terus untuk sekedar bertemu dengannya, padahal masih banyak hal yang harus terpenuhi dan dilalui dengan perjalanan panjang? Sandang pangan misalnya. Dan kenyataan ini berbanding terbalik dengan kliennya yang naik mobil mewah, pakaian mahal, dan membawa banyak cerita yang menggiurkan yang harus dia temui diruangannya tanpa mengalami kesulitan apapun. Bukankah itu ruangan dibangun atas dana pajak yang saya bayarkan? Bukankah itu ruang untuk memperjuangkan hak saya? Bukan ruang kerja para eksekutif atai para makelar yang ingin mendapatkan proyek pemerintah.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Catatan Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun