Tentang "Dikocok-kocok" dan "Keluarin di Dalem"

28 September 2011 23:49:20 Dibaca :

Ini cerita tentang kejadian dua hari lalu. Maaf, bukan cerita jorok seperti judulnya. Malah kebalikannya.



Jadi beginiā€¦



Saat itu siang gerah di pojokan Jakarta dan sayangnya saya harus keluar kamar menyelusur aspal demi menyambung napas-satu hal yang paling dihindari mahluk nokturnal berkaki dua seperti saya. Beberapa mbak-mbak dan siswi SMU yang semuanya berjilbab menaruh pantat di sebelah saya pada jok Metromini 72. Mereka lumayan berisik, cicit-cuwit cekikikan nggak penting, menafikan kemacetan lengas yang meresap masuk dari celah jendela dan pintu terbuka. Lalu seorang penjual stiker melompat naik, membagikan dagangan yang dia sebut "murah meriah", yaitu dua lembar kalimah suci tentang nama dan kebesaran Tuhan.



Tak lama kemudian bis terguncang-guncang memasuki mulut terminal. Penjual stiker yang selesai memunguti kembali dagangannya dari para penumpang berdiri di depan saya. Bibirnya melontarkan senyuman nakal sementara matanya memandangi perempuan-perempuan di sebelah saya.



"Enak kayak gini ya Neng, dikocok-kocok terus keluarin di dalem," komentarnya, masih dengan senyuman menjijikkan dan tatapan mesum. Saya menengok ke arah matanya menatap. Perempuan-perempuan itu berhenti bicara. Mereka hanya membuang muka, jengah. Ketika mata saya kembali ke penjual stiker, dia masih saja tersenyum cabul.



Darah saya mendidih mendengarnya. Mulut dan otaknya sepertinya harus diberi beasiswa supaya pintar. Sepersekian detik kemudian dia menoleh ke arah saya. Tak tahan dengan rautnya yang saat itu sebentuk dan sebangun dengan tai, saya tunjuk mukanya sambil berkata, "Bapak belom pernah digampar ya ngomong begitu depan perempuan?"



Saya bisa lihat selirit kemarahan bercampur kaget di sorot matanya yang lekat-lekat saya pelototi galak. Saat itu jadi semacam show of force, saya tak boleh melepaskan kontak meskipun sejenak setelah mengucapkan itu saya jiper. Ini terminal. Saya sendirian sementara si pak penjual itu bisa saja memanggil rekan-rekannya. Skenario terburuk adalah saya dikeroyok. Tapi kepalang basah lah. Dan bapak itu menyerah. Dia meminta maaf.



Saya turun sambil tak lupa menitipkan pesan padanya.



"Besok ngomong gitu lagi, Pak. Tapi jangan nyalahin perempuan ya kalo Bapak pulang tinggal nama."



Saya akui tindakan saya ini kepreman-premanan. Tapi saya muak jadi korban pelecehan. Dan saya bosan diam. Beberapa kali saya diraba penumpang lelaki di sebelah saya di bis antar kota. Saya tak berani berteriak karena kendaraan sedang membelah jalan yang kanan-kirinya hutan dalam pekatnya malam. Saat itu saya juga menghitung kemungkinan backfire, ketika reaksi para lelaki jahanam itu adalah "eh, anjing! Ngapain juga gue grepe-grepe cewek karung goni macem elu?!" (Saya pernah mendengar cerita perempuan korban pelecehan yang pelakunya berteriak balik seperti ini. Walhasil dia hanya menjadi bahan olok-olok penumpang satu bis dan mentalnya jatuh, lama setelah kejadian itu berselang). Saya juga pernah diraba oleh pengendara motor yang berhenti di samping saya yang sedang berjalan pulang di suatu dinihari lalu tancap gas meninggalkan saya yang terlalu kaget hingga memakipun saya tak sanggup.



Belakangan ini santer terdengar berita tentang pelecehan seksual di angkutan umum. Dan orang-orang menyalahkan pakaian yang dikenakan si perempuan karena dianggap terlalu "mengundang". Mari saya beritahu: dalam semua kejadian yang saya alami, saya bahkan mengenakan jins dan sweater panjang tertutup. Jadi, bukan salah perempuan jika dia diraba. Tapi salahkan otak lelaki yang tak bisa mengendalikan syahwat.



Saya sadar benar bahwa di Indonesia-meskipun bayar pajak tak pernah telat, meskipun hapal UUD dan Perda dan mematuhi setiap butirnya, meskipun mengamalkan semua sila di Pancasila, Dasa Dharma dan Trisatya-kita tak bisa mengharapkan siapapun untuk bisa melindungi kita, tidak juga polisi, aparat pemerintah atau TNI (eh?). Mereka sudah terlampau sibuk mengurusi dan menjaga kepentingan-kepentingan yang mbayar. Jadi, yang bisa kita lakukan adalah melindungi diri sendiri.



Saya punya satu cerita (atau aib, terserah mau disebut apa) lagi:



Saya bertemu orang yang saya kira baik. Dia mengajari saya menulis dan kami janjian ketemuan. Saya ke tempatnya sekalian liburan, dan bukan di Jakarta. Hampir tengah malam, dan dia baru menjemput saya. Tanpa prasangka apapun, saya masuk ke mobilnya. Saya pikir, well, dia nggak bakal ngapa-ngapain saya karena dia abang dari seorang teman yang saya kenal baik. Gap kami terlalu jauh. Dia lelaki keren-matang-mapan sementara saya hanya cewek lusuh-gendut yang sedari kemarin belum mandi. Ternyata saya dibawa ke hotel jam-jaman (yang baru saya tahu kemudian). Saya masih tak punya firasat apapun.



Selesai melakukan pembayaran, pintu dikunci. Saya mengeluarkan Pektay, laptop saya, memunggunginya, sambil cerewet menceritakan tulisan saya. Ketika saya berbalik, ternyata dia sudah meloloskan jinsnya hingga hanya mengenakan kaos dan celana dalam.



Saya kaget, tapi saya nggak mau dia tau. Ini juga show of force dan saya nggak mau kalah. Saya juga nggak mau rugi jauh-jauh datang tapi nggak dapet ilmu. Jadi, saya lemparkan handuk. Begitulah. Selama mengoreksi tulisan saya, dia hanya mengenakan kaos dan berhanduk.



Tulisan kelar diedit, dan saya mulai jiper. Benar saja, dia meraba punggung saya dan melepaskan kaitan bra saya dengan sekali sentuh (padahal saya pakai bra sport yang mantap dan kencang. Edan!). Saya muntap dan berlari masuk kamar mandi untuk kembali mengaitkannya. Sekeluarnya, saya acungkan pisau lipat yang selalu saya simpan di saku belakang. Saya minta dia pergi "secara baik-baik" atau saya tak ragu menancapkan pisau itu di lambungnya. Dan dia pergi sementara saya gemetar sepanjang malam hingga pagi.



Belakangan baru saya tau dari cerita adiknya bahwa abangnya memang selalu "menjebak" perempuan-perempuan yang dia anggap pintar, dingin dan galak (meskipun saya nggak yakin saya masuk dalam tiga kategori itu). Dan apa yang saya alami sebenarnya tak lebih dari politik penguasaan dan penindasan antara lelaki ke perempuan, yang kuat terhadap yang lemah.



Dari kejadian-kejadian tersebut, saya berkesimpulan bahwa selama ini kami, para korban, tak bisa bicara dan membela diri karena semua itu mungkin dianggap wajar dan orang-orang seperti kami dianggap terlalu lebay, reaktif. Tak ada satupun yang mau berkata "elu tuh salah!" pada orang-orang seperti pak penjual stiker atau abangnya teman saya itu. Padahal ketahuilah, saat kita berada dalam posisi dirugikan dan kita tak bisa membalas, kita sedang dilecehkan. Ketika situasi berubah menjadi tindakan memaksa, hal itu sudah menjadi perkosaan. Dan saya pikir perempuan perlu berani (tapi nggak konyol ya) bertindak dan bersuara. Tegur para lelaki-lelaki bajingan itu dengan "elu salah, Njing! Nggak begini cara mainnya!". Mereka, para pelaku itu, adalah mahluk-mahluk menyedihkan yang tidak tahu bahwa apa yang mereka lakukan bukanlah sesuatu yang benar dan bisa dikompromi. Karena itulah, siapapun yang menyaksikan terjadinya pelecehan, di manapun, harus reaktif, harus taktis bertindak. Karena diam adalah kejahatan



Statistik selalu menunjukkan bahwa jumlah perempuan lebih banyak dari lelaki. Jadi, tidak seharusnya kita takut pada mereka. Dan terlepas dari beberapa bajingan yang pernah saya temui, bagi saya lelaki adalah pelengkap saya menjadi manusia seutuhnya.



Dan bagi kalian, para lelaki, berhati-hatilah. Kami sudah paham lho, cara main kalian. Jadi, jangan salahkan kami jika kami terlalu pintar dan menang bermain di lapangan kalian, dengan cara kalian.

KOMPASIANA ADALAH MEDIA WARGA, SETIAP KONTEN DIBUAT OLEH DAN MENJADI TANGGUNGJAWAB PENULIS.

Siapa Yang Menilai Tulisan Ini ?