Gayoku
Gayoku Petani

"Kalau pun esok tetap saja suram, gigih lah menyulut lentera. Yakinlah nasib baik sedang mengintai, karena lusa yang cerah pasti ‘kan menyapa.” email : anakgayo91@gmail.com

Selanjutnya

Tutup

Cerpen highlight

Yang Tersirat dari Kartu Undangan

14 September 2017   13:25 Diperbarui: 19 September 2017   23:29 710 5 2
Yang Tersirat dari Kartu Undangan
Sumber: Primacatering.net

Langit kian kelabu. Itu memastikan, senja kembali tertikam. Memang sudah beberapa hari belakangan, pelipur lara sebelum malam mencekam itu terhalang mendung.

Sambil mengangkangi motor, Amir menembakan mata ke ufuk barat. Berharap pada entah, awan gelap segera menyingkir---agar keemasan senja sebentar memanjakan mata. Tapi, apa? Hasrat besarnya kian menuju hampa. Sejalan dengan semakin memudarnya cahaya. Ditandai dengan gelap perlahan menyapa.

Ia sedikit terhibur dengan klikik gerobolan burung jalak yang silih berganti membelah udara. Mungkin setelah kenyang mengutu kerbau di hamparan sawah, hendak kembali menghabiskan malam di suaka sebelah timur. Setiap sorenya melintas.

Debu halaman masih berpendaran dibelah bundaran karet yang sudah ingin pensiun. Meski di perjalanan berulah, seolah ingin diperhatikan---mogok. Motor tuanya kembali mengantarnya pulang. Menderu di halaman. Setelahnya berhasil diparkirkan.

Seiring dengan mengalunnya azan magrib, yang didendangkan merdu oleh bilal. Keriuhan kampung berada di titik puncak. Orang-orang masih sibuk lalu lalang. Dengan tubuh penuh lumpur dan tangan berinai getah rumput. Memberi tanda kalau mereka baru saja pulang dari medan tempur, sawah atau kebun. Ada juga yang sudah membasuh badan, mungkin di sungai.

"Baru balik, Mir?"

Tetangga yang di samping kiri, yang sudah lebih dulu santai menghabiskan sore di teras rumah, bertanya.

"Iya, bang," jawabnya. "Nyantai?"

"Pucat kau Mir?"

Belum juga dijawab basa-basinya. Giliran tetangga samping kanan yang bertanya. Sudah pula rapi, kain tenun tersampir di bahu dan kopiah menutup kepala. Mungkin hendak ke Masjid.

"Iya, Pak cik." Setelah menoleh. "Mogok tadi. Hehe."

"Lagi?"

"Maklum bang, sudah tua."

Ia kembali menoleh pada tetangga samping kiri.

"Persis empunya."

"Oallah."

Sembari menganggukkan kepala pada kedua tetangga ia masuk kedalam rumah.

Perempuan tua yang sudah ditinggal pergi menuju Ilahi oleh pasangannya tidak ada. Ibunya tidak di rumah. Seperti biasa, Ibunya sudah lebih dulu pergi, hendak menunaikan ibadah berjamaah di Masjid. Ia pun langsung ke kamar mandi.

Belum juga selesai mandi, lafaz iqamah sudah mentalu. Pupus sudah harapannya berjamaah. Ia bergegas.

Setelah sejenak bersimpuh diatas sajadah: memohon ampun, bersyukur dan sedikit melantunkan do'a padaNya, ia bangkit dengan pipi masih dibekasi air mata.

Sementara ia cuek saja melihat kartu undangan yang tergeletak diatas meja. Sudah biasa. Hanya sedikit menoleh pada nama yang tercetak tebal dengan tinta emas, "Alpin dan Susanti".

Sebelum berhasil keluar kamar, entah kekuatan apa yang membuatnya kembali menoleh pada kartu undangan berwarna hijau muda itu. Matanya silau menatap aura benda itu.

"Siapa Alpin? Siapa Susanti?" Ia membatin.

Tidak ada foto memang. Sambil mengingat-ingat sebuah nama yang dikenal dan membuka perlahan. Tiba-tiba mengigil, entah sebab apa.

Jelas tidak ada nama Susanti yang ia kenal. Dan benar, Alpin, teman Sekolahnya dulu yang mengundang. Itu diyakini setelah melihat alamatnya.

"Sudah juga kau kawan." Ia berguman dan tersenyum. Dan sudah memastikan akan datang.

Sebelum ia bangkit dari kursi bambu yang menyangga pantatnya, sejenak menoleh pada secarik kertas yang tertempel di dinding, dekat cermin, tepat hadapannya: Get Married in 26th yeasr old. Kemudian berlalu.

Ibunya sedang menyiapkan makan malam di dapur. Ia pun duduk dengan rasa mengawang menanti hidangan.

"Tadi ada undangan."

"Sudah saya lihat Bu."

Ia memandang iba perempuan keriput itu. Kasihan. Dari sejak dulu, ketika baru saja tali pusar terpotong, segala keperluan hidupnya terus diurus. Tidak ada yang kurang. Ia heran, kenapa perempuan itu tak pernah bosan.

Makan malamnya tidak diteruskan. Tidak bernafsu. Ibunya sedikit membujuk. Jelas saja tidak berhasil, ia bukan anak kecil lagi.

Tiba-tiba ia merasa aneh. Pasalnya, kenapa terus kepikiran dengan undangan itu? Tidak seperti undangan-undangan sebelumnya yang dianggap biasa saja. Ya, kalau pergi ya pergi, kalau tidak ada kesempatan mohon maaf saja ke tuan rumah. Gampang. Tapi, ini beda. Ia semakin menggigil.

Bukan masalah takut ditanya "kapan nikah" membuatnya mengkeret. Kalau itu bisa dengan mudah dijawab. Paling jawabannya nanti akan mencipta nostalgia dengan Alpin. Dia akan menjawab pertanyaan klise itu dengan kata, "Camer juga sedang berusaha ta'arufan, bro." Dan itu pasti membuat Alpin tersenyum, karena ia sendiri melahirkan kata itu.

Bukan pula dengan salah satu mempelainya tersimpan kenangan. Bahkan ia tidak kenal.

Sedang merebahkan badan diatas kasur kapuk yang mulai lapuk. Ia melemparkan pandang pada jendela kamar yang dibiarkan terbuka. Kehidupan luar jelas terlihat. Selain karena purnama memberi terang. Juga langit bertabur bintang. Tidak ada awan, karena musim kemarau ...

Tiba-tiba kartu undangan itu terbang. Berputar-putar diatasnya. Amir kaget. Tak percaya.

"Kapan kau memesanku?"

Ia mendongak mendengar pertanyaan kertas sialan itu.

"Huruf apa saja yang akan kau cetak?"

Kekagetan semakin mejadi-jadi. Mengingat-ingat sebuah nama. Tidak ada.

"Apa kau tidak ingin?"

Dengan cekatan ia mengangguk.

"Kapan?"

Ia terdiam. Bingung.

"Menyebalkan!"

Setelah menghardik, menyiutkan nyalinya, tiba-tiba kartu undangan itu terbakar di udara.

"Tidak!"

Ia berteriak mencegah, berusaha menggapai. Hendak memadamkan. Tangannya yang berusaha meraih hanya mengibas-ngibas debu kertas yang terbakar.

"Kukuruyuuuuuuk!"

Ayam berkokok. Nyaring. Memekakan telinga. Ia kaget.

Masih sempoyongan sambil mengucek-ngucek mata. "Kring. Kring." Ponselnya berbunyi. Sudah banyak pesan yang masuk. Isinya kurang lebih sama: Happy 26th Birthday, Amir. Ia tersadar, memang benar kalau umurnya sudah menendang seperempat abad.

Setelah menghela nafas, Amir merebahkan badan lagi. Memerhatikan langit-langit kamar yang seolah menghinanya. Ia pun berniat mencopot kertas yang tertempel di dinding, dekat cermin.