PILIHAN

SBY vs Antasari, antara Informasi Antasari dengan Bocoran WikiLeaks

17 Februari 2017 10:02:14 Diperbarui: 26 Februari 2017 23:23:04 Dibaca : Komentar : Nilai : Durasi Baca :
Semenjak Antasari Azhar diposisikan sebagai korban dari konspirasi
pembunuhan Nasrudin Zulkarnaen, SBY sudah dituding sebagai dalang atas
pembunuhan yang terjadi pada 14 Maret 2009 itu.

Tudingan terhadap SBY sebagai dalang atas konspirasi kasus Antasari
semakin menguat ketika SBY menjaga jarak dari kasus pembunuhan
tersebut dengan tidak mengintervensinya. SBY dianggap membiarkan
proses hukum terhadap Antasari yang berjalan menyimpang.

Dengan semakin banyaknya barang bukti yang diragukan validitasnya
serta sejumlah kesaksian yang dipertanyakan kebenarannya, keyakinan
adanya konspirasi untuk memenjarakan Antasari selaku Ketua KPK dalam
kasus pembunuhan Nasrudin semakin menguat.

Tuduhan kepada SBY sebagai otak di balik konspirasi kasus Antasari
bukanlah tanpa alasan. SBY yang saat itu menjabat sebagai Presiden Ri
memiliki kepentingan pribadi atas besannya, Aulia Pohan, yang saat itu
tengah dibidik KPK dalam kasus korupsi dana YPPI senilai 100 milyar.

Dengan tuduhan tersebut, SBY pun diposisikan sebagai pelaku.
Sebeliknya, Antasari diposisikan sebagai korban. Dengan posisinya
tersebut, SBY mendapat antipati dari masyarakat, di sisi lain Antasari
memperoleh simpati dan empati. Posisi saling berlawanan tersebut sudah
terbangun semenjak terbentuknya teori konspirasi atas pembunuhan
Nasruddin.

Sebagai korban yang mendapatkan simpati dan empati, tentu saja
Antasari dianggap sebagai pahlawan. Kemunculannya di setiap media
selalu ditunggu-tunggu. Bukan saja itu, setiap ujaran yang
disampaikannya diterima sebagai sebuah kebenaran. Bahkan ketika
beredar isu Antasari akan dibebaskan pada November lalu, publik pun
berharap mantan Ketua KPK itu akan membongkar kasus-kasus yang
menjerat Cikeas. Bisa dibilang, Antasari sudah menjadi WikiLeaks.

Lewat situsnya, WikiLeaks mengungkap berjuta dokumen rahasia negara
atau perusahaan. Organisasi yang dimotori oleh jurnalis dan aktivis
internet Julian Assange ini juga sempat menghebohkan tanah air setelah
bocorannya tentang seputar kehidupan Presiden SBY dimuat di dua media
Autralia.

Sebenarnya, dokumen yang dibocorkan oleh WikiLeaks adalah surat kawat
yang dikirim oleh Kedubes Amerikan Serikat untuk Indonesia. Surat
kawat yang dikirim tersebut berisi informasi yang diperoleh Kedubes AS
di Jakarta dari “orang-orangnya”, bisa mata-mata atau agen rahasia,
bisa juga dari staf resminya.

Informasi kawat yang dikirim Kedubes AS tersebut sebenarnya belum
diverifikasi kebenarannya. Jadi, bisa dikatakan surat kawat yang
dibocorkan oleh WikiLeaks tersebut hanyalah informasi kelas warung
kopi.

Misalnya, ada seorang staf Istana Presiden, katakanlah bernama Gasa.
Gasa yang dikenal dekat dengan Presiden RI ini ngobrol-ngobrol di
sebuah resepsi pernikahan. Saking asyiknya ngobrol, Gasa mengungkapkan
kalau setiap akhir bulan ia sering menemukan bungkus obat sakit kepala
di tempat sampah yang diperuntukkan bagi Presiden Jokowi.

Obrolan Gasa ini didengar oleh “orang” Kedubes AS. “Orang” ini
kemudian menyampaikannya ke Kedubes AS. Oleh Kedubes AS, lantas
obrolan Gasa yang dipandang sebagai informasi itu dikirim lewat kawat
ke Amerika. Kawat inilah yang dibocorkan oleh WikiLeaks.

Pada 15 Desember 2013 Kompas.com menurunkan berita bertajuk “Inilah
Alasan Australia Sadap Ani Yudhoyono” dan “Inilah Alasan Australia
Sadap Ani Yudhoyono” Kedua artikel tersebut bersumber dari “Why
Australia's spies targeted SBY's wife - Kristiani Herawati” yang
dipublikasikan The Australian sehari sebelumnya. The Australian
menuliskan beritanya dengan bersumber dari telegram yang dibocorkan
WikiLeaks.

Telegram yang dibocorkan WikiLeaks itu dikirim pada 17 Oktober 2007
pukul 10:54 (tidak jelas zona waktunya) dengan subyek “A CABINET OF
ONE -- INDONESIA'S FIRST LADY EXPANDS HER INFLUENCE” dari Kedutaan
Besar Amerika Serikat di Jakarta kepada kedutaan-kedutaan besar AS di
beberapa negara, salah satunya adalah diplomat AS di Canbera,
Australia. Isi telegram yang bersifat rahasia (secret) ini mengenai
kuatnya pengaruh Ibu Negara Kristiani Herawati terhadap Presiden SBY.

Dari telegram itu diketahui Ani membatasi akses para penasihat
Presiden. Dan, dengan memperkuat perannya sebagai gatekeeper, Ani
mampu menyediakan Presiden pandangan dan perspektif kebijakan yang
dipilihnya sendiri. Disampaikan pula tentang peran Ani sebagai broker
kekuasaan di dalam pemerintahan.

Informasi mengenai sepak terjang Ani didapat Kedubes AS dari berbagai
narasumber. Dan sumber utama yang disebutkan dalam berita kawat
diplomatik tersebut adalah T.B. Silalahi (penasehat presiden), Dadan
Irawan (pejabat senior Golkar) Yahya Asagaf (Pejabat Badan Intelijen
Negara), dan Ridwan Soeriyadi (orang dekat keluarga SBY).

Informasi-informasi dari keempat sumber tersebut didapat dari hasil
bincang-bincang keseharian. Bahkan curhat pun dijadikan bahan
informasi. Misalnya, informasi dari TB Silalahi yang menceritakan
sepupunya yang juga sekretaris kabinet Sudi Silalahi yang hampir
mengundurkan diri akibat dinamika kehidupan Istana yang membuatnya
frustasi.

Jadi, sekalipun obrolan itu berlangsung di warung kopi asal yang
menyampaikannya kalangan dekat Istana maka akan dijadikan bahan
informasi. Dan, informasi yang didapat dari hasil obrolan itu langsung
dikirim tanpa lebih dulu diselidiki kebenarannya. Itulah kenapa
telegram yang dibocorkan WikiLeaks itu disebut unconfirmed rumor.

Jadi, bocoran WikiLeaks sebagai sebuah kebenaran, apalagi distempel
informasi “A1”. Bocoran WikiLeaks belum tentu valid karena belum
diverifikasi. Ada banyak celah penyimpangan pada bocoran WikiLeaks.
Pertama, jelas bisa saja WikiLeaks yang menyimpangkan informasi yang
dibocorkannya. Kedua, bisa juga Kedubes AS atau “orangnya” yang
memelesetkan informasi yang diterimanya. Tapi, bisa juga orang di
sekitar Istana yang sengaja berbohong dengan berbagai motifnya.

Tetapi, apa pun yang dibocorkan oleh WikiLeaks, masyarakat dunia sudah
menganggapnya sebagai fakta, kebenaran yang absolut, mutlak tidak bisa
ditolak.

Di tengah ketertutupan dunia intelijen, WikiLeaks dianggap sebagai
telinga publik sekaligus penyampai informasi-informasi yang
dirahasiakan. Dengan kata lain, WikiLeaks sudah dianggap sebagai
institusi intelijen dari masyarakat internasional. Sebagaimana
WikiLeaks, demikian juga dengan Antasari. Informasi yang disampaikan
oleh Antasari sudah dianggap sebagai sebuah fakta yang benar-benar
terjadi.

Tetapi, kalau dicermati lebih dalam, informasi dari Antasari bukanlah
sebuah fakta. Informasi Antasari tentang keterlibatan SBY dalam kasus
pembunuhan Nasrudin masih berupa teori konspirasi. Dan, teori
konspirasi bukanlah konspirasi itu sendiri. Teori konspirasi,
gampangnya, hanyalah teori yang mengaitkan sejumlah kepingan fakta
dengan ilusi, khayalan, imajinasi, dan sejenisnya.

Seperti yang ditulis dalam artikel ini,
Teori konspirasi Antasari tentang keterlibatan SBY sebagai dalang
pembunuhan Nasruddin sangat mudah dipatahkan.

Pertama, pada 14 Februari 2017, Antasari  mengungkapkan pertemuannya
dengan pengusaha media Hary Tanoesoedibyo. Menurut Antasari, Harytanoe
menyampaikan pesan dari Cikeas. Konon, menurut Antasari, , pertemuan
tersebut disaksikan juga oleh anak, istri, ajudan, dan supir.

Pertanyaannya, apakah anak, istri, ajudan, dan supir tersebut juga
mendengar pesan Harytanoe tentang pesan SBY untuk menghentikan kasus
Aulia Pohan yang dituduh terlibat dalam korupsi dana Yayasan
Pengembangan Bank Indonesia senilai Rp 100 milyar?

Tetapi, pertanyaan pentingnya, apakah tanpa kehadiran Antasari selaku
Ketua KPK , Aulia akan bebas? Atau katakanlah, jika Antasari mengikuti
arahan dari Cikeas yang disampaikan oleh Harytanoe, apakah Aulia lepas
dari dijeratan hukum?

Jawabannya, tegas tidak!
Tidak, karena sesuai UU-nya, kepemimpinan komisioner KPU bersifat
kolektif kolegial. Jadi, tanpa Antasari yang menjabat sebagai Ketua
KPK pun komisioner KPK masih dapat bekerja dalam menuntaskan kasus
yang melibatkan besan SBY.

Oke, katakan saja pembunuhan Nasruddin tersebut sebagai pesan kepada
pimpinan KPK lainnya untuk tidak melanjutkan pengusutan kasus korupsi
yang melibatkan besan SBY.

Tetapi, faktanya, Aulia divonis 4 tahun 6 bulan penjara oleh
Pengadilan Tipikor pada 17 Juni 2009. Keputusan hakim Tipikor atas
besan SBY ini jatuh setelah Pileg 2009 yang digelar pada 9 April 2009
dan sebelum Pilpres 2009 yang jatuh pada 9 Juli 2009.

Artinya, pembunuhan atas Nasruddin tersebut bukan pesan kepada
pimpinan KPK. Atau, pesan tersebut tidak ditangkap oleh 4 komisionaris
KPK lainnya. Tetapi, apapun itu, vonis terhadap Aulia menunjukkan
kalau KPK tetap melanjutkan proses hukum terhadap besan SBY tersebut.

Kasus korupsi dana YPPI ini sudah pada tahap yang sulit dihentikan
lagi. Semua pejabat BI yang terkait kasus ini sudah ditahan. Maka
proses hukum terhadap Aulia adalah konsekuensi dari pengusutan korupsi
dana YPPI yang ditangani KPK. Pertanyaannya, buat apa SBY mendalangi
kasus pembunuhan Nasruddin kalau hanya untuk mengancam Antasari agar
Ketua KPK tersebut tidak melanjutkan kasus korupsi yang melibatkan
besannya sendiri. Justru menjadi konspiratif kalau kasus ini tiba-tiba
mandeg begitu membidik Aulia.

Kalau dikatakan kasus Nasrudin terkait dengan dugaan keterlibatan
Edhie Baskoro Yudhoyono dalam kasus korupsi pengadaan IT KPU pada
Pemilu 2009 juga terbilang lemah. Sebab, saksi kunci pada kasus
korupsi yang menjerat Ibas sampai sekarang masih hidup dan leluasa
menyampaikan informasinya tentang dugaan Ibas dalam kasus Hambalang.
Malah saksi kunci bernama Yulianis ini memiliki akun di Kompasiana.com
dengan status terverifikasi. Sama halnya dengan dugaan korupsi IT KPU,
demikian dengan kasus Century.

Justru, tudingan dalang konspirasi kepada SBY bisa disebut sebagai
konspirasi itu sendiri. Apalagi tuduhan itu disampaikan tepat sehari
sebelum gelaran Pilgub DKI 2017.

 

Gatot Swandito

/gatotswandito

TERVERIFIKASI

Yang kutahu, aku tidak tahu apa-apa Email: gatotswandito@gmail.com
Selengkapnya...

KOMPASIANA ADALAH PLATFORM BLOG, SETIAP ARTIKEL MENJADI TANGGUNGJAWAB PENULIS.

NILAI :

Daftarkan email Anda untuk mendapatkan cerita dan opini pilihan dari Kompasiana