Gaganawati Stegmann
Gaganawati Stegmann ibu rumah tangga

Ibu RT@Germany, a teacher@Volkshochschule,a dancer@www.youtube.com/user/Gaganawati1/videos, an author of "Exploring Germany", a Tripadvisor level 6

Selanjutnya

Tutup

Wisata highlight headline

Akankah Manusia Masa Depan Memiliki Fisik yang "Menyeramkan"?

14 September 2017   22:44 Diperbarui: 16 September 2017   10:32 3135 2 5
Akankah Manusia Masa Depan Memiliki Fisik yang "Menyeramkan"?
Selamat datang di Sangiran (dok.Gana)

Salah satu tempat wisata yang masuk dalam daftar must visit saya dan keluarga tahun ini adalah Museum Sangiran.

Kenapa? Karena heran dengan kehebohan dunia akan museum manusia es "Oetzi" di Bolzano, Italia, yang menampilkan bentuk utuh manusia purbakala (bukan hanya tengkorak) dalam kotak kaca. Dalam kunjungan kami beberapa tahun yang lalu ke sana, kami jadi tahu manusia purba hanya berumur 4000 tahun. Jadi kami juga pengen tahu sehebat apa simpanan peninggalan sejarah di tanah air. Sehingga dari perjalanan Yogyakarta menuju Jepara, kami menyempatkan diri ke Kota Sragen. Wow, jalannya sudah dicor beton, bukan aspal. Lebar pula. Kemajuan.

Lewat giringan navigasi google, sampai juga kami di sana. Memasuki gerbang, mobil kami dihadang petugas. Saya buka jendela kaca:

"Pinten, pak? Gangsal. Dua dewasa, tiga anak." Saya tanya berapa harganya.

"Dua lima bu," Petugas melongok ke dalam, memeriksa berapa orang yang ada di dalam mobil. Kami disuruh membayar Rp. 25.000, untuk tiket 2 dewasa dan 3 anak. Uang berpindah, diganti tiket warna hijau. Tertulis; "Museum Manusia Purba Sangiran Retribusi Masuk Wisatawan Domestik. Rp 3.500,00." Satunya lagi berwarna biru dengan nominal Rp 1.500." Tiket museum ada dua? nggak ngerti.

Beberapa meter ke depan, dihadang lagi petugas. Sekarang kami diharap membayar parkir sebesar Rp. 5.000,00. Lunas.

Rombongan wisatawan lokal tampak berbondong-bondong antre memasuki lorong museum. Kami pun bergabung. Seru, senang kalau sekolah-sekolah Indonesia mendorong muridnya berkunjung ke museum, apalagi menuju world heritage list number 593 ini.

Barisan siswa sudah hilang. Giliran kami. Pertama-tama kami mengisi buku tamu.

"Diisi asing ya, buk" Kata mas petugas.

"Iya, pak." Tangan saya mulai menuliskan kelima nama kami, dari Jerman. Bukan Jejer Taman.

Rabalah daku (dok.Gana)
Rabalah daku (dok.Gana)
Kerja keras arkeolog (dok.Gana)
Kerja keras arkeolog (dok.Gana)
Gambaran Penemuan Homo Erectus

Besar sekali museumnya. Lebih besar dari yang di Bolzano. Museum itu ternyata punya tiga ruangan. Ruang pamer satu tentang kekayaan Sangiran. Ruangan ini menampilkan fosil dan replika manusia purba.

Kaki kami terus berjalan ke ruang berikutnya. Ruang pamer dua, berisi tentang langkah-langkah kemanusiaan. Di sana ada gambaran zaman triasik (245-280 juta tahun yang lalu), gambaran ikan yang menjadi fossil dan replika para penemu situs (orang asing).

Asyik. "Touch me," begitu tulisan yang terlihat di antara kepala dan gadingnya. Rayuan yang menggoda. Anak-anak mulai ribut ketika menyentuh fossil gajah yang ditemukan dan berumur 500.000 tahun lalu. Rabaan yang spektakuler! Baru pertama kali seumur hidup, membayangkan hidup di zaman itu, oh no!

Puas di ruang dua, kami hijrah ke ruang pamer tiga. Di sini mengilustrasikan masa-masa keemasan Homo Erectus, generasi pendahulu kita (dari teori Darwin bahwa manusia dari kera bukan Adam dan Hawa?).

Banyak penemuan yang dimasukkan di dalam kaca mulai tengkorak manusi purba antara lain rahang atas, rahang bawah, tulang kering, gigi taring dan ujung alat berburu dari Homo Erectus. Mata kami berkelap-kelip, memandanginya.

Ohhh, sebentar. Di ruang itu saya membaca informasi yang mengejutkan bahwa rupanya Homo Erectus diduga tak hanya sebagai pemburu tapi juga diburu oleh hewan buas waktu itu. Sungguh kehidupan yang keras. Hukum alam, siapa kuat dia yang di atas.

Tengkorak Homo Erectus (dok.Gana)
Tengkorak Homo Erectus (dok.Gana)
Tulang, rahang dan gigi (dok.Gana)
Tulang, rahang dan gigi (dok.Gana)
Sebagian penemuan situs Trinil di Belanda (dok.Gana)
Sebagian penemuan situs Trinil di Belanda (dok.Gana)
Akankah Penemuan Dubois Dikembalikan ke Indonesia?

Kami berjalan dalam barisan. Tiba-tiba, para gadis jejeritan pengen foto-foto dengan keluarga saya. Huh, saya bukan idola, nggak ada yang butuh. Ya, sudah, menyingkirrrrrr.

Tak terasa, saya berhenti di depan fragmen para arkeolog yang mencari tulang-belulang manusia dan hewan zaman purbakala. Yakin banget 100% bahwa apa yang mereka lakukan itu "juara"! sampai titik darah penghabisan alias nggak setengah-setengah.

Bangga sekali melihat paparan betapa Indonesia kaya akan situs penemuan kehidupan purbakala; Situs Semedo, Situs Perning, Situs Patiayam, Situs Tanjung, Situs Ngandong, dan Situs Trinil. Terima kasih sekali kepada dunia luar yang tertarik dan memberikan bantuan untuk menemukan kekayaan yang ribuan tahun tertimbun tanah.

Hmm. Trinil. Dari situs yang terakhir itu, saya sedikit latihan mikir, rupanya ada beberapa penemuan Dubois di sana yang disimpan di Museum Leiden. Apa pertimbangan pemerintah zaman itu hingga membolehkannya diusung ke sana? Bukankah itu milik Daerah Trinil? Bisakah dikembalikan ke tempat asal ditemukannya barang tersebut? Biar anak-cucu kita nggak perlu terbang ke Belanda untuk melihatnya? Mungkin saja saat Belanda menguasai Nusantara, prosedur membawa barang prasejarah lebih mudah daripada pemerintahan sekarang.

Ramalan evolusi (dok.Gana)
Ramalan evolusi (dok.Gana)

Benarkah? (dok.Gana)
Benarkah? (dok.Gana)
Mata melotot (dok.Gana)
Mata melotot (dok.Gana)
Benarkah Ramalan Manusia Masa Depan?

Kaki saya segera menyusul keluarga yang sudah menghilang di bagian berikutnya. Wah, ada yang menarik. Sebuah papan informasi menuliskan judul "Masih berlanjutkah evolusi fisik manusia?"

Para peramal evolusi mengatakan bahwa di masa mendatang, tampilan manusia masa depan adalah berbadan kecil, berkepala dan otak besar, serta mata agak melotot. Serem dan jelek. Cucu, cicit saya seperti itukah? Omaigot.

Mengapa diramalkan begitu? Karena dikaitkan dengan kemajuan teknologi yang membuat manusia kecanduan internet, lebih banyak mikir ketimbang berinteraksi klasik atau omong-omong, sehingga kepala dan otaknya jadi besar. Kurang gerak, sering duduk karena alat-alat digital itu, malas ngapa-ngapain karena terhipnotis, membuat tumbuh kecil. Mata agak melotot karena nggak bisa lepas dari layar HP, layar laptop, atau layar ipad.

Tolong, deh. Semoga ramalan itu tidak terjadi karena banyak juga manusia yang bijak, lho (yang jelas bukan saya). Mereka itu, menggunakan kemajuan teknologi pada porsinya alias tepat guna.

Namun menurut saya, zaman sekarang ini orang-orang termasuk golongan merunduk. Kayak padi. Bukan karena semakin berisi semakin tahu diri tapi karena mata dan badannya konsentrasi ke bawah lihat Handy!

Jadi ingat, selama di Indonesia, suami saya ngakak karena banyak orang yang ada di restauran, tempat umum, jalanan, pada sibuk sendiri-sendiri dengan HP masing-masing. Meskipun deketan duduk atau berdirinya, tapi nggak berinteraksi antar manusia tapi manusia dengan gadgetnya. Tepok jidat. Iya ya. Ngaku. (G76)