PILIHAN HEADLINE

Imbas Naiknya Suku Bunga "The Fed" bagi Kita

16 Maret 2017 10:12:37 Diperbarui: 16 Maret 2017 12:36:04 Dibaca : 394 Komentar : 3 Nilai : 8 Durasi Baca :
Imbas Naiknya Suku Bunga "The Fed" bagi Kita
sumber: investing.com

Kemarin The Fed secara resmi menaikkan The Fed rate dari 0.75% menjadi 1%. Kenaikan ini adalah fase paling agresif sejak krisis global tahun 2009. Tepatnya The Fed menaikkan suku bunga acuan dari 0,25% ke 0,50% pada Januari 2016, kemudian naik lagi menjadi 0,75% di bulan Januari 2017, dan di bulan Maret 2017 naik menjadi 1%. Banyak yang memperkirakan kenaikan ini akan berlanjut dan merupakan prakondisi atas permintaan Donald Trump kepada the Fed untuk mencetak dollar lebih banyak lagi.

Jangan meninabobokan publik seolah kenaikan suku bunga The Fed sudah diantipasi dengan baik dan seolah semuanya baik-baik saja. Berikut ini implikasi yang bisa terjadi dengan kenaikan suku bunga The Fed terhadap perekonomian Indonesia.

Implikasinya bagi Indonesia:

Rupiah kemungkinan besar akan berada dalam tekanan melemah. Dengan naiknya suku bunga The Fed, otomatis Rupiah menjadi kurang menarik karena secara teknikal selisih bunganya akan terhapus oleh tingkat inflasi. Jadi, besar kemungkinan kenaikan suku bunga The Fed akan segera diikuti oleh kenaikan BI rate oleh Bank Indonesia. Jika tidak, ancaman capital outflow di pasar modal juga akan membesar karena pemodal akan cenderung memindahkan dananya ke Amerika untuk menikmati kenaikan suku bunga yang ada.

Implikasinya bagi rakyat kebanyakan:

Ini adalah warning bagi pemegang kartu kredit yang saat ini saldonya minus. Bunga kartu kredit adalah bunga yang paling liberal saat ini. Sangat mungkin bunga kartu kredit Anda bulan depan sudah naik walaupun tanpa aba-aba dari BI. Memang secara bijak kartu kredit tersebut harus untuk mempermudah transaksi, tapi kalau digunakan untuk utang instan, risikonya sangat berbahaya. Kemudian kredit kredit lainnya, bunganya juga akan segera menyesuaikan (naik). Jadi, saatnya berhitung ulang dengan jumlah pinjaman Anda.

Implikasi bagi pasar modal:

Dunia perbankan Indonesia akan sedikit lebih dinamis. Bank-bank dengan NPL rendah akan menikmati selisih bunga pinjaman dan deposito yang makin melebar yang artinya menaikkan profit, tetapi bagi bank-bank dengan NPL tinggi justru akan menaikkan risiko kredit macet dan kesulitan likuiditas. Jadi, bagi mereka yang jual-beli saham, mengambil posisi buy pada saham bank-bank dengan NPL rendah akan berpotensi besar menguntungkan.

sumber: Biro Pusat Statistik
sumber: Biro Pusat Statistik

Implikasi bagi Pak Jokowi:

Yeah, kalau nama Pak Jokowi disebut pasti mengundang banyak orang melek walaupun sudah ngantuk. Tapi memang ini akan menjadi fase cukup sulit bagi Pak Jokowi, mengingat The Fed lama bertahan di suku bunga 0,25% sepanjang 2009 sampai dengan 2016. Proyek-proyek infrastruktur bagaimanapun memiliki komponen mata uang Dollar yang cukup tinggi. Gejolak Rupiah terhadap Dollar pasti akan memengaruhi baik besarnya investasi maupun lamanya proyek. Dengan masifnya anggaran infrastruktur di 2015 dan 2016 dengan pertumbuhan hanya 4,8% dan 5,02% termasuk prestasi yang mengecewakan karena sepanjang 2010 sampai dengan 2012 dengan anggaran yang relatif berimbang pertumbuhan bisa di atas 6%. Patut dicatat, dengan pertumbuhan yang relatif lebih rendah dibanding periode sebelumnya, APBN Indonesia di tahun 2015 dan 2016 sudah defisit.

Saran saya bagi Pak Jokowi:

Efektivitas anggaran dan realisasi proyek jangan cuma enak didengar. Prioritaskan proyek yang mempunyai dampak lebih cepat supaya bisa mendorong pertumbuhan. Tanpa pertumbuhan yang cepat, kenaikan BI rate akan berdampak pada melemahnya daya beli, biaya modal membesar dan melemahnya ekonomi secara keseluruhan, pada akhirnya akan menekan laju pertumbuhan ekonomi nasional.

Saran bagi Bank Indonesia:
Efektifkan dan perbesar pembelian Surat Utang Negara. Saat ini strategi Pembelian Surat Utang Negara yang dilakukan oleh Bank Indonesia terlalu konservatif. Dibanding utang bilateral maupun utang multilteral, utang pemerintah ke Bank Indonesia justru lebih mudah digunakan untuk mengatur kurs Rupiah. Saat ini rasio utang Indonesia termasuk kecil bahkan di kawasan ASEAN, tetapi itu tidak ada artinya jika tidak dimanfaatkan. Pada zaman Pak SBY sudah dilakukan, yang mengakibatkan rupiah perkasa dan pertumbuhan ekonomi kuat. Jadi, tidak ada salahnya mengulanginya, tentu dengan beberapa revisi dan catatan.

Goenawan

/fxjawi

TERVERIFIKASI

Insinyur mesin dari ITS Surabaya, mendalami sistem kontrol otomatis di Taiwan, pernah bekerja di beberapa perusahaan ternama sbg Engineer dan di Managemen. Sekarang menekuni pasar Modal dan pasar Uang.
Semua tulisan saya asli bukan hasil mencontek, tetapi anda boleh meng-copy paste sebagian atau seluruhnya tulisan saya di kompasiana tanpa perlu izin apapaun dari saya. Lebih baik jika dicantumkan sumbernya, tetapi tanpa ditulis sumbernyapun. it's ok

Selengkapnya...

KOMPASIANA ADALAH PLATFORM BLOG, SETIAP ARTIKEL MENJADI TANGGUNGJAWAB PENULIS.
LABEL ekonomi

NILAI :

Daftarkan email Anda untuk mendapatkan cerita dan opini pilihan dari Kompasiana