Wisata highlight

Kapan Papua Punya Jalur Lintas Alam?

21 Desember 2016   12:28 Diperbarui: 22 Desember 2016   12:28 270 1 2
Kapan Papua Punya Jalur Lintas Alam?
Bukit Teletubbies di pinggiran Danau Sentani, Papua. (dok. Syukron)

Sejak dulu, Papua adalah last frontier bagi para petualang Indonesia. Mereka yang sempat berkunjung ke sana akan memperoleh ultimate experience yang akan berpengaruh pada kehidupan mereka selanjutnya.

Zaman kuliah dulu, saya terbengong-bengong saat para senior di unit kegiatan pencinta alam menceritakan pengalaman mereka menyambangi Papua. Tentang penduduknya, alamnya, juga tentang puncak tertinggi di Indonesia yang bernama Carstensz Pyramid, yang merupakan salah satu dari tujuh puncak tertinggi di dunia (seven summits).

Medio 2009 di Gunung Sindoro, saya juga pernah berjumpa dua orang anggota KPA termasyhur di Indonesia yang berkisah tentang petualangan mereka ke ujung timur Indonesia itu.

“Gue dulu waktu muda nekat,” ujar salah seorang di antaranya. Sambil terkekeh ia melanjutkan: “Tanpa izin orangtua gue naik kapal ke Papua. Baru pas nyampe di sana gue telpon mereka. Diomelin, sih. Tapi mau nggak mau mereka kasih gue duit buat pulang.”

Sekarang, ketika akses menuju Papua semakin terbuka, berbondong-bondonglah wisatawan domestik berkunjung ke provinsi yang menjadi simbol kemenangan Indonesia terhadap Belanda ini.

Pemberitaan masif media membuat Raja Ampat jadi primadona. Kepulauan ini pun jadi Mekah bagi para petualang lokal. Saking populernya, barangkali dewasa ini orang-orang lebih paham soal Raja Ampat dibandingkan, misalnya, Burung Cendrawasih, atau Danau Sentani, atau Tugu McArthur, atau lokasi pengasingan tahanan politik di Boven Digul.

Elcamino de Santiago, John Muir Trail, dan jalur-jalur lain

Eropa punya jalur peziarahan El Camino de Santiago, yang berawal dari Prancis dan berakhir di Spanyol, yang bisa ditempuh dengan berjalan kaki selama satu sampai dua bulan. Semula adalah rute peziarahan, di masa kini di El Camino tidak hanya dikunjungi oleh orang-orang yang religius saja, melainkan orang-orang biasa yang menjajal trek ini hanya untuk mendapatkan pengalaman—atau sekadar menjaga kebugaran.

Amerika Serikat barangkali adalah negara yang paling banyak memiliki jalur lintas alam. Beberapa di antaranya yang terkenal adalah John Muir Trail dan Pacific Crest Trail, di mana para trekker akan berjalan kaki melewati beragam bentang alam, dari mulai hutan belantara, danau, sampai puncak-puncak bersalju.

Bercengkerama di Cikasur ketika sedang trekking lintas alam di Pegunungan Hyang (dok. Eka)
Bercengkerama di Cikasur ketika sedang trekking lintas alam di Pegunungan Hyang (dok. Eka)

Meskipun Indonesia terdiri dari banyak pulau, negeri ini masih kekurangan jalur trekking lintas alam yang panjang.

Barangkali yang agak panjang adalah jalur pendakian Gunung Argopuro di Pegunungan Hyang di Jawa Timur, yang jika ditempuh secara ‘serius’ paling sedikit akan memakan waktu 4-5 hari dari Situbondo sampai Probolinggo. Sementara di Sumatra, tepatnya di Nanggroë Aceh Darussalam, ada jalur pendakian Gunung Leuser yang waktu tempuhnya jauh lebih lama.

Selain dua jalur lintas alam di atas, konon di Jawa Barat juga ada jalur lintas alam yang menarik, yakni jalur mengelilingi bibir kawah Sunda Purba. Beberapa kelompok pencinta alam di Jawa Barat rutin melakukan longmarch selama sekitar satu-dua minggu menyusuri pematang Sunda Purba ini.

Lalu, ketika melihat peta Indonesia dan mata saya tertumbuk di Pulau Papua yang luasnya minta ampun, muncul gagasan dalam pikiran: Kayaknya seru kalau ada jalur lintas alam di Papua.

Jalur Lintas Alam di Papua?

Sebagai pulau kedua terbesar di dunia, geomorfologi dan keanekaragaman hayati Papua begitu luar biasa. Provinsi Papua dan Papua Barat memiliki segala bentang alam, dari mulai pantai sampai puncak-puncak gunung yang ditutupi salju abadi.

Bayangkan sensasi trekking di belantara Papua. Menengadah ke atas, Burung Cenderawasih akan melintas tak berapa jauh dari pucuk pohon yang rindang, dengan latar belakang pegunungan bersalju. Kangguru Pohon Mbaiso dan Kangguru Pohon Mantel Emas akan mengintip dari dahan, dengan mata penuh tanda tanya mengenai apa yang sedang kita—manusia—lakukan di habitat mereka. Sesekali kita juga akan menemukan Burung Kasuari raksasa yang dengan malu-malu sedang mencari makan. Belum lagi binatang-binatang pengerat endemik seperti Tikus Raksasa Mallomys dan Tikus Pohon Kecil yang akan kelihatan kalau kita benar-benar memasang mata lekat-lekat.

Jalur lintas alam yang panjang akan memancing terbukanya akses ke wilayah-wilayah terpencil di Papua. Komunitas-komunitas yang hidup di sekitar jalur lintas alam dapat diberdayakan sebagai pengelola penginapan atau fasilitas-fasilitas lain yang berhubungan dengan perjalanan lintas alam. Secara perekonomian masyarakat akan terbantu. Orang-orang dari komunitas-komunitas sepanjang jalur juga akan semakin terbiasa berinteraksi dengan orang luar.

dok. Kompasiana
dok. Kompasiana

Lalu bagaimana dengan keanekaragaman hayati? Bukankah keberadaan jalur lintas alam akan membahayakan keberlangsungan mereka? Iya, risiko tentu saja ada. Namun itu dapat diminimalisasi dengan cara merumuskan peraturan yang ketat—yang tentu saja harus diterapkan dengan tegas. Bukan tidak mungkin jika—ketika dikelola dengan baik—jalur-jalur lintas alam di Papua (yang masih dalam angan-angan ini) bisa menjadi percontohan bagi jalur-jalur pendakian gunung di seluruh Indonesia.

Ah, entahlah. Ini baru angan-angan. Entah kapan saya bisa baca postingan di Kompasiana—atau menulis postingan—yang berjudul: “Dua Minggu di Wasur Trail Papua” atau “Mencari Inner Peace di Lorentz Trail Papua” atau “Menelusuri Jejak-Jejak Tahanan Politik di Boven Digul Trail.”

https://www.facebook.com/fuji.adriza