Wisata headline

Jelajah Lautan Luas dan Pancing Ikan Makarel di Amed

13 Desember 2016   12:59 Diperbarui: 13 Desember 2016   13:30 294 4 4
Jelajah Lautan Luas dan Pancing Ikan Makarel di Amed
Memancing ikan makarel di perairan Amed, Bali Timur. (dok. Syukron)

Komang Ludra memanggul mesin kapal berkekuatan 15 tenaga kuda. Ayah dari dua anak itu berjalan ke arah perahu. Lalu, diselimuti oleh gelap dinihari dan diiringi suara ombak kecil yang menghempaskan diri dengan lembut ke daratan, dengan cekatan ia memasang mesin buatan Jepang itu di buritan. Jelas ia tidak akan mau mengambil risiko dengan hanya mengandalkan layar yang tergulung rapi di salah satu sisi perahu kesayangannya sebagai alat pendorong – angin sudah tak lagi seperti dulu. Hobi melaut, mencari ikan, membuatnya terlatih melakukan rutinitas yang lazimnya dilakukan oleh nelayan.

Bagi Komang Ludra, pemilik sebuah kafe dan bungalow di Teluk Jemeluk, kawasan Amed, Bali Timur, melaut adalah kesenangan. Hampir setiap pagi – atau sore jika pengunjung kafenya tidak terlalu ramai – ia akan melaut mencari ikan. Tidak jadi soal baginya seberapa banyak ikan yang akan dibawa pulang sekembali dari samudra.

Pagi itu, ditemani dua kawan baru – Syukron dan saya – ia tampak bersemangat sekali. Setelah semua persiapan beres, ia meminta kami meloncat ke dalam perahu. Perahu berwarna putih itu sendiri tidak terlalu panjang, hanya cukup untuk memuat tiga orang penumpang. Syukron di depan, saya di tengah. Ia sendiri duduk di bagian belakang, menguasai kemudi yang dalam bahasa lokal Amed disebut pancer. Perahu itu kemudian meluncur stabil membelah laut.

Meskipun semburat jingga sudah mulai mewarnai ufuk timur, matahari belum jua muncul. Maklum masih pukul lima pagi. Namun ia menunjuk ke arah timur. “Nanti kalau matahari terbit, Lombok kelihatan di sana,” jelasnya menunjuk ke satu sisi kolong langit yang masih gelap dan disaput awan kelabu. Betapa dekatnya Tanah Sasak dari sini.

Menyadari bahwa hari ini akan memandang dunia dari sudut yang berbeda, saya mengucap syukur. Jika setahun yang lalu saya diberikan kesempatan menyaksikan Gunung Agung dari Gili Trawangan, satu dari tiga pulau kecil yang mengambang di lepas Pantai Senggigi, Lombok, sekarang saya akan melihat lanskap dari sisi yang berlawanan.

Membaca ekspresi kekaguman pada air muka saya, ia menambahkan begini: “Nanti kita juga bisa melihat dolphin.”

Saya hanya tersenyum sebab tak mampu berkata apa-apa.

Deru mesin yang membawa perahu melaju menuju perairan terbuka ditingkahi manja oleh suara air yang berdesir merdu diterjang haluan yang runcing. Ribuan plankton berwarna biru-violet menyaru dengan buih putih yang muncul akibat gerak perahu. Pesisir Jemeluk mulai menjauh, lalu menghitam. Sebentar kemudian yang tersisa hanyalah kelap-kelip lampu rumah yang tampak seperti kemenerusan dari gemintang yang menggantung di langit.

Pegunungan yang memagari bagian timur Pulau Bali. (dok. Syukron)
Pegunungan yang memagari bagian timur Pulau Bali. (dok. Syukron)

“Dulu waktu lampu-lampu itu belum banyak, kita pulang dengan bantuan bintang-bintang,” Komang Ludra mengenang masa lalunya, juga masa lalu para sepuh yang telah lama mendahuluinya. “Sekarang lebih mudah, tinggal melihat lampu-lampu itu.”

Seiring menjauhnya kami dari daratan, pemandangan menjadi kian terbuka. Kini, yang kelihatan samar dari daratan menjadi jelas di lautan.

Di sebelah selatan, Gunung Lempuyang yang hijau dan bergerigi menyapa. Utara adalah tempatnya Gunung Agung, yang puncaknya merupakan titik tertinggi di Bali. Hari ini ia nyaris tak dihinggapi awan. Lalu, mengintip malu-malu dari balik Agung adalah Gunung Abang. Jika memiliki kemampuan menerawang, di balik Gunung Abang anda akan bisa melihat Danau Batur. Sekitar dua minggu yang lalu kami berkesempatan melewatkan malam di tepian danau itu, dari sisi yang berlawanan dengan lokasi kami sekarang.

Selain perahu yang kami naiki, masih banyak perahu lain yang juga melaut pagi ini. Saya merasa seperti sedang berada di antara kafilah kaum gipsi laut yang sedang berkelana mencari permukiman baru. Ramai sekali. Sesekali kami memapas rumpon – bangunan dari bambu yang ditambatkan menggunakan tali ke dasar samudra – yang didirikan para nelayan sebagai tempat untuk memancing ikan-ikan besar seperti mahi-mahi, tuna, dan rainbow fish (sulir atau suleh). Kata Komang Ludra, pembuatan rumpon itu bisa memakan waktu berhari-hari dan menghabiskan sampai empat rol tali sebab kedalaman dasar lautnya bisa mencapai 70-100 meter.

Bukan makarel kalengan

Setelah hampir sepuluh menit melaju, Komang Ludra mengurangi kecepatan. Ia kemudian mulai sibuk mempersiapkan alat pancingnya. Nelayan sekitar Desa Amed, termasuk Desa seberang – Jemeluk dan Bunutan, menggunakan tali khusus untuk memancing ikan di perairan kawasan yang termasyhur dengan keindahan alam bawah lautnya itu.

“Ini namanya bebulu,” jelas Komang sambil memperlihatkan tali yang bagian kailnya sudah dilengkapi dengan sejumput rambut. Untuk memancing ikan berukuran relatif kecil seperti makarel, digunakan bebulu yang memiliki banyak “tangan” atau cabang. Setiap tangannya memiliki kail yang juga sudah dilengkapi dengan rambut untuk mengelabui ikan. Karena makarel berenang bergerombol, sekali mengulur tali banyak dari mereka yang akan terkait di kail. Sementara itu untuk memancing ikan besar seperti mahi-mahi, hanya satu kail yang dipakai – ujungnya juga diberi sejumput rambut.

“Yang paling bagus itu bulunya dicampur dengan bulu kambing,” tambah Komang. “Kalau ditarik mereka lurus, tampak seperti udang.”

Setelah tali nilon itu habis terulur, Komang mengulurkannya pada saya.

“Mau coba?” Ia menjulurkan tali itu pada saya, saya menerimanya. “Rasakan kalau ada sentakan.”

Komang kembali melajukan perahu sementara saya berkonsentrasi merasakan sentakan. Tak berapa lama tali tersebut terasa semakin menegang. Saya memberikan kode padanya. Ia langsung mengambil-alih tali lalu mulai menarik. “Dapat nih,” ujarnya.

Berlatar Gunung Agung, Komang Ludra menarik bebulu yang sebelumnya telah diulur. (dok. Syukron)
Berlatar Gunung Agung, Komang Ludra menarik bebulu yang sebelumnya telah diulur. (dok. Syukron)

Dari bawah laut mulai terbias sosok memanjang keperakan. Kemudian ikan berwarna perak muncul ke permukaan, menggelepar-gelepar mendambakan air laut. Saya tangkap ikan tersebut – masih menggelepar-gelepar.

“Pegang kepalanya,” Komang menginstruksikan. Saya lakukan seperti yang ia suruh. Ketika dipegang bagian kepalanya ikan tersebut diam dan saya bisa dengan leluasa melepaskan kail dari mulutnya. “Ikan makarel,” kata Komang.

Tidak hanya satu itu. Belasan ikan lain juga ikut terpancing. Satu per satu kami melepaskannya dari kail. Sebentar saja bagian buritan perahu penuh oleh ikan makarel. Jika biasanya saya melihat makarel dalam kaleng sarden, kali ini saya dapat melihat mereka langsung – utuh dan segar sehabis dipancing.

Jika alam sedang berkenan, Komang Ludra bisa menangkap 200-250 ekor ikan makarel. “Tapi masih banyak yang bisa menangkap lebih,” ujarnya rendah hati.

Jika diuangkan, hobil melaut Komang Ludra lumayan menghasilkan sebab pada musim-musim sulit seperti sekarang – Desember – makarel bisa dihargai 1500-2500 rupiah. “Tapi jika makarel sedang melimpah harganya bisa turun sampai 500 rupiah,” ungkap Komang sambil terkekeh.

Tarikan pertama tuntas, kami beranjak ke titik kedua. Perpindahan para nelayan di Amed hanya berlandaskan perasaan. Jika mereka mendapatkan ikan di titik A kemarin, mereka berasumsi bahwa titik selanjutnya pasti berada tidak jauh dari posisi pertama.

“Itu dolphin,” secara tiba-tiba Komang menunjuk ke arah haluan. Setelah sedikit bersusah payah saya dapat menemukan sirip lumba-lumba yang dimaksud komang. Pertama saya lihat satu, lalu muncul yang lain. Beberapa kali saya melihat mereka meloncat. Sungguh, rasanya saya tak perlu lagi melihat lumba-lumba di kolam manapun.

Lumba-lumba dan nelayan di Amed telah lama menjalin love-hate relationship. Di satu sisi mereka kerap menuntun nelayan menuju kawanan ikan. Namun di sisi lain mereka sering suka seenaknya melahap makarel-makarel yang sedang diangkat para nelayan ke dalam perahu. “Lambat sedikit, habis,” ungkap Komang.

Di lokasi kedua kami mendapat lebih banyak makarel. Begitu juga di beberapa lokasi lain. Bagian buritan tempat Komang menaruh ikan-ikan perlahan mulai penuh.

Melawan Si Mahi-Mahi

Suara menggelepar dari sebuah rumpon mengagetkan kami. Seorang nelayan sedang berjuang, bertarung adu kuat dengan seekor ikan mahi-mahi. Beberapa saat mereka seolah sedang bermain tarik tambang. Satu-dua kali mahi-mahi tersebut meloncat ke permukaan. Keduanya sama-sama gigih. Namun pada akhirnya mahi-mahilah yang menang.

Melihat peluang, Komang mulai mengemudikan perahu ke arah rumpon itu. “Kita coba ikan yang lebih besar,” ujarnya, merujuk pada mahi-mahi. “Mudah-mudahan kalian beruntung.”

Ia mulai mengulur benang berukuran lebih besar dengan kail yang juga lebih besar. Sebagai umpan, ia mengaitkan seekor makarel hidup yang masih menggelepar-gelepar. Persiapan selesai, ia melemparkan umpan ke laut lalu mengulur tali pancing sejauh-jauhnya. Ia lalu memberikan tali itu ke saya. “Tidak usah ditarik ulur karena kita pakai umpan hidup,” ujarnya.

Saya pegang tali itu. Semula saya tak merasakan apa-apa. Kemudian tiba-tiba sesuatu menyentak. Resisten, saya menggenggam erat tali itu. “Nyentak, Bli!” Saya memberitahu Komang.

“Lepaskan! Lepaskan!” Perintahnya.

Namun terlambat; makarel itu raib. Resistensi membuat mahi-mahi itu leluasa memakan umpan tanpa terkait oleh kail tajam.

Komang Ludra berpose dengan Mahi-Mahi yang baru saja ditangkap. (dok. Syukron)
Komang Ludra berpose dengan Mahi-Mahi yang baru saja ditangkap. (dok. Syukron)

“Aku lupa bilang tadi,” ujar Komang. “Seharusnya kalau ada sentakan, lepaskan saja dulu. Biarkan sampai mahi-mahinya memakan umpannya. Sampai kailnya tertancap di dalam mulut.”

Percobaan kedua hasilnya masih sama. Umpan tandas namun mahi-mahi lepas.

“Yang ini pasti dapat,” ujar Komang sesaat sebelum melempar umpan untuk ketiga kalinya.

Ucapannya itu seolah doa sebab beberapa saat setelah umpan diceburkan, seekor mahi-mahi segera memakan. Ternyata teori dan praktik Komang Ludra sama hebatnya. Ia mengulur, menarik, lalu mengulur kembali tali pancing sampai akhirnya mahi-mahi itu mendekat sampai tiba di samping katir (cadik, kayu penyeimbang) kanan. Sosok memanjang warna kuning keemasan terbias dari bawah permukaan laut.

“Tolong ambil kait di depan!” Komang Ludra memberikan instruksi.

Syukron mengambil kait dari logam lalu memberikannya pada saya. Tidak terbiasa – bingung mesti mengarahkan ke kepala atau badan –  saya panik mengayun-ayunkan kait ketika ikan berkepala besar itu muncul ke permukaan, ditarik oleh Komang. Saya kurang gesit. Jadi, sebelum sempat menancapkan benda tajam itu, mahi-mahi seberat 3 kg itu sudah mendekam di lambung perahu. Beberapa saat kemudian, warnanya yang semula kuning keemasan berubah menjadi perak, untuk kemudian berganti kembali menjadi keemasan. Saya heran menyaksikan fenomena itu.

“Di dalam laut warnanya bisa lebih indah lagi,” ujar Komang.

Saya tersenyum. Barangkali memang mahi-mahi itu akan lebih indah jika berada di dalam laut. Namun sekarang bagi saya keindahan bukan lagi sekadar soal warna, rona, atau bentuk. Keindahan adalah sebuah keadaan – fisik dan mental. Ia juga sangat subjektif, tergantung dari paradigma, wawasan, dan ekspektasi masing-masing orang.

Tangkapan hari itu lumayan banyak. Setelah mencoba dua kali lagi menangkap mahi-mahi, kami kembali meluncur ke daratan.