Wisata headline

Ciremai: Dari Tanjakan ke Tanjakan

9 Desember 2016   12:00 Diperbarui: 9 Desember 2016   14:18 435 4 3
Ciremai: Dari Tanjakan ke Tanjakan
Hutan di jalur pendakian linggarjati yang masih sangat rimbun.

Udara dingin Kuningan menyambut saya malam itu. Rambut panjang saya berkibar-kibar ditiup angin. Jalan semakin menanjak. Sepeda motor itu menderu melewati Museum Gedung Perundingan Linggarjati. Pengendara ojek yang saya tumpangi harus mengatur perseneling agar motor itu bisa mengantarkan saya ke basecamp Linggarjati, salah satu gerbang pendakian gunung tertinggi di Jawa Barat—Ciremai (3078 mdpl).

Ketika kami tiba, bangunan itu sepi. Hanya ada seorang ranger sedang menonton televisi. Jalur Linggarjati memang disebut-sebut sebagai yang paling terjal di antara jalur-jalur lain Ciremai. Jarak vertikal dari Linggarjati ke puncak paling jauh di antara jalur-jalur lain—sekitar 2500 meter—sebab Pos Linggarjati berada pada ketinggian 600 mdpl. Sementara jalur Apuy dan Palutungan dimulai dari sekitar 1000 mdpl. Selain terjal, rute ini terkenal kering. Tiada mata air kecuali genangan yang muncul kadang-kadang di Pos Sangga Buana II saat musim hujan sedang mencapai puncaknya. Air harus dibawa sendiri dari Pos Cibunar. Jadi, perlu perencanaan perjalanan matang jika ingin mendaki lewat Linggarjati. Sebelum memilih jalur ini, para pendaki biasanya berpikir seribu kali. Barangkali itulah sebabnya basecamp sepi malam itu, meskipun hari Jumat.

Palutungan dan Apuy lebih landai, walaupun waktu tempuhnya lebih lama—tentu saja pengalaman yang diperoleh akan sangat berbeda dibandingkan pendakian lewat Linggarjati.

Keesokan paginya, sekitar pukul 7, saya bersama tiga kawan melapor ke Pos Linggarjati. Setelah mengisi formulir perizinan, menyertakan fotokopi KTP, dan membayar retribusi, kami diberi kantong plastik untuk sampah kami sendiri, yang ketika pulang akan diperiksa oleh petugas.

Dari Tanjakan ke Tanjakan

Hutan Gunung Ciremai salah satu yang paling rapat di antara gunung-gunung di Pulau Jawa. Dari Pos Pertama, Cibunar, kami berjalan di bawah naungan pinus. Semakin naik, pinus semakin berkurang digantikan oleh pohon-pohon lain yang lebih besar dan berbalut lumut. Sulur-sulur menggantung. Akar-akar melintang di jalan membentuk tangga-tangga alami. Sabtu pagi itu cerah. Matahari bersinar terik dan awan hanya berupa arsiran. Namun teriknya surya berhasil ditapis oleh kanopi hutan Ciremai. Tak terasa kami pun tiba di Pos Kondang Amis. Ketika sedang mengatur napas, Arul, salah seorang rekan sependakian saya, berkata, “Pendakian sebenarnya baru dimulai setelah ini.” Ah masa?

Ternyata benar. Jalur dari Kondang Amis ke Kuburan Kuda memang lebih terjal dari trek sebelumnya. Lalu, di Kuburan Kuda sudah menunggu sebuah tanjakan yang lumayan terjal—tanjakan pertama yang benar-benar menguras tenaga. Ternyata legenda keterjalan Ciremai memang benar adanya.

Banyak gunung memiliki tanjakan legendaris. Semeru punya Tanjakan Cinta, Rinjani punya Tanjakan Tujuh Bukit Penyiksaan/Penyesalan. Namun barangkali hanya Ciremai yang dikaruniai tiga tanjakan legendaris sekaligus—Bingbin, Seruni, dan Bapa Tere. Setelah Pos Pamerangan, kami berhadapan dengan tanjakan pertama—Tanjakan Bingbin. Tidak terlalu panjang dan terjal memang. Sekitar 45 menit kemudian kami tiba di Tanjakan Seruni yang lebih terjal—dan panjang. Hampir sekitar satu setengah jam kemudian barulah kami tiba di Tanjakan Bapa Tere.

Ketika hujan, tanjakan Bapa Tere akan berubah menjadi aliran air terjun.
Ketika hujan, tanjakan Bapa Tere akan berubah menjadi aliran air terjun.

Di antara tiga tanjakan itu, Bapa Tere lah yang paling terjal. Melihatnya dari bawah, saya sampai ternganga—hampir vertikal, tinggi antara 10-15 meter. Saya harus jeli benar mencari pegangan, baik berupa batu berlumut ataupun perakaran. Salah mengambil pijakan, alamat pulang ditandu ranger. Untung sudah ada yang memasang webbing yang disambung dari akar ke akar sehingga memanjat Bapa Tere terasa menjadi lebih mudah. Tapi sama sekali tidak disarankan melewati Bapa Tere di malam hari. Selain berbahaya, juga tidak ada yang bisa dinikmati mata.

Setelah Tanjakan Bapa Tere ada sebuah pertigaan. Kanan ke puncak. Mengambil kiri maka Anda akan tiba di Pos Pendakian Linggasana, yang terletak di desa yang bersebelahan dengan Linggarjati. Pos Linggasana cukup inovatif. Demi menjaring pendaki, mereka menyediakan sarapan pagi nasi goreng bagi setiap orang yang akan memulai pendakian. Lewat Linggarjati, yang akan Anda dapatkan hanyalah beberapa helai kantong plastik—dan sertifikat pendakian.

Menurut beberapa pendaki yang kami temui, Pos Batu Lingga dan Sangga Buana I sudah penuh. Sangga Buana II masih kosong, begitu pula dengan Pangasinan. Paling logis adalah bermalam di Sangga Buana II, lalu pukul 3 dinihari mendaki menuju puncak hanya dengan daypack. Meskipun posisi Pangasinan lebih tinggi sehingga perjalanan menuju puncak menjadi lebih singkat, terlalu berat untuk bergerak menuju pos itu saat hari menjelang gelap. Lagipula dari Sangga Buana II hanya perlu waktu paling lama dua jam untuk menggapai Puncak Ciremai. Maka, sekitar pukul 6 sore, setelah berjalan selama sekitar 10 jam, kami mendirikan kemah di Sangga Buana II.

Pelangi di Puncak Ciremai

Memang lebih nikmat rasanya bertahan dalam kantong tidur dibandingkan keluar tenda dan memulai perjalanan ke puncak. Namun berhangat-hangat di tenda tidak akan membawa Anda ke mana-mana. Jadi, sekitar pukul 4 dinihari, setelah mengisi lambung, kami melakukan pemanasan sebelum memulai pendakian.

Dengan headlamp di kepala, kami meliuk-liuk menuju puncak. Bau belerang yang seperti telur rebus sesekali tercium—kawah Ciremai memang besar sekali. Sesekali kami harus meloncat sebab jalan setapak tanah itu putus oleh jalur air. Saat gelap, pendaki mesti jeli mencari jalur paling enak dan tidak membuat repot.

Saat semburat mulai memancar di ufuk timur, kami tiba di Pos Pangasinan. Ada beberapa tenda di sana, di antara rumpun-rumpun edelweis yang belum mekar. Tak terbayang rasanya bermalam di Pangasinan yang terbuka dan tiada lagi ditumbuhi pohon besar.

Matahari terbit, menjelang puncak.
Matahari terbit, menjelang puncak.

Di bibir kawah Ciremai.
Di bibir kawah Ciremai.

Lampu senter sudah bisa dimatikan. Jingga di cakrawala sudah cukup untuk menerangi jalur. Selain itu, seekor burung jalak juga ikut menemani perjalanan saya, seolah jadi pemandu menuju puncak. (Ketika turun pun, seekor jalak juga menemani rombongan kami sampai Sangga Buana II.) Di timur tampak Gunung Slamet dalam latar belakang jingga, bersama-sama dengan Sumbing dan Sindoro. Di antara si kembar, mengintip Lawu yang puncaknya bergerigi. Di utara, kabut menyelimuti Waduk Darma, Teluk Cirebon, dan Laut Jawa.

Dari kejauhan terdengar suara orang beramai-ramai. Pertanda puncak sudah dekat. Ketiga kawan sependakian saya sudah lebih dulu menjejakkan kaki di tanah tertinggi Jawa Barat. Saya perbulat tekad dan berjalan mantap menuju puncak. Ketika sudah tiada lagi tanah yang lebih tinggi, pandangan saya beradu dengan kawah Ciremai yang luas dan dalam. Lalu, ketika menengadah ke atas, selengkung pelangi menyapa dari langit. Sejak sepuluh tahun lalu memulai hobi mendaki gunung, baru kali ini kedatangan saya di puncak disambut oleh pelangi.