HIGHLIGHT

Perkembangan Perkapalan di Nusantara

14 November 2010 01:11:57 Dibaca :

Perkapalan merupakan bidang yang sangat erat dengan dunia maritim. Tekniologi perkapalan yang berkembang pada masa lampau menunjukkan bahwa manusia pada masa lampau, khususnya pada masa kurun niaga (abad 15-17) sudah maju. Mereka mampu membuat kapal-kapal yang digunakan untuk melintasi samudera yang begitu luas dengan membawa ratusan ton barang dagang. Bahkan peperangan dengan menggunakan kapal sudah ada pada masa itu jadi kapal laut yang dilengkapi dengan senjata sudah ada pada masa kurun niaga.

Sumber-sumber sejarah yang dapat dilihat untuk mengkaji perkapalan ialah Arsip-arsip Daghregister para syahbandar dan administrator pelabuhan. Syahbandar merupakan sebuah jabatan penting di pelabuhan untuk mengurusi berbagai masalah perdagangan di pelabuhan. Syahbandar ini diangkat langsung oleh raja. Raja biasanya memilih orang yang memiliki pengalaman berdagang yang cukup lama. Yang tak kalah penting para syahbandar itu harus orang kaya dan memahami banyak bahasa asing karena syahbandar akan berurusan dengan para pedagang asing. Tugas syahbandar ini ialah menyelesaikan segala permaslahan yang terjadi di pelabuhan. Selain Daghregister, kita dapat memakai Undang-Undang Laut dan daftar kosakata yang disusun para pedagang di Nusantara. Dari para penulis pribumi maupun asing tidaqk banyak diungkap mengenai metereologi, navigasi, dan teknik perkapalan karena pembuatan kapal dan pelaut pada masa itu erat kaitannya dengan kepercayaan setempat. Sedangkan untuk sumber benda, tidak banyak ditemukan karena kapal yang terbuat dari kayu lebih cepat hancur.

Pada abad 20 SM bangsa Austronesia sudah mendatangi Nusantara menggunakan kapal bercadik dari arah utara. Pada masa itu kepal bercadik merupakan sebuah teknologi perkapalan yang maju pada jamannya karena kapal bercadik yang memiliki penyeimbang di sebelah kanan dan kiri kapal ini mampu melewati lautan luas. Penggunaan kapal bercadik ini dapat dilihat pada relief candi Borobudur. Lambung kapal pada kapal ini memiliki cadik yang terapung sebagai penyeimbang dan memiliki dua tiang.

Penamaan kapal dibagi menjadi tiga bagian (Kuliah Sejarah Maritim, Bondan Kanumoyoso, FIB UI) yaitu berdasarkan pada layer, lambung dan tujuan penamaan kapal. Contoh dari hal tersebut ialah, Kapal Barru dari Mandar, kapal Pinissi (berlayar tujuh) dan Kapal Pertorani dari Galesung (Sulawesi) untuk menangkap ikan

Dalam dunia perkapalan kita pun mengenal kapal dengan istilah Jung. Jung merupakan kapal laut yang besar biasanya dipakai untuk berdagang dengan jarak yang jauh ataupun untuk berperang. Jung Jawa memiliki sepasang kemudi di buritan, sebuah rumah di atas geladak. Kapasitas Jung Jawa ini berkisar 200-300 ton dan mampungi mengarungi Laut Jawa, Laut Cina hingga Teluk Benggala. Jung Jawa yang terbesara dapat mencapai hingga 1000 ton, yaitu Jung yang dipakai orang Jawa untuk menyerang Malaka pada tahun 1513. Namun Jung Jawa ini masih kalah besar dengan kapal laut yang dibawa dalam ekspedisi Cheng Ho yang beratnya hingga ribuan ton.

Jenis kapal di Nusantara bermacam-macam, ada kapal Kora-kora, Pinisi dan lain-lain. Kapal Kora-kora berkembang di kawaan Filipina, Maluku dan Indonesia bagian timur. Kapal kora-kora ini digunakan untuk perang pada abad 16. satu armada perang terdapat 200-300 pendayung yang sekaligus juga prajurit yang bersenjata panah, sumpit, pedang dan tombak. Armada kora-kora di Maluku dimanfaatkan VOC untuk melakukan Pelayaran Hongi. Selain kora-kora ada pula Kapal Pinisi yang berlayar di seluruh lautan Nusantara, bahkan hingga ke Singapura. Sejak Jung Jawa menghilang, maka Pinisi segera menggantiknnya sebagai kapal laut. Kapal ini biasanya bertiang tujuh dengan berat antar 120-200 ton. Kapal ini berasal dari Sulawesi selatan.

Pada abad 19, Belanda menguasai jalur-jalur laut dan pelabuhan-pelabuhan di Nusantara seperti Makasar, Ternate, Ambon, Banda, Kupang, Banjarmasin, Sambas, Pontianak, Palembang, Lampung dan pelabuhan-pelabuhan di Jawa. Diluar jalur tersebut perdaganagn di kuasai oleh pribumi. Ketika pemerintah colonial menggunakan teknologi kapal uap maka kapal pribumi pun menjadi semakin terancam. Keadaan semakin serius ketika KPM didirikan.

Frial Ramadhan

/frial

TERVERIFIKASI (HIJAU)

Terus berjuang dengan ikhlas...
Selengkapnya...

KOMPASIANA ADALAH MEDIA WARGA, SETIAP KONTEN DIBUAT OLEH DAN MENJADI TANGGUNGJAWAB PENULIS.

Siapa Yang Menilai Tulisan Ini ?