HIGHLIGHT

Asia Tenggara Sekali Lagi

23 November 2010 17:05:23 Dibaca :

Asia tenggara merupakan sebuah nama untuk kawasan yang berada di sebelah tenggara benua Asia setelah Perang Dunia II. Nama Asia Tenggara ini dimunculkan oleh pihak barat agar mempermudah pengawasan wilayah ini. Sebelumnya telah banyak ilmuwan-ilmuwan barat yang mengkaji tentang wilayah Asia Tenggara sebelum masuknya kolonialisme. Para ilmuwan ini menganggap bahwa hubungan antar bangsa di Asia Tenggara sebelum datangnya bangsa Eropa ini dipenuhi dengan peperangan yang kejam antar kerajaan. Karya-karya tersebut dianggap sebagai karya ilmiah yang Eropa sentris.

Para ilmuwan Eropa tersebut seharusnya melihat Asia Tenggara tidak hanya dari kacamata Eropa, namun harus dengan pendekatan lokal. Sebenarnya hubungan antar bangsa di Asia Tenggara telah ada sejak awal-awal abad Masehi (tidak tahu tepatnya tahun berapa, sumber Cina hanya menyebutkan ada kerajaan Funan dan Campa). Kekuasaan Funan berada di Siam. Pada abad ke-9, Khmer Angkor menggantikan Funan dan di Sumatera tumbuh kerajaan Sriwijaya. Khmer Angkor dan Sriwijaya tumbuh menjadi kerajaan besar di Asia Tenggara. Sriwijaya pun telah menjalin hubungan dagang dengan Cina, bahkan Sriwijaya menjadi agen perdagangan Cina.

Pada akhir abad ke-14 kedua kerajaan ini akhirnya runtuh. Kerajaan Khmer Angkor digantikan oleh kerajaan Ayuthya dan Sukhotai. Setelah kedua kerajaan ini runtuh maka muncul kerajaan-kerajaan baru di Asia Tenggara seperti Ayuthya dan Sukhotai (Siam), Toungoo dan Ava (Burma), Hue (Vietnam), Malaka dan Johor (Melayu), serta Aceh dan Majapahit (Nusantara). Kemunculan kerajaan baru ini memperkaya hubungan di Asia Tenggara.

Hubungan antar pusat kuasa di Asia Tenggara ini memiliki perbedaan dengan hubungan antar kerajaan di Eropa. Kalau di Eropa, kerajaan berdiri sendiri terpisah-pisah tanpa adanya hubungan hierarki, namun di Asia Tenggara, hubungan kerajaan di Asia Tenggara berhubungan satu sama lain dan memiliki tingkat hierarki yang disebabkan konsep perajaan, mandala, dan tributari. Ketiga konsep ini sebenarnya saling berhubungan.

Konsep perajaan ialah sebuah konsep dimana raja-raja di Asia Tenggara saling berlomba untuk mencapai taraf cakravatin. Dalam agama Budha, cakravatin ialah suatu tingkatan tertinggi dimana seorang raja memiliki kuasa yang besar dikarenakan keluhuran moral dan agama mereka. Raja-raja di Asia Tenggara biasanya membuat pagoda atau menyantuni para pemuka agama untuk menunjukkan keluhuran ini. Konsep ini pun dipakai ketika Islam datang. Kedatangan Islam di Asia Tenggara sebenarnya tidak melunturkan konsep cakravatin karena Islam pun mengharuskan seorang khalifah atau pemimpin memiliki moralitas dan harus agamis. Seorang pemimpin dalam Islam haruslah rendah hati, jujur dan amanah. Raja di Asia tenggara pun mengumumkan bahwa ia adalah seorang cakravatin contohnya Raja Annirudha (Kerajaan Pagan), dan Raja Chakraphat.

Disamping konsep perajaan, maka konsep mandala merupakan pelengkap bagi hubungan kekuasaan di Asia Tenggara. Konsep mandala merupakan konsep negara yang dimiliki oleh negara-negara di Asia tenggara. Mandala artinya bulatan, bidang kuasa raja yang berhadapan dengan raja-raja kecil. Jadi bulatan besar yang dikelilingi oleh bulatan kecil itu diibaratkan bahwa kerajaan besar harus memiliki pengikut, yaitu kerajaan kecil. Kerajaan besar yang dipimpin oleh seorang cakravatin harus mendapat pengakuan dari raja-raja kecil dibawahnya dan mengakui bagian dari mandalanya. Menurut catatan sejarah, beberapa kerajaan besar di Asia Tenggara selalu mengumumkan mandalanya, contohnya Raja Ayuthya pada abad 17 mengumumkan bahwa mandala Ayuthya meliputi seluruh negeri di bagian timurnya yakni Laos dan kamboja.

Setelah konsep mandala, maka munculah konsep tributari. Konsep tributari ini sebenarnya adalah sebuah konsep hierarki yang disebabkan ketidaksamaan taraf sebuah kerajaan di Asia Tenggara. Ada kerajaan kecil dan ada kerajaan besar. Kerajaan kecil harus mengakui bahwa kerajaannya menjadi tributari kerajaan besar dan mengakui bahwa kerajaan besar tersebut merupakan mandalanya. Setiap kerajaan kecil ini harus memberikan upeti pada waktu tertentu kepada mandalanya dan sebagai timbal baliknya, kerajaan besar tersebut harus melindungi kepentingan dari kerajaan kecil yang telah memberikan upeti. Contohnya, Malaka yang berada dibawah kuasa Siam pada awal abad 15, sebelum akhirnya Malaka menjadi tributari dari kerajaan Cina. Konsep tributari ini merupakan konsep yang memberikan kedamaian karena masing-masing kerajaan akan saling menjaga agar tidak terjadi perang. Namun jika wilayah kerajaan besar bertindihan satu sama lain maka kemungkinan akan terjadi perang, contohnya ialah perang antara Ayuthya dan Toungoo.

Dari tulisan diatas jelas bahwa telah terjadi hubungan yang baik, meskipun ada peperangan juga diantara bangsa Asia Tenggara. Hubungan tributari, mandala dan perajaan ialah hanya sebagian saja contoh hubungan antar bangsa di Asia Tenggara sebelum masa kolonialisme, masih ada hubungan lain seperti perdagangan, diplomasi dan perkawinan politik.

Frial Ramadhan

/frial

TERVERIFIKASI (HIJAU)

Terus berjuang dengan ikhlas...
Selengkapnya...

KOMPASIANA ADALAH MEDIA WARGA, SETIAP KONTEN DIBUAT OLEH DAN MENJADI TANGGUNGJAWAB PENULIS.

Siapa Yang Menilai Tulisan Ini ?