Cerpen

FDS

20 Juni 2017   13:01 Diperbarui: 13 Juli 2017   19:24 212 0 0
FDS
11780-jpg-5967657bfeb66a5a6d3ed5d2.jpg


dalam hal ini bukan berarti akan menghilangkan peran lembaga pendidikan agama nonformal yang selama ini sangat besar andilnya dalam membentuk karakter anak, justru   Madrasah Diniyah akan ditarik sebagai  patner pembelajaran. Jadi Bapak-bapak yang mengampu di Madrasah Diniyah tidak perlu khawatir,  ini justru menjadi angin segar dan konsentrasi pembinaan akhlaq siswa lebih focus dan terarah

            Aula  SMA Rimba Taruna tampak ramai,  gedung megah yang berada di lantai dua ini  baru saja digunakan pertemuan wali murid dalam rangka penerimaan rapor kenaikan kelas. Para orang tua  murid menuruni tangga dengan hati – hati, di tangan mereka tertenteng  sebuah stop map yang berisi laporan prestasi sekolah anak mereka.  Suasana tidak seperti biasanya, para orang tua biasanya bergegas pulang namun pemandangan kali ini sangat beda, mereka tampak berjalan dengan santai tetapi  berbincang  dengan serius, agaknya ada topik  yang menarik hingga mereka asyik berbincang , informasi  tentang wacana full day school ternyata sangat menarik , bahkan rapor yang ada di tangan mereka tidak lagi menjadi perhatian.

            Aku sangat penasaran, aku bangkit dari tempat duduk ku di Pendopo Sekolah, langkahku mengintip dan membidik bapak-bapak  dan ibu-ibu yang tampak antusias berbicara, sedangkan beberapa orang tua di sekitarnya tampak serius mendengarkannya.

           " La wong pemerintah kog neko-neko, coba bayangkan, sekolah kog seharian full, la trus gimana coba, anak perlu makan siang, opo arep ditanggung pemerintah he?

Sekolah pulang jam 14.00 aja sudah kelimpungan apalagi sampai sore, apa nggak klenger…?" Seorang ibu tampak emosi.

"Dah pokoknya aku gak setuju kalau anak-anak kita sekolah sampai sore… belum lagi ngajinya  gimana.. apa gara-gara sekolah trus gak ngaji gitu? Apakah hal ini justru tidak menyebabkan karakter anak jadi lebih fatal, trus siapa yang akan bertanggungjawab? Kalau ada kehancuran mental yang disalahkan para kyai, guru agama, kalau anak harus sekolah sampai sore dan gak boleh ngaji kemudian ternyata karakter anak makin bobrok , siapa yang akan bertanggung jawab ?"

Perbincangan  itu tiba-tiba menjadi forum diskusi yang serius dan makin memanas, bahkan yang tadinya mereka berbincang sambil lalu kini mereka mencari tempat duduk yang nyaman, semakin banyak yang bergabung dan semakin seru perbincangan  mereka.

Aku makin mendekat, penasaran juga aku akhirnya, melihat keseriusan dan makin hangat perbincangan ini, sekaligus aku ingin tahu tanggapan dari orang tua tentang program full day school. Sebagai tenaga pendidik di SMA Rimba Taruna , aku tertantang untuk ikut nimbrung agar persepsi masyarakat tidak salah, syukur-syukur bisa memberikan pencerahan.

Dengan hati-hati aku memulai nimbrung,

"Bapak ibu,  maaf serius sekali perbincangannya".Sapa ku sambil tersenyum, Ku jabat tangan mereka satu per satu, berbagai ekspresi yang ku tangkap, ada yang datar, ada yang menyambut hangat namun ada beberapa yang acuh.

           " Nah…ini mumpung ada ibu guru, kita bisa bertanya tentang  informasi sekolah lima hari itu, berarti anak-anak tidak ada kesempatan mengaji di rumah ya Bu ?" Tanya lelaki perpeci itu setengah berteriak.

"Oh boleh Pak, monggo kita bisa berbincang tentang wacana full day school akan saya jawab semampu saya ya Pak". Aku mencari posisi duduk sambil tersenyum kepada mereka.

"Bapak dan Ibu , tidak usah khawatir tentang itu, Full day school ini sebenarnya  berawal dari gagasan yang ingin memberikan jam tambahan dengan harapan  siswa mendapat pembinaan karakter lebih baik lagi, Bapak ibu tidak usah terlalu khawatir dengan wacana ini, karna memang tidak serumit yang kita bayangkan. Hal ini bukan berarti anak disekap di dalam kelas dengan KBM yang serius , siswa tidak dihadapkan dengan mata pelajaran yang membosankan di kelas namun  penambahan jam ini berupa ekskul yang menarik,anak bisa berinteraksi dengan teman sebaya dapat menyelesaikan tugas bersama di sekolah, sehingga anak tidak perlu membawa beban tugas ke rumah, selain itu  diharapkan dapat lebih menguatkan karakter siswa diantaranya toleransi , jujur.disiplin , cinta tanah air dan lain sebagainya."

"Masalah mengaji di rumah tentu saja boleh Pak, namun di sekolah juga diberika bimbingan  masalah agama termasuk mengaji itu Pak."

"Lalu bagaimana  nasib Madrasah Diniyah Bu?,  kalau sampai anak-anak tidak mengaji, maka banyak Madrasah  Diniyah gulung tikar, selama ini banyak anak yang mengaji di tempat saya, nah kalau sekolah lima hari berarti bikin anak tak ada kesempatan mengaji, terus bagaiman kami?"  sahut lelaki berpeci itu dengan semangat.

"Bapak, dalam hal ini bukan berarti akan menghilangkan peran lembaga pendidikan agama nonformal yang selama ini sangat besar andilnya dalam membentuk karakter anak, justru   Madrasah Diniyah akan ditarik sebagai  patner pembelajaran. Jadi Bapak-bapak yang mengampu di Madrasah Diniyah tidak perlu khawatir,  ini justru menjadi angin segar dan konsentrasi pembinaan akhlaq siswa lebih focus dan terarah. Nah , jadi tidak ada alasan untuk resah Bapak, Njenengan nanti bisa ikut serta menjadi tenaga pendidik di sekolah" formal.

Seorang ibu yang baru datang tiba-tiba  menyela,  " Maaf Bu, saya juga kurang setuju.Menurut saya, bila anak harus sekolah sampai sore justru tidak efektif, karena tidak mungkin bisa berkonsentrasi dengan baik bila kondisi lelah.  Tingkat  konsentrasi  tiap anak kan  berbeda, apalagi anak SD, tidak mungkin mereka akan krasan belajar lebih lama di sekolah, karena mereka masih anak-anak, mereka akan cepat bosan belajar,mereka masih dalam dunia bermain tidak mungkin mereka bisa dikungkung di sekolah seharian penuh. Yang anak SMA saja kalau di kelas terus juga jenuh. Pengen juga ada waktu luang untuk bermain, bermain hp.. mana bisa pagi sampai sore harus belajar."

"Bagaimana program ini bisa berhasil, bila anak-anak terpasung kebebasannya, anak-anak butuh istirahat cukup, apabila sudah waktunnya istirahat masih dipaksa untuk belajar, jelas tidak efektif, karena konsentrasi mereka sudah tidak maksimal."

"Apalagi kulo Bu",seorang bapak yang sudah berumur menyela," saya akan kelabakan kalau anak saya harus seharian di sekolah, trus yang membantu saya mencari pakan ternak  siapa? Jelas ini sangat merugikan orang tua ,  tiap hari anak saya selalu membantu saya mencari pakan kambing, menggembala , la kalau anak masih di sekolah kesempatan anak membantu orang tua justru kapan? Kesempatan bertemu dengan anak makin berkurang, apakah ini tidak makin menjauhkan hubungan antara orang tua dan anak Bu?"

Aku tersenyum," Bapak Ibu sebenarnya program ini selain untuk lebih meningkatkan pembinaan karakter siswa juga dimaksudkan untuk lebih memperhatikan faktor hubungan antara orang tua dan anak. Meskipun anak harus berada di sekolah lebih lama, namun semua aktivitas yang berkaitan dengan tugas sekolah sudah diselesaikan di sekolah, sehingga waktu di rumah full bersama keluarga, apalagi hari Sabtu dan Minggu bisa bersama lebih banyak waktu yang digunakan untuk bersama."

 Memang di perkotaan rata-rata orang tua bekerja di luar rumah. Biasanya mereka pulang sampai sore, nah kalau anak pulang jam 13 atau pukul 14, maka anak di rumah akan jauh dari pengawasan orang tua, sehingga banyak kemungkinan anak mencari kegiatan lain yang di luar pengawasan orang tua.Apabila anak tetap berada di sekolah,mereka akan tetap dalam pengawasan guru di samping siswa bisa menyelesaikan tugas di sekolah tanpa membawa beban PR ke rumah. Dengan lima hari masuk maka hari Sabtu dan Minggu anak bisa berkumpul. Namun ternyata di daerah pedesaan kita menghadapi fakta lain, karena anak memang dalam kesehariannya sudah terjadwal membantu orang tua mencari nafkah.

"Naaah.. kan, ternyata banyak banget masalah yang timbul apabila sekolah sampai sore ini benar-benar dijalankan." Seru seorang ibu.  "Saya juga sedih Bu, saya tiap sore jualan makanan di kaki lima dekat pasar, anak saya setiap hari membantu saya mulai dari persiapan memasak, membawa dagangangan ke lokasi  sampai penyiapan diwarung."

"Bila anak-anak masih di sekolah bagaimana saya bisa bekerja, sedangkan biaya sekolah saya dapatkan dari jualan, bisa-bisa dapur tidak ngepul dan ini, biaya sekolah juga hangus…Bukankah ini  justru menimbulkan masalah baru bagi orang tua yang tidak mampu seperti kami, mungkin bagi orang-orang mampu dan orang sibuk akan sangat berterima kasih karna mereka tidak usah khawatir tentang pengawasan anak-anak mereka."

Makin menarik perbincangan mereka, ternyata para orang tua yang biasanya hanya diam dan setuju apabila mendapat sosialisasi dari sekolah hari ini mereka menggeliat.

Belum sempat aku menyampaikan pendapat, seorang bapak muda angkat bicara.

"Saya pada dasarnya mendukung program FDS , menurut saya ini program yang bagus, anak bisa terkontrol dan selalu berada dalam lingkungan yang sehat dan ada pengawasan dari guru, namun juga harus diperhatikan waktu istirahat untuk siswa dan memberi waktu kepada siswa untuk bersantai juga, sehingga anak tidak merasa terpasung  yang akan membuat anak stress, apalagi bila para gurunya tidak ramah hehehe maaf lo njih Bu Guru.  Begitu juga sarana prasarana juga harus diperhatikan, sehingga anak bisa belajar dengan nyaman selain itu profesionalitas  guru harus ditingkatkan karena guru sangat berpengaruh terhadap keberhasilan belajar siswa. Saat ini masih sering kita jumpai guru yang masih jaim dan sangat membatasi hubungan dengan siswa, takut kewibawaan nya berkurang bila akrap dengan  siswa, padahal jarak yang diciptakan itu justru membuat siswa kurang nyaman bahkan bisa jadi berimbas pada kesukaan siswa terhadap mata pelajaran yang diampu Beliau."

"Maaf ya Bu, ini pandangan saya berdasarkan cerita anak saya, tapi itu hanya beberapa guru, saya yakin ibu tidak termasuk di dalamnya hehe."

Aku hanya tersenyum, dalam hatiku aku membenarkan apa yang disampaikan bapak ini, fakta seperti ini memang sering dijumpai di lapangan. Masih banyak guru yang merasa tidak nyaman bila harus bersikap akrab dengan siswa.

"Kalau saya sebagai guru swasta sih setuju-setuju saja asal ada perhatian juga."  Tiba-tiba seorang bapak berkemeja kotak-kotak itu menyela ." Njenengan tahu bagaimana guru swasta di daerah kita, HRnya tidak dapat untuk hidup, hanya cukup untuk beli bensin dan sabun saja  , makanya kami harus mencari tambahan di luar jam mengajar. La andai full day school diterapkan, maka pemerintah harus ada perhatian khusus, harus menambah penghasilan kami, sehingga kami bisa hidup tanpa mencari obyekan di luar."

"Hehe.. disyukuri njih Pak".Aku tiba-tiba jadi baper, ku tangkap resah di mata bapak itu,ku rasakan kegetiran hati bapak itu, ku coba bertanya dengan hati-hati, " Oh bagus itu Pak, emang pekerjaan sampingan Bapak apa?"

"Yah seadanya Bu, saya ngojek, membantu istri berjualan, apa sajalah yang penting halal, bahkan saya juga mengumpulkan sampah dari sekolah, kami bawa pulang untuk dijual, sehingga dua profesi guru plus pemulung , hehehe."

"Wah-wah luar biasa Bapak, hebat, Bapak…tidak apa-apa yang penting halal, semua pekerjaan Bapak sangat mulia, perjuangan untuk keluarga."

 Aku mencoba menekan perasaan ku.

 Ternyata Bapak-bapak dan ibu-ibu wali murid sangat kritis, menanggapi program yang digulirkan pemerintah  dengan berbagai argument positif , berarti masih ada kepedulian terhadap dunia pendidikan dan nasib bangsa kita ke depan , jangan khawatir bapak-bapak dan ibu-ibu, program pemerintah ini meskipun sudah melalui pemikiran dan pertimbangan yang matang, akan tetap memperhatikan masukan-masukan dari masyarakat di daerah, dan masukan masyarakat itu akan dijadikan acuan penyempurnaan program.

"Saya yakin pemerintah akan sangat bijak, apabila sosialisasi dan penerapan full day school ini ternyata justru berdampak tidak baik, maka pasti akan mengadakan  revisi program. Jadi sebaiknya jangan terlalu panik dulu."

"Kita tunggu saja kelanjutan program ini, saya yakin program full day school ini seandainya tetap dilaksanakan akan dilaksanakan secara bertahap. Karena sekolah juga harus membenahi sarana prasarana sekolah yang memadai dan juga penyiapan para pengajar yang lebih profesional."

Aku diam sesaat, kulihat wajah-wajah dengan ekspresi lega… tak ada lagi ketegangan seperti di awal pembicaraan. Kulihat seulas senyum merekah di bibir mereka,selega hatiku  bisa berbagi saat itu dengan harapan baru.