Firstyarikha Habibah
Firstyarikha Habibah Mahasiswa S2

Mahasiswa S2 Ilmu Pangan Sekolah Pascasarjana IPB

Selanjutnya

Tutup

Kesehatan highlight headline

Daripada Galau Memikirkan Jodoh, Lebih Baik Perbaiki Pola Makanmu

31 Agustus 2017   01:09 Diperbarui: 31 Agustus 2017   09:44 2831 8 4
Daripada Galau Memikirkan Jodoh, Lebih Baik Perbaiki Pola Makanmu
Perbaiki Pola Makan (gambar dari sumedico.com)

Maraknya penggunaan sosial media saat ini menyebabkan segala macam curhat yang dulunya cukup ditulis di buku diary menjadi bisa dinikmati warganet, termasuk curhat masalah jodoh. 

Untuk yang satu ini seringnya ditulis dan diungkapkan oleh perempuan yang menginjak usia 20an. Pasalnya perempuan-perempuan ini merasa sudah cukup umur untuk menikah, tapi apa daya belum ada pangeran yang meminangnya, apalagi jika teman-teman sebayanya sudah banyak yang meninggalkan status lajang. Lalu apa hubungan antara galau jodoh dengan pola makan pada judul di atas?

Jelas ada hubungannya. Jadi begini, pola makan itu kita yang membangunnya sendiri, dengan membiasakannya sehari-hari. Dengan membangun pola makan yang baik, gizi tubuh akan terpenuhi. Untuk perempuan usia 20an, yang sudah merasa mampu memasuki jenjang kehidupan selanjutnya yaitu menikah, sebaiknya perbaiki pola makan dari sekarang, cukupi gizi yang diperlukan oleh tubuh, karena dari tubuh perempuanlah kelak akan lahir generasi penerus bangsa yang diharapkan bisa menjadi generasi yang unggul dan sehat. 

Jadi kelak ketika sudah bersuami kemudian hamil, zat gizi pada tubuh sudah siap mensuplai kebutuhan janin, karena untuk menghasilkan generasi unggul persiapannya tidak dimulai sejak calon ibu mengetahui sedang hamil, tapi jauh sebelum itu. Berikut pola makan yang bisa dibentuk dan dilakukan:

1. Biasakan mengonsumsi anekaragam makanan

Konsumsi aneka ragam makanan diperlukan untuk memenuhi kebutuhan energi, protein dan zat gizi mikro (vitamin dan mineral) karena digunakan untuk pertumbuhan, peningkatan volume darah dan peningkatan haemoglobin. Jangan mengonsumsi satu pangan terus  menerus, misal mengonsumsi tempe sebagai lauk setiap hari. Memang zat gizi pada tempe baik untuk tubuh, tapi jika dikonsumsi setiap hari tanpa ada lauk yang lain, tubuh akan kekurangan zat gizi yang tidak bisa dipenuhi oleh tempe saja.

Zat gizi mikro penting yang diperlukan adalah zat besi dan asam folat. Zat besi diperlukan untuk membentuk haemoglobin yang mengalami peningkatan dan mencegah anemia yang disebabkan karena kehilangan zat besi selama menstruasi. Sementara asam folat digunakan untuk pembentukan sel dan sistem saraf termasuk sel darah merah dan sel darah putih. 

Asam folat berperan penting pada pembentukan DNA dan metabolisme asam amino dalam tubuh. Kekurangan asam folat dapat mengakibatkan anemia karena terjadinya gangguan pada pembentukan DNA yang mengakibatkan gangguan pembelahan sel darah merah sehingga jumlah sel darah merah menjadi kurang.

Seperti halnya zat besi, asam folat banyak terdapat pada sayuran hijau, daging tanpa lemak, hati, kacang-kacangan, dan biji-bijian. Konsumsi folat pada orang dewasa disarankan sebanyak 1000 gr/hari.

Wanita yang berencana hamil perlu mengonsumsi asam folat secara cukup, minimal 4 bulan sebelum kehamilan agar terhindar dari risiko bayi lahir dengan cacat pada sistem saraf (otak) atau cacat tabung saraf (Neural Tube Deffect).

2. Banyak makan sayuran hijau dan buah berwarna

Sayuran hijau seperti bayam dan kacang--kacangan banyak mengandung asam folat yang sangat diperlukan pada masa kehamilan. Sementara buah-buahan berwarna merupakan sumber vitamin yang baik bagi tubuh dan buah yang berserat dapat melancarkan BAB sehingga mengurangi resiko sembelit. Buah berwarna, baik berwarna kuning, merah, merah jingga, orange, biru, ungu, dan lainnya, pada umumnya banyak mengandung vitamin, khususnya vitamin A, dan antioksidan. 

Vitamin diperlukan tubuh untuk membantu proses-proses metabolisme di dalam tubuh, sedangkan antioksidan diperlukan untuk merusak senyawa-senyawa hasil oksidasi, radikal bebas, yang tidak baik bagi kesehatan. Mengonsumsi sayuran dan buah-buahan sebaiknya bervariasi sehingga diperoleh beragam sumber vitamin ataupun mineral serta serat.

3. Batasi mengonsumsi makanan cepat saji, jajanan dan makanan selingan yang manis, asin dan berlemak

Mengonsumsi makanan cepat saji dan jajanan saat ini sudah menjadi kebiasaan terutama oleh masyarakat perkotaan. Sebagian besar makanan cepat saji adalah makanan yang tinggi gula, garam dan lemak serta rendah vitamin dan mineral, yang tidak baik bagi kesehatan. 

Oleh karena itu mengonsumsi makanan cepat saji (fast food) seperti hotdog dan pizza serta makanan jajanan (junk food)seperti keripik dari kentang dan jagung harus sangat dibatasi. Pangan manis, asin dan berlemak banyak berhubungan dengan penyakit tidak menular (PTM) seperti diabetes mellitus, tekanan darah tinggi dan penyakit jantung.