HIGHLIGHT

Menulis Itu Terapi Hati

30 Juli 2012 15:11:13 Dibaca :

Berawal dari sebuah kejadian yang begitu memilukan pada tahun 1982. Saat itu aku hanya seorang ibu rumah tangga. Nenek tercinta yang merawatku sejak bayi hingga dewasa, meninggal dunia dalam sebuah kecelakaan lalu lintas. Beliau baru pulang dari gereja, menyebrang jalan lalu sebuah motor menabraknya. Aku protes pada Allah dan merasa Dia tidak adil. Mengapa harus nenekku? Beliau orang yang sangat baik pada siapa saja, rajin ke gereja dan sering membantu sesama. . Hatiku teramat dan pilu, duniaku hancur luluh.


Aku merasa tak seorangpun yang menyayangiku seperti beliau. Hari hari kulalui dengan derai airmata, aku malas bicara dan lebih suka menyendiri di dalam kamar. Kadang terpikir untuk mengakhiri hidup ini . Aku lupa bahwa aku masih memiliki anak anak dan suami yang begitu mencintaiku. Ayah anak anakku terus menasihati agar aku bersabar. Lama lama aku sadar bahwa seberapa besar cinta kita pada seseorang, suatu hari pasti akan dipisahkan, baik oleh kematian atau keadaan.


Aku mulai menumpahkan kesedihanku dengan coretan pada sebuah buku harian. Setiap hari kutulis apa yang kurasakan dan sungguh aneh ternyata kesedihanku mulai berkurang. Ya Allah ampuni aku yang telah mengingkari takdirMU.


Beberapa bulan kemudian, ayah anak anakku menghadiahkan mesin tik tua yang dibelinya di pasar loak. Aku mengerti ia tak mampu membelikan mesin tik baru, karena hidup kami amat sederhana. Tentu saja aku senang bukan main, walau tak bisa mengetik yang penting aku mau belajar. Diam diam ternyata dia telah membaca buku harianku, lalu menyarankan agar aku mengirim naskah ke surat-surat kabar mingguan yang ada di Jakarta. Sungguh hal yang tak terpikir olehku sebelumnya. Aku berterima kasih pada ayah anak anakku yang begitu pengertian. Disaat aku kehilangan nenek tercinta, ia terus memberi semangat agar aku menulis apa saja yang aku suka.


Setiap ingin menulis wajah nenekku terbayang . Aku berdoa dengan berurai airmata, lalu mulai menggoreskan pena. Naskah kutulis tangan agar dapat kuperbaiki jika ada yang salah. Lalu ku ketik perlahan agar tulisan tak ada coretan. Jaman itu aku mengetik dengan system 11 jari alias pakai dua telunjuk saja.


Masih kuingat judul tulisanku yang pertama “ Perceraian itu halal namun dibenci Allah” lalu kukirim ke sebuah surat kabar mingguan. Tak berharap tulisan diterbitkan karena kusadari aku bukan seorang penulis. Dua minggu kemudian datang sebuah wesel dari kantor pos dengan pesan “ Tulisan anda yang berjudul Perceraian itu halal namun dibenci Allah akan diterbitkan minggu depan. Kami tunggu tulisan anda berikutnya.” Aku melompat kegirangan sambil memeluk anak anak dan ayahnya sekalian. Minggu berikutnya tulisanku tampil dikoran. Tak terbayang rasanya menerima honor pertama tulisanku. Tak henti aku bersyukur pada Allah swt. Sejak itu setiap dua minggu tulisanku ditampilkan.


Suatu hari aku mendapat hadiah dari seorang sahabat , sebuah majalah terbitan Australia bernama " Rainbow" Majalah  berbahasa Indonesia dan Inggris ini tentang budaya Indonesia dan Australia. Siapa saja boleh menyumbang tulisan dan akan dipilih tulisan siapa yang layak ditampilkan. Lalu kukirim beberapa puisi, tak lama kemudian aku mendapat kiriman majalah dengan lampiran surat ucapan terima kasih dan pemberitahuan bahwa puisi puisiku ada di situ.   Walau tak mendapat honor, tapi hati bahagia sekali.


Beberapa tahun kemudian, badai menerpa kehidupanku. Aku berhenti menulis, aku putus asa dan merasa tak berguna.


Tahun 1994 rasa rindu untuk menulis datang kembali. Aku mulai mengirim resep masakan ke beberapa majalah wanita. Kuterjemahkan cerita-cerita anak berbahasa Inggris ke bahasa Indonesia dan kukirim ke tabloid wanita. Alhamdulilah semua dimuat dan dapat honor pula.


Pertama mengenal Kompasiana ketika masih bernama Kolom Kita ( Koki ) yang di asuh oleh alm Zev. Beberapa kali tulisan saya diterbitkan. lalu Koki pindah ke Detik.


Beberapa tahun kemudian badai kehidupan menerpaku kembali, aku terpuruk dan malas menulis. Kularikan kesedihan dengan pergi ke Amerika setahun dua kali hingga tahun 2006. Bekerja di UAE selama tiga tahun, lalu hatiku berlabuh di Australia.


Tahun 2010 mulai menulis di Kompasiana, kadang HL, terekomendasi, kadang pula biasa saja. Namun disini aku banyak mendapat ilmu dan kawanpun bertambah pula, makanya aku jatuh cinta pada Kompasiana.


Bagiku menulis  adalah terapi hati, karena disanalah letak bermacam rasa. Ketika sedih dan bahagia kutumpahkan dalam tulisan. Kadang kubagi di Kompasiana, kadang kusimpan dalam buku harian. Aku sangat bersyukur  ketika tulisanku bermanfaat bagi banyak orang. Kini tiada hari tanpa menulis.


Mimpi yang belum terwujud adalah menerbitkan buku yang sedang kutulis. (Koq susah ya nulis buku, sudah setahun belum selesai) Semangat menulis buku datang dari dua orang penulis novel senior. Kata mereka kehidupan masa lalu ku penuh liku dan inspirasi, tentu sangat bermanfaat bagi mereka yang sedang terpuruk. Terima kasih untuk kedua Novelist senior bernama PS dan LMC.


Doa dari sahabat2 Kompasianer sangat kuharapkan, semoga buku yang kutulis selesai paling lambat tahun depan. Insya Allah amin…





Fey Down

/feyfey

TERVERIFIKASI (BIRU)

A simple lady who likes the simple things in life. Menetap di kota Perth bersama suami tercinta. Berusaha menulis yang bermanfaat bagi sesama. FB Page : www.facebook.com/waspadapenipu Twitter : @feydown Instagram : @feydown Email : 1. fennydown@gmail.com 2. waspadascams@mail.com
Selengkapnya...

KOMPASIANA ADALAH MEDIA WARGA, SETIAP KONTEN DIBUAT OLEH DAN MENJADI TANGGUNGJAWAB PENULIS.

Siapa Yang Menilai Tulisan Ini ?