Teori Belajar Humanisme

20 Juni 2014 06:12:38 Dibaca :

HUMANISME


Pada akhir tahun 1940-an muncullah suatu perspective baru yang disebut dengan humanisme. Orang-orang yang terlibat dalam penerapan psikologilah yang berjasa dalam perkembangan ini, misalnya ahli-ahli psikologi klinis, pekerja-pekerja sosial dan konselor, bukam merupkan hasil penelitian dalam bidang proses belajar. Gerakan ini berkembang dan dikenal dengan sebagai psikologi humanistik. Psikologi ini berusaha untuk memahami perilaku seseorang dari sudut si pelaku.


Dalam dunia pendidikan, aliran humanistik muncul pada tahun 1960 sampai dengan 1970-an dan kemudia perubahan-perubahan dan inovasi yang terjadi selama dua dekade yang terakhir pada abad dua puluh ini pun juga akan menuju pada arah ini.


Karena pembahasan mengenai teori kepribadian humanistik ini direpresentasikan oleh teori-teori kepribadian dari Maslow, maka ajaran-ajaran dasar psikologi humanistik yang kita bahas untuk sebagian besar berasal dari Maslow. Ajaran-ajaran yang disampaikannya antara lain:




  • 1. Individu sebagai keseluruhan yang integral


Individu harus dipelajari sebagai suatu kesatuan yang integral, khas, dan terorganisasi. Dalam teori Maslow dengan prinsip holistiknya itu, motivasi memengaruhi individu secara keseluruhan, dan bukan secara sebagian.





  • 2. Ketidakrelevanan pendidikan dengan hewan


Maslow dan para teoris kepribadian humanistik umumnya memandang manusia sebagai makhluk yang berbeda dengan hewan apapun.





  • 3. Pembawa baik manusia


Psikologi humanistik memiliki anggapan bahwasannya manusia itu pada dasarnya baik, atau tepatnya netral. Menurut humanistik, kekuatan jahat atau merusak yang terdapat pada manusia itu adalah hasil dari lingkungan yang buruk, dan bukan merupakan bawaan.





  • 4. Potensi kreatif manusia


Potensi kreatif manusia merupakan potensi yang umum pada manusia, jika setiap orang memiliki kesempatan yang sama dan menghuni lingkungan yag menunjang, setiap orang dengan kreatifitasnya itu akan mampu mengungkapkan segenap potensi yang dimilikinya.





  • 5. Penekanan pada kesehatan psikologis


Psikologi humanistik memandang self-fulfillment sebagai tema yang utama dalam hidup manusia dan tidak akan dapat ditemukan dalam teori-teori lain yang berlandaskan studi atas individu-individu yang mengalami gangguan.


Ada beberapa tokoh yang meninjol dalam aliran humanistik seperti: Comb, Maslow, dan Rogers. Pengertian humanisme yang beragam membuat batasan-batasan aplikasi dalam dunia pendidikan juga menjadi beragam. Oleh karena itu, perlu adanya pengertian yang disepakati secara universal tentang humanisme dalam pendidikan. Ide mengenai pendekatan-pendekatan ini terangkum dalam psikologi humanistik.


Dalam artikel “Some Educational Implication of The Humanistic Psochologist” Abraham Maslow mencoba untuk mengkritisi teori Freud dan Behaviourisme. Menurut Abraham, yang terpenting dalam melihat manusia adalah potensi yang dimilikinya. Humanisme lebih melihat kepada sisi perkembangan kepribadian manusia daripada berfokus pada “ketidaknormalan” seperti yang dilihat oleh teori psikoanalisis Freud. Pendekatan ini melihat bagaimana bahwa manusia membangun dirinya untuk hal-hal yang positif. Kemampuan untuk betindak positif ini yang disebut sebagai potensi manusia.


Kemampuan positif ini erat kaitannya dengan pengembangan teori emosi positif yang terdapat dalam domain afektif, misalnya keterampilan membangun dan menjaga relasi yang hangat dengan orang lain, memahami perasaan orang lain, kejujuran interpersonal, dan pengetahuan interpersonal lainnya. Intinya adalah meningkatkan kualitas keterampilan interpersonal dalam kehidupan sehari-hari.


Selain menitik beratkan pada keterampilan interpersonal, pendidik yang beraliran humanistik juga menciba untuk membuat pembelajaran yang membantu anak didik dalam meningkatkan kemampuan dalam berbuat sesuatu, berimajinasi, berpengalaman, berintuisi, merasakan, dan berfantasi.


Pendidik yang menganut humanismemengedepankan peranan emosi dalam dunia pendidikan. Freudian melihat emosi sebagai hal yang mengganggu perkembangan, sementara itu humanistik manfaat pendidikan emosi. Emosi adalah karakteristik yang sangat kuat yang terlihat dari sudut pandang pendidik beraliran humanistik. Oleh karena itu, mengabaikan pendidikan emosi sama dengan mengabaikan potensi terbesar manusia. Orang dapat belajar dengan menggunakan emosi dan memanfaatkan pendekatan humanistik ini sama seperti yang didapatkan dari pendidikan yang mengedepankan kognisi.


Daftar Pustaka:


Sumanto. 2014. Psikologi Umum. Yogyakarta: CAPS (Center of Academic Publishing Service).

FerGy Veme

/fergyve.me

Menjadi yang Terbaik bukan berarti Menjadi yang Terdepan.
Selengkapnya...

KOMPASIANA ADALAH MEDIA WARGA, SETIAP KONTEN DIBUAT OLEH DAN MENJADI TANGGUNGJAWAB PENULIS.

Siapa Yang Menilai Tulisan Ini ?