Tentang Lesbian: Menulis Juga Perlu Hati

01 Juni 2012 09:18:29 Dibaca :


Sudah bukan rahasia lagi jika di kalangan Buruh Migran Indonesia Hong Kong berkelindan pasangan sejenis alias lesbi.


Kalimat ini saya kutip dari sini. Kalimat tersebut memang terkesan sederhana, namun kalau kita cermati bersama akan menjadi kalimat yang dianggap umum atau menggeneralkan (generalisasi) secara menyuluh bahwa Buruh Migran Indonesia (BMI) Hong Kong adalah lesbian atau perempuan yang menyukai sesama jenis.


Saya tidak memiliki kemampuan lebih didalam mengulas sebuah tulisan apalagi menilainya. Namun saya bisa memaparkan menurut pendapat saya yang mungkin bisa saja berbeda dengan apa yang dipikirkan orang lain.


Tulisan tersebut tambah menyebar luas dan banyak pembacanya setelah di hybrid ke Kompas.com dan masuk juga ke Freez (kompas cetak).


Hybrid dan cetak tentu adalah hak-nya pihak Kompas, namun yang saya pribadi sayangkan, setelah membaca kriteria tentang tulisan yang layak di hybrid haruslah “Komprehensif”


Komprehensif sendiri menurut KBBI artinya;


· Bersifat mampu menangkap/ menerima dengan baik


· Luas dan lengkap (tentang ruang lingkup atau isi)


· Mempunyai dan memperlihatkan wawasan yang luas



Bersifat mampu menangkap (menerima) dengan baik. Menurut pemahaman saya secara sederhana bahwa didalam mengangkat sebuah kasus atau berita tentu memerlukan pengamatan yang jeli, terkadang fakta yang dilihat tidak secara utuh, atau jika utuh cara memaknainya menjadi berbeda. Bila seseorang sudah terperangkap pada pemahaman yang subjective maka kemampuan untuk melihat sebuah fakta secara objective akan kabur. Tentu hal ini harus dihindari.


Luas dan lengkap (tentang ruang lingkup atau isi). Memiliki pengertian yang dapat saya jabarkan secara sederhana bahwa tulisan tersebut tidak dibuat hanya dengan tujuan iseng atau main-main. apalagi suatu reportase harus menghadirkan unsur 5W+H secara lengkap dan mengandung fakta yang menyeluruh bukan diambil dari bagian kecil kasus yang kemudian dijadikan pengertian atau pemahaman secara umum. Apalagi membentuk opini pembaca pada pemahaman sempit pribadi.



Mempunyai dan memperlihatkan wawasan yang luas. Sebuah tulisan tentu tidak bertujuan untuk menyesatkan pembacanya, seorang penulis harus mempertimbangkan dampak dari apa yang dia tulis. Dituntut kedewasaan untuk melihat kasus yang diangkat. Beban moril apabila kasus yang diangkat adalah kebohongan atau sesuatu yang sulit dibuktikan.


Kembali ke  tulisan yang membahas tentang lesbian di kalangan BMI Hong Kong. Memang lesbi di Hong Kong itu ada, namun tidak bisa digeneralisasi atau dipukul rata. Saya curiga, jangan-jangan karena berpenampilan tomboy lalu dikatakan sebagai anak lesbi, tentu ini sudah salah kaprah.


Penampilan tomboy atau mirip laki-laki tidak bisa dikatakan sebagai lesbi karena kadang ada anak BMI yang memang dituntut oleh majikan tidak boleh berambut panjang, berpakaian sexy, diharuskan berpakaian yang komprang dan selalu berambut pendek ala laki-laki, jadilah penampilan dia tomboy.


Hari Minggu, dimana kebanyakan BMI Hong Kong menikmati hari libur dan paling banyak di kawasan Victoria Park, memang akan banyak dijumpai para BMI yang hampir kesemuanya adalah perempuan dengan penampilan yang warna-warni. Ada yang berjilbab, berpakian kasual atau pun perpenampilan tomboy seperti layaknya laki-laki. Tentu, kalau orang yang tidak pernah tahu akan menge-cap mereka yang berpenampilan tomboy ini sebagai kaum lesbian yang bertindak sebagai lekaki dan mereka yang berpakaian feminim yang kebetulan bersama mereka akan disangka sebagai pasanganya.




Dampak dari tulisan kemarin yang berjudul “Cinta Ala Victoria Park: Pisang Tertinggal di Vagina” (sekarang sudah dihapus) telah membuat geram kami para BMI Hong Kong seperti yang ditulis di sini. Saya sendiri belum pernah mendengar kasus seperti yang ditulis dalam judul tersebut dan bisa jadi tulisan itu hanya bersumber dari “KATANYA” atau “CERITANYA” yang tentu kebenarannya amat sangat diragukan.


Pun juga tentang tulisan lesbian yang telah menyebar dari kompas.com dan kompas cetak. Saya tidak bisa membayangkan jika orang tua si-empunya foto yang terpajang tanpa diburamkan bagian wajah atau mata tersebut melihat anaknya di Hong Kong seperti yang diceritakan dalam tulisan, meskipun menurut penulis sudah minta ijin sama pemilik foto. Bukankah  nomor polisi saja tidak boleh dibeberkan seenaknya ke media?



Dari apa yang saya uraikan di sini, mungkin mengandung pendapat saya secara subjective. Namun jauh dari lubuk hati yang terdalam sesungguh saya ingin menggugah penulis agar benar-benar memperhatikan apa yang ditulisnya. Tanpa sadar tulisan tersebut telah melukai hati banyak orang. Bahkan orang tua yang jauh dari di kampung halaman ikut merasakan hal yang sama. Alangkah bijaknya, apabila suatu penulisan dipikirkan dampaknya bagi orang banyak. Apalagi suatu tulisan yang masih perlu dibuktikan kebenarannya.


Tentu hal ini juga kiranya menjadi perhatian bagi pengelola media sosial yang kemudian memblowup cerita tersebut menjadi lebih luas dan dikonsumsi masyarakat luas. Mungkin sebuah daya tarik sendiri untuk menaikkan pembaca tetapi alangkah naifnya kalau hanya mengandalkan tujuan ini dan mengorbankan puluhan ribu perasaan yang sudah terluka.


Saya tidak mewakili siapa-siapa, saya hanya mewakili pribadi saya yang mungkin hanya memandang dan melihat persoalan ini dalam kacamata sempit saya sebagai seorang BMI. Saya tidak tahu dimana lagi hati nurani manusia apabila dengan begitu mudahnya menyakiti orang lain, jujur hati saya cukup miris.


__


Tulisan curhat dari seorang BMI Hong Kong yang masih belajar menulis, melihat fakta dan kenyataan yang ada dan bukan mengandalkan “KATANYA” dan “CERITANYA”.







Fera Nuraini

/fera_nuraini

TERVERIFIKASI (BIRU)

Lahir di Ponorogo. Doyan makan, pecinta kopi, hobi jalan-jalan dan ngobrol bareng. Lebih suka menjadi pendengar yang baik.
Mampir juga ke sini ya, kita berbagi tentang BMI
http://buruhmigran.or.id/
dan
di sini juga ya
www.feranuraini.com

Selengkapnya...

KOMPASIANA ADALAH MEDIA WARGA, SETIAP KONTEN DIBUAT OLEH DAN MENJADI TANGGUNGJAWAB PENULIS.
FOKUS TOPIK KOMPASIANAA

Siapa Yang Menilai Tulisan Ini ?