Febroni Purba
Febroni Purba Jurnalis

Warga negara biasa, asli dari Kota Medan, Sumatera Utara. Sekarang tinggal di Jakarta. Pegiat media. Penjelajah lokasi peternakan: Padang, Balaraja, Bogor, Sukabumi, Karawang, Lembang, Bandung Barat, Yogyakarta, Bantul, Sidoarjo, Lombok Timur, Perak, Selangor. Alamat surel: febroni_purba@yahoo.com. Facebok: https://www.facebook.com/febroni.purba. Blog: https://febronipurba.wordpress.com/

Selanjutnya

Tutup

Refleksi Hari Pangan Sedunia

16 Oktober 2015   11:38 Diperbarui: 16 Oktober 2015   11:58 92 0 2

Tanggal 16 Oktober diperingati sebagai Hari Pangan Sedunia. Namun, apa yang perlu kita ingat dari perkara pangan? Sudahkah negara mampu menghadirkan pangan secara mandiri dan berdaulat? Sudahkah petani sejahtera dari hasik keringatnya? Apakah pangan yang kita makan berasal dari hasil tanah sendiri atau dari tanah negara lain? Sulit untuk mengatakan bahwa negara sudah menjamin pangan secara mandiri dan berdaulat. Di tanah air ini hampir semua bahan pangan diimpor: beras, kedelai, jagung, daging sapi, gula, ikan, garam, dll. Baru berapa hari yang lalu, pemerintah telah menyetujui impor beras 1 juta ton. Alamak!

Lalu bagaimana nasib petani? Data menyebutkan lahan petani sekarang rata-rata kurang dari 0,5 hektar. Lahan sempit untuk bertani tak cukup menopang perekonomian keluarga petani. Sedihnya, lahan mereka pun kerap tergadai untuk kepentingan korporasi: kebun dan tambang.

Masih hangat dalam ingatan kita kematian Salim Kancil lantaran menolak penambangan pasir di daerahnya. Ia pertaruhan nyawanya demi sawahnya, tempat dia bercocok tanam. Sejatinya, Salim telah melakukan bela negara dalam kapasitasnya sebagai petani. Kasus Salim tidak sendiri, masih banyak Salim lainnya yang mengalami hal yang harusnya dibela negara.

Perkembangan teknologi pangan di tanah air perlu ditingkatkan. Peran ini dimainkan oleh lembaga penelitian atau perguruan tinggi. Namun, setelah 70 tahun merdeka, hasilnya tak terlalu signifikan. Penelitian pertanian boleh dibilang belum sepenuhnya membumi. Penelitian masih sekadar memenuhi syarat wisuda bagi mahasiwa dan syarat naik pangkat bagi dosen.

Saya kaget sekaligus sedih mendengar bahwa ternyata salah satu perguruan tinggi kebangsaan Indonesia, Institut Pertanian Bogor, rupanya nyaris belum bisa maksimal dalam menghasilkan teknologi untuk diterapkan petani. Guru Besar Fakultas Peternakan IPB Muladno Basar​ membeberkan, teknologi yang dihasilkan dari IPB hanya 2,5 persen saja yang sampai ke petani. Sisanya, 97,5 persen ngumpet di dosennya sendiri. Otokritik yang cukup pedas. Semoga menjadi bahan renungan bagi perguruan-perguruan tinggi lainnya.

Refleksi hari pangan sedunia ini harus menjadi semangat mendorong perbaikan di sektor pertanian. Selama manusia masih memubtuhkan pangan maka selama itu keberadaan pangan perlu dijaga supaya terus ada. Pangan, kata Bung Karno, adalah soal hidup matinya sebuah bangsa. Jika suatu bangsa kesulitan mendapat pangan, hancurlah bangsa itu.