Kompas: Tendensius, Rabun Dekat, Pro Amerika Serikat

15 Agustus 2012 19:25:33 Dibaca :
Kompas: Tendensius, Rabun Dekat, Pro Amerika Serikat
Kompas: Dok Pribadi

Bagi Muslimin, hari-hari terakhir Ramadhan adalah oase segar jelang sebuah diri yang bersih di Hari Idul Fitri. Tapi tidak bagi Kompas. Koran justru rabun dekat dan kehilangan kompas akal sehat dan toleransinya. Pada Rabu, 15 Agustus 2012  pukul 17.00, koran menurunkan sebuah berita bertajuk "Demo Anti AS Macetkan Jalan Thamrin". Pada intinya koran menuding ribuan demonstran yang turun ke jalan-jalan memperingati hari solidaritas internasional Palestina, atau kerap disebut Hari Al Quds, sebagai biang kerok kemacetan di jantung metropolitan. Koran menulis: "aksi unjuk rasa di Bundaran Hotel Indonesia ... menyebabkan lalu lintas di jalan MH Thamrin macet parah. Hinggal pukul 16:30 WIB, kemacetan panjang terjadi khususnya dari arah Monas menuju kawasan Jalan Sudirman." Kompas hanya mengungkap separuh cerita. Ini yang mereka sembunyikan ke khalayak pembaca: 1. Di sore yang sama, Istana Kepresidenan membangun podium tetamu peringatan 17 Agustus di luar pagar Istana Negara. Bangunan podium sedemikian besarnya hingga memakan separuh badan Jalan Medan Merdeka Utara. 2. Reporter Beritaprotes.co yang melintas di Medan Merdeka pukul 16.00 tak mendapati adanya kemacetan parah seperti yang digambarkan Kompas. Dari tikungan Medan Merdeka Utara ke simpan Sarinah, dengan bermobil reporter kami hanya perlu kurang dari 10 menit. Memang, kendaraan padat. Tapi ini karena bertepatan dengan waktu pulang kantor, sekaligus imbas pencekikan ruas jalan di depan Medan Merdeka Utara. Tapi kepadatan itu cepat terurai. Dua tiga polisi lalu lintas mengawal setiap persimpangan Thamrin dan Sudirman. 3. Hari demi hari dalam satu dekade terakhir, Bundara HI selalu saja macet setiap sore jelang pukul 4. Salah satunya penyebabnya yang tak pernah berani dituliskan Kompas adalah kemacetan itu adalah harga yang harus dibayar penduduk Jakarta setelah polisi memberi akses kelancaran arus kendaraan pada Kedutaan Amerika dan kompleks-kompleks pemerintahan di Medan Merdeka. Sudah rahasia umum kalau lampu merah di seputaran Medan Merdeka disetel lancar dan ini berujung pada berpindahnya kemacetan ke ruas-ruas jalan terdekat. 3. Bahwa kemacetan sore itu tak ada beda dengan kemacetan parah di hari-hari sebelumnya. Banyak media telah menuliskan kalau hampir semua ruas jalan Jakarta dalam 2-3 hari terakhir kerap macet parah. Di Thamrin dan Sudirman khususnya, kemacetan dipicu oleh membludaknya orang-orang ke mal-mal mewah dan pusat perdagangan. 4. Kemacetan di Bundaran HI pada sore itu terjadi bahkan sebelum ribuan demonstran mulai berkumpul di depan Kedutaan Amerika Serikat, sekitar pukul dua siang! Jika fakta itu menunjukkan rabun akut pada redaksi Kompas, paparan koran soal demonstrasi besar di depan Kedutaan Amerika Serikat kental dengan tudingan, prasangka dan propaganda. Koran menulis: "Sebelum tiba di lokasi Bundaran HI, para pengunjuk rasa lebih dulu berunjuk rasa di Kedutaan Besar Amerika Serikat, Jalan Medan Merdeka Selatan, Jakarta Pusat. Para demonstran tampak menyanyikan yel-yel bernada hujatan serta cacian kepada AS dan Israel. "Amerika musuh Islam, Amerika musuh Allah," teriak pengunjuk rasa”.” Kompas benar soal banjir hujatan di depan pintu gerbang Kedutaan Amerika. Yang koran sembunyikan adalah fakta bahwa hujatan itu punya konteks besar – dan reporter Kompas tahu soal ini. Mereka yang berorasi sore itu menyebutkannya dengan jernih. Amerika dihujat sebab jadi biang kerok pembantaian massal, kekecauan dan ketakadilan dunia modern. Amerika yang membomatom Nagasaki dan Hirosima. Amerika yang membunuh ratusan ribu orang di Vietnam. Amerika yang menginvasi negara berdaulat Irak, Afghanistan, dan Libya. Amerika yang mengancam membomatom negara berdaulat Iran. Amerika yang mensponsori Al Qaeda untuk berbuat kekacauan di Suriah. Israel? Kompas hanya tak punya nyali menuliskan isi orasi demonstran Hari Al Quds. Toh, fakta kebiadaban dan penjajahan Israel atas Palestina sudah sebanyak air lautan yang menampir pesisir pantai. Soalnya memang lagi-lagi prasangka. Koran seperti sengaja mendorong pembacanya tak bersimpati pada demonstrasi solidaritas Palestina dengan ‘mengaitkannya’ dengan soal-soal klise macam kemacetan di Bundaran HI. Adakah yang terakhir karena Kompas ingin menyembunyikan fakta kalau demonstran Al Quds sore itu menyuarakan penentangan keras terhadap rencana pembangunan gedung baru Kedutaan Amerika; yang berbarengan dengan rencana Kedutaan Amerika menghancurkan gedung bersejarah Perdana Menteri Sjahrir yang mereka okupasi diam-diam selama beberapa dekade? Demonstrasi di depan Kedutaan Amerika sore itu jadi saksi betapa ribuan demonstran berebut menorehkan teken penentangan pada rencana Kedutaan Amerika. Ini kali pertama dalam sejarah penentangan itu dibubuhkan di selembar kain besar dan disaksikan banyak wartawan. Sayang, Kompas sama sekali tak menyebutkannya -- walau sepatah kata! Berikut lokasi komplek Kedubes AS di Jalan Medan Merdeka Selatan sangat membahayakan keamanan nasional Indonesia karena: 1. Hanya sejengkal dari Istana Wakil Presiden; 2. Hanya 100 meter dari Kantor Gubernur DKI; 3. Hanya 100 meter dari Gedung DPRD DKI; 4. Hanya 140 meter dari Gedung Lemhanas; 5. Sangat berdekatan dengan gedung pusat Telkom; 6. Hanya 250 meter dari Istana Negara; 7. Hanya 240 meter dari kantor Mahkamah Agung; 8. Hanya 200 meter dari Markas Besar TNI AD; 9. Hanya 220 meter dari Kantor Kementerian Dalam Negeri; 10. Hanya 40 meter dari kantor Kementerian Perdagangan; dan banyak lagi.

13450627039105376
Get Out America. Photo dok Pribadi
13450605261058913317
Sekitar 5.000 tanda tangan penolakan pembangunan Kedutaan AS di area strategis RI. Photo dok Pribadi
1345058618892548314
Apakah Kompas tidak membaca ini?

Zero Dark

/fazaoff

Anti celana ngatung dan celana kombor ala Taliban!
Selengkapnya...

KOMPASIANA ADALAH MEDIA WARGA, SETIAP KONTEN DIBUAT OLEH DAN MENJADI TANGGUNGJAWAB PENULIS.
FOKUS TOPIK CERITA MERAH PUTIH

Siapa Yang Menilai Tulisan Ini ?