Tekno

Sudah Saatnya Kaltim Kembangkan EBT

11 Juli 2017   14:03 Diperbarui: 11 Juli 2017   14:25 196 2 2
Sudah Saatnya Kaltim Kembangkan EBT
limbah-kelapa-sawit-potensi-menjadi-ebt-png-59647b95c2d9186192355383.png



Walaupun Kalimantan Timur memiliki cadangan minyak, gas bumi, dan batu bara yang cukup hingga 20 tahun mendatang, namun ini seharusnya tidak menjadikan alasan pemerintah untuk menunda pengembangan Energi Baru Terbarukan (EBT) dalam pemenuhan listrik di daerah yang sulit dijangkau.

Terbukti masih banyak daerah-daerah pelosok yang tidak mendapatkan aliran listrik secara maksimal, semisal di Kabupaten Paser, menurut Yusriansyah, Bupati Paser, dari 139 Desa ada sekitar 40 Desa belum teraliri listrik. Hal ini dikarenakan besarnya biaya yang dibutuhkan ketika mentransmisikan listrik tersebut.

Pengembangan EBT ini sendiri akan sejalan dengan program 35.000 Megawatt (MW) dalam meningkatkan rasio elektrifikasi.

Ada banyak potensi EBT yang dapat dikembangkan di daerah mulai dari skala kecil hingga besar, sebagai contoh Wilayah Kalimantan Selatan, Kalimantan Barat, dan Kalimantan Tengah telah berupaya membangun Pembangkit Listrik Tenaga Biomassa (PLTBm) dengan bahan bakar cangkang kelapa sawit, hal ini telah disampaikan Djoko Rahardjo Abumanan, Direktur Bisnis Regional Kalimantan PLN, dalam penandatanganan MoU guna memperlancar pembangunan PLTBm. Dan tidak menutup kemungkinan Kaltim juga mampu mengembangkan hal serupa.

Jenis EBT lainnya seperti pembangkit listrik tenaga surya, pembangkit listrik tenaga mini hidro, atau penanaman pohon kedondong di daerah yang sulit dijangkau untuk dimanfaatkan menjadi energi listrik seperti yang telah dikembangkan oleh Naufal Raziq, remaja berusia 15 tahun dari Aceh dapat pula digalakkan.

Selain pemenuhan listrik ke desa-desa, hal lain mengapa Kalimantan Timur perlu mengembangkan EBT adalah untuk mengurangi konsumsi minyak, gas bumi, dan batu bara. Bukan lagi rahasia jika energi fosil ini menghasilkan emisi yang sangat tinggi hingga mencapai 30% dan menjadi penyebab utama pemanasan global. Disisi lain hutan Kalimantan Timur yang berfungsi sebagai penyerap karbon dioksida, jenis emisi yang dihasilkan bahan bakar fosil, mengalami penurunan luas lahan akibat kebakaran hutan yang terjadi.

Pemerintah seharusnya sedini mungkin memperhatikan hal tersebut. Kita tidak harus menunggu hingga cadangan minyak, gas bumi, dan batu bara habis, atau menunggu hutan semakin sedikit dan polusi udara semakin meningkat akibat pembukaan lahan yang terus-menerus dilakukan.

EBT menjadi solusi untuk memenuhi kebutuhan listrik di daerah-daerah yang sulit dijangkau, dan menjadi bagian dari pengurangan pemanasan global.


Penulis:

Fatma Arfan, ST

Mahasiswa Magister Energi Universitas Diponegoro, Semarang

fatmarfan@gmail.com