HEADLINE HIGHLIGHT

Maaf, Sungguh bukan Maksudku Merebut Suamimu

06 Januari 2011 15:20:09 Dibaca :
Maaf, Sungguh bukan Maksudku Merebut Suamimu
-

Di luar langit demikian kelabu. Musim yang tak pernah pasti , membuat tak ada yang secara pasti  mampu memprediksi kapan banjir berhenti jadi ancaman di kotaku.  Persis seperti kehidupan. Tak ada yang bisa meramalkan apa yang akan terjadi bahkan untuk detik berikutnya. Seperti juga tak ada yang mampu meramalkan, bahkan aku pun tak pernah mengira,  bahwa suatu hari nasib akan membawaku menjadi istri kedua. Dingin menusuk-nusuk pori-poriku. Memekatkan sepi yang telah berhari-hari ini menawan kerinduanku. Entahlah, masih adakah hakku untuk memiliki rindu dan menyebut namanya, setelah berpuluh, beratus, bahkan ribuan orang menghujatku. Menghujat cintaku. Sedemikian hinakah aku di mata mereka? Mengapa tiap kali ada pernikahan kedua, orang selalu sinis dan memvonis bahwa istri kedua telah merebut atau mengganggu suami orang. Ah sedemikian hinakah istri kedua? Kalau saja ada sekali saja kesempatan untuk berbicara, akan kukatakan kebenaran yang mungkin tak pernah mereka  sangka. Tapi mana pernah ada yang  peduli? Mana pernah ada yang  mengerti bahwa seorang istri muda sepertiku juga manusia. Manusia yang punya perasaan: cinta, rindu, dendam, amarah, sakit hati, bahkan rendah diri! Pernahka ada yang berpikir bahwa sebagai perempuan, tak pernah sekali pun aku dulu bercita-cita atau bermimpi menjadi perempuan ke dua dalam rumah tangga orang lain. Sungguh tidak.  Aku pun tak ingin berbagi. Berbagi cinta, apalagi berbagi suami.  Tapi tangan takdir menuntunku duduk di pelaminan, hanya sebuah karpet dan dampar kayu sederhana, dengan dua orang saksi penjaga mushala dan teman Mas Khrisna, tanpa sanak famili, tanpa pesta sebab aku didipinang dan dinikahi diam-diam. Dunia benar-benar tak adil bagiku. Tapi tak apa, aku bahagia. Akhirnya kutemukan lelaki yang kucinta. Lelaki mapan dan matang. Penuh pengertian dan penuh cinta. Mas Khrisna... ya, siapa yang tak luluh olehnya?  Ia jauh lebih sempurna dari lelaki-lelaki yang pernah hadir atau hampir hadir di hatiku.  Meski harus menjadi istri kedua, dinikahi demikian sederhana, aku bahagia. Menjadi istri Mas Khrisna adalah kebahagiaan bagiku. Namun, kebahagiaan itu tentu saja harus kubayar mahal. Pernahkah Mbak membayangkan betapa hatiku tinggal serpihan-serpihan.... Aku pun perempuan, sama seperti Mbak  yang istri pertama. Aku juga punya mimpi dipinang penuh penghormatan, dinikahi dalam pesta walimatul ursy yang khidmat dan indah. Aku pun bermimpi semua yang Mbak mimpikan, menikah dan pesta perkawinan. Tapi tangan takdir menuntun kami menikah diam-diam, bahkan harus dirahasiakan. Lalu sejak itulah, hidup bagi ku seperti memegang bara api.  Hangat, terang, namun kadang-kadang panas menyengat. Kadang ingin kulepaskan api itu, tapi aku butuh kehangatannya, seperti aku selalu membutuhkan Mas Khrisna, mencintainya. Namun, seringkali aku tak kuat menahan hujatan dan tatap penuh kebencian. Oh, salahkah aku? Mas Khrisna menikahiku diam-diam karena tak ingin Mbak sakit hati dan tak ingin anak-anak marah dan malu. Sebab bapaknya menikahi seorang perempuan muda yang hampir pantas jadi anaknya. Mbak takkan pernah mengerti betapa apa pun aku lakukan untuk membunuh cemburu yang makin lama makin menggunung padamu? Aku cemburu sebab aku tahu,  Mas Khrisna , bagaimanapun tetap menempatkan Mbak sebagai perempuan luar biasa. Aku takkan pernah bisa menggeser posisi Mbak itu, apalagi menggantikannya. Betapa cemburunya aku, tiap kali  giliran Mas Khrisna mengunjungi Mbak. Aku takut. Sangat takut Mas Khrisna takkan kembali lagi padaku. Itulah sebabnya,kulakukan apa pun untuk mempertahankan perkawinanku dengan Mas Khrisna. Aku sadar, aku hanya mendapat sisa cinta Mas Khrisna. Sesuatu yang barangkali sangat berbeda dengan yang Mbak kira selama ini. Ya, hati Mas Khrisna  masih utuh untukmu, hanya sedikit saja untukku. Mbak tak percaya?  Bayangkan, contoh-contoh kecil ini menunjukkan betapa hati Mas Khrisna tetap untukmu, bukan untukku.  Setiapkali ia bicara soal makanan, pakaian, penataan rumah, bahkan cara melipat selimut, ia selalu menyebut namamu.  Ia selalu memintaku meniru caramu. Bahkan suatu malam, aku menangis tersedu, saat ia menyebut nama Mbak saat memelukku.  Mbak...,aku memang istri muda, madumu, tapi aku tetap manusia. Aku cemburu.  Sama seperti Mbak, yang mungkin juga cemburu dan marah ketika mengetahui Mas Khrisna telah mengawiniku. Tahukah Mbak, bila ada pilihan untukku: aku akan memilih jadi istri pertama dan istri satu-satunya.  Atau kalaupun pilihan itu hanya ada dua : jadi istri pertama yang dimadu atau jadi istri kedua, saya akan pilih jadi istri pertama. Aku yakin Mbak akan mencibirkan bibir dan mengatakan, "Kau tak pernah tahu bagaimana rasanya bila suamimu direbut orang?" Ya, Mbak benar. Tapi Mbak tak pernah tahu rasanya selalu disalahkan, dituduh merebut suami orang, pengganggu, perusak rumah tangga orang. Mbak pasti takkan mengira bahwa Mas Khrisna  memuja Mbak demikian tinggi tanpa pernah menyadari bahwa Mbak demikian berarti. Aku sendiri tak pernah tahu apakah aku sanggup menguasai hatinya seperti Mbak menguasai hatinya. Rasanya tak pernah, takakan pernah bisa. Ia mencintai Mbak bukan karena kecantikan fisik Mbak yang mulai berkurang. Tidak, ia mencintai cara Mbak bicara, cara Mbak duduk, masakan Mbak, cara Mbak berpakaian. Ia mencintai mimpi Mbak,  hati Mbak.  Ia mencintai Mbak apa adanya. Tidak seperti cintanya padaku yang lebih karena kecantikan dan kemudaanku.  Semua itu pasti akan sirna seiring bertambahnya usiaku. Maka mengertilah, Mbak, mengapa aku begitu giat merawat diri, terus berupaya tampil menarik di hadapannya. Meski tak bisa mencegah proses penuaan ini,  setidaknya aku harus sanggup selalu tampil menawan, cantik, dan harum untuk Mas Khrisna. Aku harus mau menjadi seperti yang Mas Khrisna inginkan agar ia tak meninggalkanku.  Sedang Mbak, takperlu harus bersusah payah menjadi orang lain. Mbak... betapa irinya aku padamu. Mbak pernah memiliki Mas Khrisna sendiri.  Mbak mendapatkan hatinya utuh, bukan sisa. Sedang aku.... Hiks. Di atas semua itu, amat jahat menuduhku menikah dengan Mas Khrisna hanya untuk mendapatkan harta dan kedudukan sosial yang tinggi. Tidak, Mbak. Fitnah itu luar biasa kejam. Aku bersedia menikah dengan Mas Khrisna karena aku mencintainya. Ya, aku mencintai Mas Khrisna. Benar kekayaan dan kedudukan Mas Khrisna juga menjadi daya tarik yang luar biasa bagiku. Mana ada perempuan yang tak tergodamelihat lelaki setampan, sekaya,  dan sebaik mas Khrisna? Takkan ada Mbak. Termasuk aku. Tapi, itu bukan faktor utama. Aku bekerja dan orang tua ku punya bisnis besar yang Mbak juga tahu soalitu. Masalahnya: aku benar-benar mencintai Mas Khrisna. Dan, diam-diam aku takut akan ada perempuan ketiga dan keempat yang akan meminta jatah cinta Mas Khrisna yang sudah terbagi antara Mbak dan aku. Akupun, dihinggapi rasa takut yang sama sepertimu. Mbak, maafkan aku bila menyakiti hatimu. Aku takkan undur dari perkawinan ini. Apa pun yang terjadi. Hujatan dan makian padaku adalah resiko. Aku mencintai Mas Khrisna dan akan terus mempertahankan perkawinan ini selamanya. Apalagi kini di rahimku telah hadir darah daging Mas Khrisna. Bukti cinta kami. Semoga suratku ini MBak baca hingga selesai. Setidaknya agar Mbak mengerti.

Faradina Izdhihary

/faradinaizdhihary

Beberapa puisi saya dimuat di Surabaya Pos, Jurnal Bogor, Sari Swara dan masuk antologi Merah Yang Meremah (2009), Perempuan dalam Sajak (2010), Kenang Sebayang (2010) dan kumpulan puisi relijius saya "Tuhan, Aku malu" terbit akhir Sept. 2010. Beberapa cerpen saya antara lain dimuat di Mlang Pos, Sari Swara, Koran Klaten, Horison, Suara Karya, Story, dan Hai.
Selengkapnya...

KOMPASIANA ADALAH MEDIA WARGA, SETIAP KONTEN DIBUAT OLEH DAN MENJADI TANGGUNGJAWAB PENULIS.

Siapa Yang Menilai Tulisan Ini ?