HEADLINE

Solusi Macet Jangka Pendek

07 Agustus 2011 19:18:45 Dibaca :

Kemacetan sudah menjadi momok bagi kita semua. Bukan hanya bagi warga Jakarta, melainkan juga bagi saudara-saudara sebangsa maupun pelancong mancanegara kala berkunjung ke Jakarta. Tak sedikit yang menghindari Jakarta. Pelancong Malaysia tujuan Bandung lebih senang menggunakan penerbangan langsung Kuala Lumpur-Bandung ketimbang via Bandara Soekarno-Hatta. Jajak pendapat di website www.faisal-basri.com menempatkan kemacetan sebagai masalah utama di Jakarta. Dari 143 responden, 84,6 persen menyatakan kemacetan sebagai masalah yag paling utama harus diselesaikan oleh Gubernur terpilih pada Pemilukada 2012. Penyebab utama kemacetan adalah kapasitas jalan yang tak memadai dibandingkan dengan jumlah kendaraan. Seorang ahli tatakota dari Jerman beberapa bulan lalu menyatakan, agar terbebas dari macet, luas jalan dan areal parkir yang dibutuhkan adalah sekitar 40 persen dari keseluruhan lahan di Jakarta. Sekarang hanya sekitar 15 persen. Tentu saja prasyarat itu terlalu mewah bagi Jakarta. Penyelesaian lainnya ialah pembatasan jumlah kendaraan dan penyediaan transportasi publik yang memadai. Hanya tiga alternatif itu yang tersedia, kata sang ahli itu. Ada tiga tahap penyelesaian kemacetan di Jakarta: jangka pendek, jangka menengah, dan jangka panjang.Tulisan ringkas ini baru menawarkan penelesaian jangka pendek untuk mengurangi kemacetan. Untuk jangka pendek ada beberapa langkah yang bisa dilakukan segera. Pertama, menegakkan disiplin pengguna jalan raya, terutama pengemudi kendaraan dan penegakan aturan tanpa pandang bulu. Tengok kemacetan di bebera ruas jalan, misalnya, antara Kampung Rambutan hingga perempatan jalan raya Bogor yang bisa menghabskan waktu sekitar setengah jam. Apalagi penyebabnya kalau bukan para pengemudi bus dan angkot yang berhenti seenaknya mengangkut penumpang. Telminal kampung Rambutan kian mubazir. Kedua, menata kembali jalur cepat dan jalur lambat. Di jalan Rasuna Said, Kuningan, kerap macet parah karena terlalu banyak akses pindah jalur (dari jalur lambat ke jalur cepat dan sebaliknya) dan akses memutar. Perlu dipikirkan untuk menyatukan jalur lambat dan jalur cepat dengan menutup semua akses berputar kecuali di ujung jalan sebelum jembatan menuju Menteng. Tentu saja akses berputar tunggal ini harus lebih lebar dan tidak mengganggu arus kendaraan yang hendak melaju lurus. Teheran semasa Ahmadinejad menjadi Walikota berhasil mengurangi kemacetan dengan pembenahan manajemen lalulintas seperti itu. Ketiga, membebaskan bahu jalan dari kendaraan yang parkir. Penerapan di Jalan Gajahmada terbukti cukup efektif. Di kawasan Menteng, di sekitar Taman Menteng (bekas stadion Persija) tampaknya pengawasan sudah sangat longgar. Keempat, revitalisasi angkutan umum kecil dan menengah yang kian semrawut. Selain mengaturan rute, juga pembatasan jumlah yang melintasi jalan-jalan protokol. Kendaraan jenis ini sepatutnya dihapuskan di sepanjang jalur transjakarta. Kelima, membenahi total manajemen transjakarta agar lebih nyaman dan aman. Mungkin sahabats Kompasiana punya pemikiran lain? Berharap kita bisa berbagi di sini.

Faisal Basri

/faisalbasri

TERVERIFIKASI (BIRU)

Mengajar, menulis, dan sesekali meneliti.
Selengkapnya...

KOMPASIANA ADALAH MEDIA WARGA, SETIAP KONTEN DIBUAT OLEH DAN MENJADI TANGGUNGJAWAB PENULIS.

Siapa Yang Menilai Tulisan Ini ?