Orang dan Partai Nazi di Indonesia - Kaum Pergerakan Menyambut Fasisme

17 Juli 2012 19:37:00 Dibaca :
Orang dan Partai Nazi di Indonesia - Kaum Pergerakan Menyambut Fasisme

Judul Buku : Penulis : Wilson Penerbit : Komunitas Bambu Cetakan : Cetakan Pertama, Mei 2008 Tebal : 210 halaman Sinopsis: Orang dan partai nazi di indonesia adalah salah satu buku langka yang membahas perdebatan gagasan atau ideologi di masa-masa awal menjelang revolusi ’45 dan masuknya faham fasisme di indonesia. Dimana pada saat itu terjadi ledakan gagasan atau ideologi di tanah eropa yang berimbas ke negara-negara jajahan bangsa eropa sendiri, salah satunya adalah indonesia. Fasisme yang dimotori jerman, italy dan jepang tanpa disadari telah berlabuh jauh ke tanah jawa. Tanah dimana para pemuda pemudinya sedang sibuk bergiat merebut kemerdekaan dari tangan kolonial belanda. Fasisme bagaikan angin segar bagi dunia pergerakan di indonesia yang seakan memberi kunci legalitas otonomi seratus persen merdeka. Sebagian pemuda pergerakan indonesia yang berhaluan kanan menyambut dengan tangan terbuka masuknya bala tentara jepang ke indonesia yang mengambil alih kekuasaan belanda. Sementara pemuda pergerakan berhaluan kiri malah dengan terang-terangan menolak datangnya tentara jepang yang diyakini aktivis-aktivis berhaluan kanan sebagai penolong mereka dari penjajahan belanda. Bagi pemuda pergerakan berhaluan kiri, mereka meyakini bahwa fasisme adalah pembunuh demokrasi dan senjata pamungkas terakhir dari kapitalisme. Buku ini terbagi dalam 6 bab dengan kata pengantar yang ditulis oleh Hilman Farid yang membahas pola fasisme orde baru di awal kekuasaannya yang mempunyai kemiripan dengan fasisme ala Nazi Hitler.kedua-duanya membasmi habis kaum komunis, sosialis dan progresif lainnya.Hitler menyebut tatanan yang dibangunnya Neue Ordnung. Di Italia, Benito Mussolini memakai istilah Ordine Nuovo, sementara di Jepang Pangeran Konoe menyebutnya Shintesai. Pada 1966, Soeharto dengan para pendukungnya memakai terjemahannya dalam bahasa Indonesia : Orde Baru.Baik Hitler maupun Soeharto mendapat dukungan –setidaknya di masa awal- dari kelompok pemuda yang militan. Di Jawa Timur, KH Yusuf Hasyim dalam berbagai wawancara mengakui bahwa ia dan pemimpin NU lainnya mendapat inspirasi dari buku Mein Kampf karya Hitler saat membentuk Barisan Serbaguna (Banser).perbedaannya adalah semua pemerintahan “orde baru” di berbagai negara ini hanya berusia singkat, sementara Soeharto berhasil bertahan selama 32 tahun. menurut Pramoedya Ananta Toer fasisme Orde Baru berakar dalam kebudayaan Jawa : “jawanisme adalah taat dan setia membabi buta pada atasan, yang pada akhirnya menjurus kepada fasisme.” Dalam buku ini juga diperlilhatkan sikap keras kepala dari gubernur jenderal hindia belanda yang berkuasa pada saat itu dengan menolak bekerja sama dengan pemuda-pemuda inlander untuk menggalang kekuatan bersama mencegah masuknya bala tentara jepang ke wilayah hindia belanda, dan alih-alih malah menyandarkan harapan akan rasa aman kepada amerika serikat yang mempunyai pangkalan militer di pearl harbour.dalam hitungan jam pangkalan militer AS di pearl harbour dapat di luluhlantakan oleh jepang. Berakhirlah kekuasaan kolonial belanda di indonesia akibat sikap keras kepala dan arogan gubernur jenderal tersebut. Buku ini cocok bagi anda yang tertarik dengan sejarah, khususnya sejarah pergerakan politik di indonesia. Apalagi setelah indonesia dikuasai selama 32 tahun oleh rezim militer orde baru yang terkenal sangat fasis. Akhir dari buku ini ditutup dengan sejuntai kalimat indah yang dikutip dari novel seorang sastrawan hungaria yang menetap di perancis, Ellie Weisel. “ Kepada perempuan dan laki-laki di seluruh dunia serta semua agama kami serukan : Persatukanlah semua kekuatan yang baik dan berperanglah terhadap kebencian yang membunuh kemanusiaan kita. Kebencian adalah karya manusia. Bahkan tuhan sendiri tak kuasa menghentikannya. Kebencian adalah buta dan membutakan. Dialah matahari hitam yang bersinar di bawah langit penuh abu dan memusnahkan semua manusia yang melupakan segala sesuatu yang luhur, yang membawa harapan segala sesuatu yang memanusiakan.

Fahmi Arfiandi

/fahmi_arfiandi

friendly ones.. love music | travelling | photography | books | and many lovely things
Selengkapnya...

KOMPASIANA ADALAH MEDIA WARGA, SETIAP KONTEN DIBUAT OLEH DAN MENJADI TANGGUNGJAWAB PENULIS.

Siapa Yang Menilai Tulisan Ini ?