HIGHLIGHT

Sinetron Terlaris : KPK vs Polri

03 November 2009 00:31:00 Dibaca :
Sinetron Terlaris : KPK vs Polri

"Din, aku salut sama Polri kita. Cerdas dan berani..", Khalid memulai pembicaraan di kantin siang itu dengan senyum khasnya. Udin, yang diajak bicara malah asyik makan pisang goreng yang memang merupakan makanan gorengan kesayangannya. Rahmad yang kemudian menjawab pernyataan Khalid. "Polri memang jagoan dan hebat, tapi kali ini salah tangkep deh !", ucap Rahmad ketus. "Wah mas Rahmad jangan mendewakan KPK donk. Mereka manusia biasa juga dan bisa salah. Polri pasti sudah punya bukti kuat untuk melakukan proses hukum ini" "Polri juga manusia biasa kan? Mereka juga bisa salah tangkap" "Tunggu mas, itu kan Polri jaman dulu. Jaman sekarang Polri kita sudah beda, sudah lebih profesional" "Iya deh, lebih profesional. Cuma kan artinya belum tentu sudah profesional. Hanya lebih profesional, iya kan?" "Waduh, mas Rahmad ini suka berprasangka buruk terhadap Polri kita deh. Mari kita lupakan kisah Polri yang lalu-lalu. Kita tatap Polri masa kini yang bersih dan profesional" "Wis mas, aku ndak paham hukum. Aku cuma ikut mendukung para fesbuker yang tidak suka dengan proses hukum Polri menangkapi para pimpinan KPK" "Wah...ini lagi. Jangan sembarang mendukung sesuatu yang tidak jelas mas. Gerakan di dunia maya itu kan tidak jelas maksud dan tujuannya. Bisa jadi itu hanya untuk memperkeruh suasana saat ini" "Jalan pikiran mas Khalid ini tidak sesuai dengan jalan pikiranku, jadi diskusi ini pasti tidak akan pernah selesai mas..." "Harus selesai mas...kalau tidak nanti kita bekerja dengan pikiran yang tidak fokus. Bisa-bisa kinerja kita jadi menurun. Betul nggak mas Din..." Udin yang sudah menghabiskan tiga potong pisang goreng akhirnya berbicara juga. "Aku hormati keputusan Polri untuk berani bertindak tanpa pandang bulu", ujar Udin pelan dan mantap. "Nah...bener kan mas Rahmad, mas Udin juga mendukung tindakan Polri kita", Khalid tersenyum lebar mengomentari ucapan Udin. "Para petinggi KPK kan manusia biasa yang bisa khilaf dan bisa melakukan kesalahan", Udin melanjutkan. "Proses hukum yang benar dan tanpa pesanan dari pihak manapun pasti akan membuktikan bahwa para petinggi KPK itu salah atau tidak bersalah" "Keputusan akhir bisa sesuai dengan anggapan masyarakat awam tapi bisa juga tidak sesuai. Saat ini masyarakat sudah jauh lebih cerdas dibanding jaman sebelum fesbuk merajalela di seluruh media komunikasi kita" "......." "Bagiku, perseteruan Polri vs KPK ini adalah hal yang bisa terjadi, tapi akan jadi masalah kalau terlalu dibesar-besarkan, karena akan ada yang meneguk keuntungan dari pertikaian ini. Mungkin para koruptor sedang berpesta ria saat kita asyik menonton pertikaian Polri vs KPK" "......" "Saat ini masalah ini sudah terlanjur menjadi besar. Jadi tugas kita sebagai warga negara yang baik adalah meminta kepada siapapun yang berwenang untuk segera menuntaskan masalah yang menggantung ini secepatnya" "Kedua institusi ini kita perlukan untuk memberantas korupsi yang sudah berurat akar di kehidupan kita. Jadi pertikaian ini jika terus berlarut-larut, tidak akan memberi nilai positip untuk pemberantasan korupsi" "Ini akan jadi sinetron yang panjang. Ini bisa jadi lelucon yang akan kita tertawai dengan hati perih" "Kita ikuti saja komentar yang menyejukkan tapi yang tetap tegas, bukan komentar menyejukkan yang lebay. Mari kita kawal proses hukum ini dengan cara yang sebaik-baiknya" "Caranya gimana mas Udin?" "Kita kurangi jam korupsi kita. Udah jam satu lewat lima menit. Kita sudah korupsi waktu kerja lima menit" Udipun ngeloyor ke luar kantin. +++ ditulis juga di blog pribadi tulsian terkait : Jangan Takut [ber]sama GusDur

Eko Sutrisno Hp

/eshape

TERVERIFIKASI (HIJAU)

Blogger Goweser Jogja, owner Mie Sehati (http://miesehati.com).|.
Anggota komunitas TDA, |.
Blog pribadi http://ekoshp.com info seputar Gadget.|.
http://eeshape.com/ |
eko.eshape@gmail.com

Selengkapnya...

KOMPASIANA ADALAH MEDIA WARGA, SETIAP KONTEN DIBUAT OLEH DAN MENJADI TANGGUNGJAWAB PENULIS.

Siapa Yang Menilai Tulisan Ini ?