HIGHLIGHT

Kisah Mahabarata - Pandava di Varnavata dan Laksagrha

13 Mei 2011 09:59:00 Dibaca :
Kisah Mahabarata - Pandava di Varnavata dan Laksagrha

Selang beberapa hari dari hari penobatannya, Yudhisthira dipanggil oleh Dhritarastra. Raja berkata kepada Yudhisthira," Aku dengar kota Varnavata adalah kota yang sangat indah. Bagaimana jika kau ditemani adik-adikmu berkunjung dan menghabiskan waktu di sana untuk beristirahat dan menikmati hidup selama satu tahun. Nanti setelah setahun berlalu, Kau kembalilah ke Hastinapura. Bagaimana menurutmu?"   Yudhisthira melihat bahwa ada sesuatu di balik usulan Sang Raja tersebut. Tetapi karena baginya, mematuhi orang tua adalah hal yang paling utama, maka Yudhisthira menyetujui usulan itu.   Ketika mereka hendak pergi, para putera Pandava berpamitan dengan para tetua seperti Drona, Kripa dan Vidura. Vidura yang mempunyai penglihatan akan masa depan memperingatkan mereka agar mereka selalu waspada dan berhati-hati. Setelah itu, Yudhisthira, bersama empat saudaranya dan Ibunda Kunti memulai perjalanan mereka ke Varnavata.   Sebelumnya, Duryodhana dan Shakuni memanggil Purochana, seorang menteri Hastinapura. Mereka merencanakan sebuah rumah yang terbuat dari lilin dan bahan-bahan yang mudah terbakar di Varnavata dan akan membakar rumah yang hendak digunakan untuk para Pandava beristirahat itu. Purochana segera pergi secepat mungkin ke Varnavata dan mulai membangun rumah tersebut sebelum Pandava dan Ibundanya sampai di sana. Hingga nanti, mereka akan menempati rumah tersebut untuk beristirahat.   Laksagrha

Catatan penerjemahan. Saya agak kesulitan mencari padanan kata "lac" dan "ghee" di dalam bahasa Indonesia. Lac dan ghee adalah bahan-bahan yang mudah terbakar. Di dalam cerita wayang Jawa, rumah yang hendak dibakar itu disebut Bale Sigala-gala. Dibuat dengan bahan sendawa dan gandarukem. Sendawa adalah sejenis minyak dan Gandarukem adalah bubuk sejenis mesiu. Sementara dalam cerita dari India ini, Rumah yang hendak dibakar dinamakan Rumah dari Lac atau dalam bahasa Sanskritnya adalah Laksagrha. Lac itu sejenis lilin dan Ghee itu seperti minyak hewani yang padat. Jadi untuk selanjutnya, saya tetap menggunakan nama rumah itu dengan Laksagrha saja supaya dapat dibedakan dengan Bale Sigala-gala. Karena dalam cerita Bale Sigala-gala, rumah tersebut digunakan untuk Bala Kurawa mengundang Para Pangeran Pandava berpesta sampai mabuk dan tidur di sana. Baru setelah mereka tertidur, rumah itu dibakar.   Varnavata adalah kota yang dibuat oleh seorang raja yang terkenal yaitu Harishchandra. Kota itu dibuat karena pemujaannya terhadap Dewa Shiva. Harishchandra sendiri dikatakan sebagai bangsa dari Matahari. Kota ini didiami oleh sang raja untuk melipur lara di hari-harinya yang murung.   Mengetahui kalau mereka kedatangan Para Pangeran Pandava, penduduk kota Varnavata sangat gembira. Mereka mendatangi Pandava dan memberikan sesuatu sebagai tanda hormat kepadanya. Di tengah-tengah keriuhan penduduk itulah, Purochana mendekati Pandavas dengan penuh tingkah sopan yang dibuat-buat dan memohon kepada Pandavas untuk berdiam di sebuah rumah megah yang dibuat khusus untuk mereka atas perintah Raja Dhritarastra.   Pandava pun setuju. Ketika mereka memasuki rumah tersebut, mereka merasa heran karena warna-warni dari bangunan itu terasa aneh karena menggunakan bahan-bahan yang mudah terbakar seperti minyak, lilin, dan lain-lain. Yudhisthira meminta Bhima untuk meneliti keseluruhan rumah itu dengan sangat hati-hati. Bhima melaporkan bahwa ada banyak lagi bahan-bahan yang mudah terbakar dan minyak yang diletakkan pada kamar-kamar rahasia di dalam rumah tersebut. Sepanjang waktu, Purochana mengikuti para Pandava dari belakang dan selalu ikut dalam pembicaraan mereka.   Sementara itu, datanglah seorang penambang yang diutus oleh Vidura ke hadapan Yudhisthira dan memberikan pesan Vidura kepadanya dengan bahasa sandi. Mengetahui isi pesan itu, Yudhisthira merasa lega karena masih ada pertolongan yang akan mereka dapatkan ketika mereka masuk ke dalam perangkap berwujud rumah itu.   Yudhisthira pun menanyakan kepada penambang itu apa yang harus dilakukan. Penambang itu mengatakan bahwa dia akan menggali sebuah terowongan rahasia dari rumah tersebut yang mengarahkan para Pandava ke tepian sungai Gangga.   Satu tahun pun hampir berlalu. Menjelang akhir dari masa pelesiran di Varnavata itu, Yudhisthira mengadakan pesta besar. Semua penduduk kota diundang dan dijamu dengan makanan dan minuman yang lezat. Dalam pesta itu, seorang pelayan wanita berada dekat Purochana demikian juga dengan lima orang anak laki-lakinya. Mereka makan dan minum sepuasnya hingga mereka pun jatuh tertidur.

 

Di tengah malam, Para Putera Pandava dan Ibunda Kunti meninggalkan rumah itu melalui terowongan menuju tepian Sungai Ganga. Bhima pun membakar rumah tersebut. Purochana, pelayan wanita dan lima orang anaknya itu mati terbakar di dalamnya.   Sampai di tepian Gangga, Pandava dan Ibundanya sudah ditunggu oleh seorang tukang perahu. Mereka pun menyeberang ke tepian lain dari Sungai Gangga. Tukang perahu itu setelah selesai menjalankan tugasnya, memberi laporan kepada Vidura bahwa Kunti dan Pandava selamat dari siasat Lakasgrha yang dibuat oleh Shakuni dan Duryodhana.   Di Hastinapura, kabar mengenaskan tentang kematian Kunti dan Putra-putra Pandava menyebabkan rakyat begitu sangat berduka. Demikian pula dengan para leluhur mereka seperti Bhishma, Kripa, dan lain-lainnya. Hanya Vidura yang telah mengetahui apa yang sebenarnya terjadi.   Maka, di tepian Gangga diadakanlah upacara penguburan dan pemujaan kepada para Dewata atas semua yang telah meninggal. Vidura yang berdiri tepat di samping Bhishma menceritakan apa yang telah terjadi mulai dari siasat Laksagrha dan bagaimana Pandavas berhasil melarikan diri.   Lanjutanya - Pernikahan Bhima

dedy riyadi

/enlightened-world

TERVERIFIKASI (HIJAU)

saya hanya ingin jadi terang dunia
Selengkapnya...

KOMPASIANA ADALAH MEDIA WARGA, SETIAP KONTEN DIBUAT OLEH DAN MENJADI TANGGUNGJAWAB PENULIS.

Siapa Yang Menilai Tulisan Ini ?