Istriku Luar Biasa

11 Agustus 2012 18:10:00 Dibaca :
Istriku Luar Biasa
foto (koleksi pribadi)

Kutatap lembut dari balik kelambu, wajahnya nampak lelah sekali, keningnya agak sedikit mengerut, sedikit pucat, nampak lelap, aaahh apa gerangan yang kau mimpikan istriku... Kuurungkan kembali niatku yang mau membangunkan untuk sahur, pasti masih belum cukup tidurnya, pikirku, karena setengah jam yang lalu baru saja menina bobokan kembali si kecil Sultan yang terbangun.

Namun.... Kriiiinggggggg.....!!! Uuufffhh, hampir jantungku copot, mendengar alarm berbunyi tiba-tiba.

“Sahur bu…” sahutku perlahan, dan diapun dengan gesitnya bangun sambil mengucek-ngucek matanya, menyibakkan kelambu dan langsung menuju dapur tanpa basa basi.

Ahhh luar biasa…!!

………..

Ramadhan tahun ini, baru pertama kalinya semenjak kami berumah tangga, tanpa ada mbak yang membantu di rumah. Hampir setahun semenjak mbak Santi pamit karena mau menikah dengan lelaki pilihannya, kami sulit mendapatkan pengganti. Dengan sendirinya semua pekerjaan berpindah tangan kepada kami, dan kamipun sepakat membaginya. Dari mulai mencuci, menyetrika, menyapu ruangan dalam rumah, memasak dan memandikan anak-anak dan lain-lain menjadi tugas istri saya dan saya bagian pekerjaan diluar rumah, seperti menyapu halaman, mengurus taman dan pohon-pohonan hingga menyiramnya ditambah mengepel ruangan dalam rumah, , walau kesepakatan itu tidak mengikat.

Sebelumnya saya melihat apa yang dikerjakan mba dulu adalah hal yang mudah dan ringan saja, dan ternyata, wooowww luarbiasa menguras tenaga. Namun semuanya kami lakukan dengan riang dan penuh semangat. Sayapun hampir tak percaya istri saya mampu melakukannya, walau terkadang ada keluhan “Sampai kapan ya Yah, kita dapat mbak lagi?”, paling saya hanya menjawab “Insya Allah sebentar lagi ada, sabar saja”

Di bulan Ramadhan ini, saya baru merasakan, pekerjaan rumah yang kelihatannya sepele,  ternyata duuuhhhh….. ketika saya ikut terlibat terasa sekali begitu cukup menguras peluh.

Sering kulirik kegiatan sehari-hari yang dilakukan istri, jam 3 dini hari bangun, langsung ke dapur, sambil diselingi membuka jendela-jendela rumah, menyiapkan buat sahur, setelahnya mencuci piring, rehat sebentar siap-siap untuk melaksanakan shalat subuh, setelah itu mencuci pakaian, sambil diselingi menyapu ruangan dalam rumah, bila ada sisa waktu sedikit biasanya tidur kembali, tapi kalau keburu hari sudah terang, langsung menjemur pakaian dan mempersiapkan untuk keberangkatan anak kami yang pertama ke sekolah yang kebetulan masuk pagi, memandikannya dan mengurus keperluannya, dan saya yang mengantarkannya. Sekitar jam 9an dia berangkat untuk menjemput karena ada beberapa hal yang harus dia selesaikan di sekolah berhubung anak kami baru pertama masuk kelas satu SD, jadi banyak hal yang kadang-kadang perlu bimbingannya.

Dan sepulang mengantarkan sekolah, saya bagian mengerjakan menyapu halaman rumah belakang, samping dan depan lalu dilanjutkan dengan mengepel ruangan dalam rumah. Karena saya sudah komitmen padanya untuk pekerjaan-pekerjaan yang berat biar urusan ayah. Mulai jam 2 siang dia sudah mulai mempersiapkan keperluan-keperluan untuk berbuka, yang kadang diselingi sambil menyeterika pakaian-pakaian. Menjelang ashar harus segera memandikan anak-anak, kalau terlalu repot, yang kecil biasanya saya yang memandikan, kalau masih longgar, biasanya saya menyiram pepohonan dan bunga-bunga di halaman sekitar.

Selesai berbuka, shalat magrib dan sebentar mengajar mengaji Sayyidah anak kami yang pertama, dan dilanjutkan shalat terawih bersama di masjid persis belakang rumah. Sepulang terawih kami satu-satu menina bobokan anak-anak. Bila mereka sudah pada pules, masih ada pekerjaan mencuci piring-piring bekas berbuka puasa dan kalau masih ada waktu senggang terkadang ikut tadarusan di masjid bersama ibu-ibu tetangga yang lainnya. Setelahnya baru bisa istirahat tidur yang kadang diganggu dengan si kecil kalau terbangun ditengah malam. Saya menarik nafas panjang, melihat dia begitu gigih dan tetap semangat melaksanakan pekerjaannya, sungguh saya tidak akan sanggup bila harus melakukannya sendiri.

Sungguh luarbiasa istriku, hebat, walau di bulan ramadhan tapi tidak menyurutkan semangatnya untuk mengurus urusan rumahtangganya. Ramadhan yang berkah telah menjadikan jembatan penghantar untuk menjadi lebih baik. Alhamdulillahirabbil’alamin…

Ketika dia tertidur pulas, kutatap penuh wajahnya “Yaa Rahman Rahim, sayangilah istriku, kasihilah, curahkanlah Rahmat-Mu, Yaa Aziz berikanlah kekuatan dan kesabaran padanya dalam menjalankan pekerjaannya sehari-hari, Yaa Goffar, ampunilah dosa-dosanya, jadikanlah apa yang dia lakukan menjadi amal ibadah yang Kau ridloi dan lipat gandakanlah pahalanya, jadikanlah dia istri yang shalehah dan menjadi tauladan anak-anak kami, Yaa Mujib yang maha mengabulkan, kabulkanlah, aku sangat menyayanginya…”

Sahabat semua, mari sayangi istri kita, perhatikan dan pahamilah sikap dan wataknya, mari kita hargai jerih payahnya dalam melaksanakan kewajibannya di rumah tangga, sekecil apapun. Walau ada hal-hal yang kadang menyakitkan kita para suami, itulah hal-hal yang perlu kita pahami dari kedalaman jiwanya. Dialah Ratu di rumah tangga.

Semoga di bulan yang penuh berkah, rahmah dan ampunan-Nya ini akan menjadikan kita para suami lebih menyayangi dan menghargai serta memperhatikan istri kita masing-masing untuk menuju keluarga yang dicintai Allah.

Amiiinnnn……

.

(Tulisan ini saya dedikasikan untuk Istri tercinta Riza Zulfa Ridwan)

‘Rumah Sahaja’

EAR Ciputat 110812

Reca Ence AR

/encear

TERVERIFIKASI (HIJAU)

1964 Lahir di Sukabumi, Jawa Barat. Salam kompasiana ...salam bahagia dan tetap bersahaja

Selengkapnya...

KOMPASIANA ADALAH MEDIA WARGA, SETIAP KONTEN DIBUAT OLEH DAN MENJADI TANGGUNGJAWAB PENULIS.

Siapa Yang Menilai Tulisan Ini ?