muthiah alhasany
muthiah alhasany writer/blogger, politician. Pengamat politik Turki dan Timur Tengah

langit adalah atapku, bumi adalah pijakanku. hidup adalah sajadah panjang hingga aku mati

Selanjutnya

Tutup

pilihan headline

Memanjakan Lidah bersama KPK di Festival Ngabuburit La Piazza

17 Juni 2017   14:56 Diperbarui: 17 Juni 2017   21:22 182 6 2
Memanjakan Lidah bersama KPK di Festival Ngabuburit La Piazza
panggung Festival Ngabuburit di La Piazza (dok.pri)

Ngabuburit di La Piazza Kelapa Gading memang tak pernah membosankan. Setiap tahun pihak manajemen La Piazza  selalu menyajikan sesuatu yang baru. Setidaknya, mereka berusaha memberikan suasana yang berbeda. Tahun ini, Festival Ngabuburt di La Piazza bernuansa Kampung Sunda yang menarik, dengan gubuk-gubuk / saung makanan berbagai jenis. Ya, walaupun nuansa Sunda, tetapi makanannya tidak hanya selera Sunda, banyak variasi makanan dari berbagai daerah. Festival ini berlangsung sejak tanggal 25 Mei sampai dengan 18 Juni 2017.

Totalnya ada 52 tenant yang berpartisipasi. Di antaranya adalah Asinan Sari, Bakso Beranak Plekenut Cirebon, Cwie Mie Malang 'Regia', Indomie Abang Adek Pedes mampus, Kopi es Tak Kie, Sate Ayam Madura bintang 5, Seblak Jeletet Murni, Nasi Goreng Kambing Kebon Sirih, Mie Kocok Bandung Marika, es Cendol Bandung Elizabeth, dll.

gubuk Bakmi Djawa (dok.pri)
gubuk Bakmi Djawa (dok.pri)

sambal yg menggoda selera (dok.pri)
sambal yg menggoda selera (dok.pri)

Bersama temanteman KPK, yang dipimpin Bozz Madyang, Rahab Ganendra, kami sudah menggerebek Festival Ngabuburit La Piazza sejak pukul 17.00 WIB. Seperti biasa, mbak Indri yang ramah dan cantik mennyambuk kami. Kami lalu diberi jatah kartu voucher makanan senilai seratus ribu rupiah untuk belanja makanan di seluruh area Festival Ngabuburit.  Kami tidak seketika membelanjakannya, maklum harus menunggu adzan Maghrib berkumandang. Secara spontan, kami menjelajah keseluruhan area sambil menimbang-nimbang makanan apa yang akan dipilih.

suasana Kampung Sunda di La Piazza (dok.pri)
suasana Kampung Sunda di La Piazza (dok.pri)

Di samping eksplorasi kuliner, semua pengunjung dapat menyaksikan atraksi dan hiburan di panggung depan.  Ada berbagai pertunjukan seni yang digelas di atas panggung seperti tarian daerah, tarian modern, marawis, menyanyi, hingga rampag bedug yang meriah dan kompak, membawa suasana bertambah hangat dan akrab. Anak-anak kecil yang datang bersama orang tuanya bahkan turut menikmati pertunjukan-pertunjukan itu sambil menari dan menyanyi.

Atraksi hiburan itu diisi oleh Punakawan Show, Tarian Sunda Kontemporer, Acoustic Performance by Indie Kota Tua Jakarta, Rampak beduk, dan Live Cooking with Sore Bara Harsya on Makarena Bukber Delta FM. Kita akan terhibur selama berada di area festival, karena atraksi tersebut tetap berlangsung hingga malam.

Menu Buka Puasa Madyangers

Mendekati waktu berbuka, kami mulai memesan makanan sesuai selera masing-masing. Tadi saya sudah mengincar salah satu booth makanan di sebelah kiri, maka saya segera ke sana sebelum banyak antrian. Saya memesan nasi kuning mini komplit, yang lauknya terdiri dari ayam goreng keremes, dua potong tempe goreng, beberapa potong timun, sambal terasi dan sayur asem. Harganya cukup murah, Rp. 28.000  Sedangkan minuman, saya pilih es campur Garut dengan harga 21 000,-

nasi kuning komplit dan es campur Garut (dok.pri)
nasi kuning komplit dan es campur Garut (dok.pri)

Teman-teman memesan makanan yang berbeda. Mbak Yayat membawa nasi liwet dan soto ceker. Topik Irawan membeli makanan kesukaannya yaitu sate maranggi, Mas Rahab Ganendra justru memilih makanan kekinian, yaitu bakso beranak. Dewi Puspa memilih Gulai Balungan dan lontong. Sementara Eryani Kusumaningrum justru memilih sate Padang.  Beberapa jenis menu satu paket dengan minuman teh botol. Kalau pun tidak memilih paket, masih ada minuman yang bisa dibeli, seperti sebutir kelapa muda yang cocok untuk mengatasi dehidrasi karena kekurangan cairan.

nasi liwet dan soto ceker (dok.pri)
nasi liwet dan soto ceker (dok.pri)

Berhubung udara sedang sangat panas, maka es campur yang saya minum terasa sesuatu banget. Nikmat dan menyegarkan dengan kombinasi buah-buahan dan cincau yang disiran susu dan sirup merah putih yang menarik. Menurut saya sih, satu mangkuk es campur ini tidak cukup untuk memenuhi dahaga dalam cuaca yang sepanas itu. Lidah ini serasa menagih kenikmatan berikutnya untuk menyejukkan tenggorakan yang kering sejak siang.

Namun perut yang lapar juga harus diperhatikan. Karena itu saya mulai menyantap nasi kuning yang sudah sejak tadi menggoda mata saya dengan sajian yang indah. Dalam hati, kapan lagi menikmati nasi kuning yang murah dan enak. Kita toh tidak setiap hari menemukan nasi kuning atau nasi tumpeng kecuali dalam momen-momen istimewa. Nasi kuning itu terasa gurih dan pulen, dengan bumbu yang tidak terlalu medok, terasa sangat pas di lidah saya. 

nasi kuning dan lauknya (dok.pri)
nasi kuning dan lauknya (dok.pri)

Lauk yang menemani nasi kuning juga enak dinikmati, ayam goreng keremes yang renyah dan gurih menjadi paduan yang serasi. Apalagi dengan tempe goreng kesukaan saya, yang digoreng tidak terlalu kering dan dicolek sambal terasi. Saya pun menjadi lahap dengan makanan-makanan tersebut. Tidak salah pilihan saya. Nasi kuning ini layak dinikmati para pengunjung.

Selesai tahap pertama berbuka puasa, sebagian dari kami menunaikan ibadah shalat Maghrib di mushola La Piazza. Setelah itu kembali berkumpul ke tempat semula. Sebenarnya perut ini sudah terasa agak kenyang. Namun masih berselera untuk mencicipi jajanan lain yang banyak berjejeran. Saya pun kembali menyusuri gubuk demi gubuk untuk memutuskan penganan berikutnya. Akhirnya saya membeli kolak campur yang satu paket dengan minuman teh botol.

Kolak campur ini tidak hanya berisi kolak pisang dan ubi, tetapi juga ditambahkan bubur ketan, biji salak, kolang-kaling dll. Maklum saya menyukai semuanya, jadi supaya adil, saya pilih kolak campur. Tetapi bagi yang hanya menyukai salah satu jenis kolak, bisa memesan jua sesuai keinginannya. seperti Dewi Puspa yang lebih suka bubur sumsum atau Siti Nurjanah yang hanya menyukai kolak biji salak.

Teman-teman lain juga telah memilih menu kedua untuk santapan berikutnya. Bos Madyang, Rahab Ganendra mencicipi garang asem dan juga membeli kolak. Yogi Setiawan justru memilih minum es kopi Tak-Kie yang cukup legendaris di kawasan Glodok. Sedangkan yang lain, membeli makanan untuk dibawa pulang ke rumah, membawa bekal untuk sahur.  Saya sendiri, membeli satu paket minuman teh untuk menjadi oleh-oleh, sesuai dengan sisa 'kuota' kartu. 

para madyangers KPK berbuka puasa (dok.Rahab Ganendra)
para madyangers KPK berbuka puasa (dok.Rahab Ganendra)

Nah, masih ada waktu nih buat yang belum mencicipi jajanan kuliner di La Piazza. festival Ngabuburit ini akan berakhir besok, hari Minggu tanggal 18 Juni. Buruan deh, ajak keluarga tercinta atau teman-teman untuk buka puasa bersama. silaturahmi nikmat hanya ada di Festival Ngabuburit La Piazza.