Emma Yosephine Sinaga
Emma Yosephine Sinaga Mahasiswi Pascasarjana

Sedang belajar untuk menjadi Penulis yang hebat. http://amoreword.blogspot.co.id/

Selanjutnya

Tutup

Sahabat Paling Berharga

9 Agustus 2017   06:34 Diperbarui: 9 Agustus 2017   07:06 18 1 0

Jam dinding kamarku sudah menunjukkan pukul 23.00 WIB dan aku belum juga menyelesaikan tugas-tugas yang harus dikumpulkan besok. "Tinggal tugas biologi."pikirku sambil menyemangati diri sendiri. Aku mulai memijit-mijit keningku dengan pelan, beristirahat sebentar  sambil memejamkan mata yang sudah mulai lelah menatap laptop. Tiba-tiba ponselku berbunyi tanda masuknya sebuah pesan. Aku membuka pesan yang ternyata dari Dira yang berkata: "Ana, kamu sudah tidur?" Aku hanya menghela nafas berat, mengingat kami sudah seminggu tidak berkomunikasi.  

Dira adalah sahabat dekatku, tetapi itu dulu. Semenjak Niko, gebetan yang sudah lama aku sukai, menyatakan perasaan kepada Dira, kami sudah tidak seperti dulu. Dulu kami sangat dekat bahkan di sekolah kami terkenal sebagai sepasang sahabat yang sangat dekat dan langgeng. Ya kami sudah bersahabat selama 6 tahun. Tetapi sekarang hanya beban berat yang kurasakan apabila mengingat itu. Aku masih sedih dan kecewa terhadapnya, karena hanya Dira yang tahu bahwa selama ini aku sangat menyukai Niko. 

Hampir tiap malam kami berbalas pesan dan berbincang melalui ponsel, membicarakan perasaan kami masing-masing. Memang pada akhirnya Dira tidak menerima perasaan Niko, tetapi aku sangat kecewa karena selama ini Dira selalu mendukungku tanpa memberitahu bahwa Niko sudah lama juga mendekatinya. Sejak saat itu persahabatanku dan Dira benar-benar buruk bahkan kami tidak lagi saling berkomunikasi. Sudah seminggu Dira selalu berusaha untuk menjelaskan sesuatu kepadaku, tetapi aku tetap belum bisa menerima apa yang sudah terjadi. Akupun hanya membaca pesan itu dan langsung menutupnya tanpa berniat untuk membalas pesan dari Dira seperti biasa. Kemudian aku kembali fokus menyelesaikan tugas.

Esok harinya saat pulang sekolah, Niko menemuiku di parkiran sekolah. "Ana, ada waktu? Aku ingin mengatakan sesuatu."tanya Niko secara tiba-tiba. Aku merasa sangat canggung bertemu dengannya, dan aku sangat bingung untuk menolak atau tidak ajakannya itu. "Sebentar saja Ana. Ini penting buatmu."kata Niko lagi yang tidak memberikanku kesempatan untuk menolak ajakannya.

"Baiklah."jawabku singkat. Kemudian Niko mengajakku ke taman sekolah yang berada disamping ruang Kepala Sekolah. "Ada apa?"tanyaku sambil melihat raut wajah Niko yang sangat serius. "Maaf Ana, karena aku sudah merusak persahabatanmu dengan Dira. Aku sangat merasa bersalah."jawab Niko dengan nada bersalah. Aku tidak menyangka bahwa Niko akan mengatakan hal tersebut. "Itu bukan salahmu dan sebaiknya tidak usah memikirkan masalah antara aku dan Dira."balasku sedih. "Sebenarnya selama aku mendekati Dira, Dira selalu berusaha mendekatkan aku denganmu Ana. Tetapi aku tidak bisa memaksakan perasaanku. Yang kutahu, aku menyukai Dira sejak pertama sekali aku mengenalnya. Jadi aku selalu berusaha mendekati Dira walaupun dia sering sekali mengabaikanku bahkan menjauhiku.

Saat itu aku hanya ingin mengungkapkan perasaanku pada Dira yang sudah lama kupendam, tanpa memikirkan masalah apa yang akan terjadi. Aku sangat egois." Aku hanya terdiam mendengar kata demi kata yang diutarakan Niko dengan nada yang sangat sedih. "Ana, kumohon jangan salahkan Dira, disini akulah yang bersalah. Tolong berbaikanlah dengan Dira, karena yang kutahu kamu adalah sahabat paling berharga bagi Dira."lanjut Niko sambil menatapku dalam. Mendengar hal itu aku merasa sangat bersalah atas kekacauan yang diakibatkan keegoisanku sendiri. "Baiklah Niko."jawabku sambil berusaha tegar menahan air mataku yang ingin mengalir.

Sesampai di rumah aku hendak ingin mengganti baju seragamku dan langsung pergi ke rumah Dira. Tiba-tiba mama memanggilku. "Ana, tadi Dira datang dan memberi surat ini buatmu. Kalian ada masalah ya?"tanya Mama. 

"Nanti Ana jelaskan Ma."jawabku dan dengan segera mengambil surat itu dan membukanya di kamar. Dear, Ana sahabatku. Terima kasih untuk persahabatan indah yang sudah kita lalui bersama. Aku minta maaf sudah sangat mengecewakanmu. Dan aku minta maaf tidak memberitahumu lebih awal bahwa aku akan pindah ke Aussie bersama keluargaku. Maaf hanya bisa menyampaikan hal ini melalui surat ini. Aku harap kau bisa memaafkanku dan bolehkah aku berharap untuk bisa terus bersahabat denganmu? Aku merindukanmu Ana. Aku merindukan kita yang dulu. See you again, Ana. With love, Dira. 

Aku hanya bisa menangis dengan penuh penyesalan setelah membaca surat dari Dira. "Andai aku mau mendengarnya lebih dulu. Andai aku tidak egois dan hanya memikirkan diriku sendiri. Inikah rasanya telah menyakiti sahabat terbaikku? Aku juga sangat merindukanmu Dira." aku hanya bisa berkata dalam hati. Air mataku mengalir meluapkan isi hati penuh penyesalan yang tidak bisa dikemukakan lewat kata-kata.