Mohon tunggu...
Denny Boos
Denny Boos Mohon Tunggu... Administrasi - Profesional

Perempuan asal Tobasa. Menyukai hal-hal sederhana. Senang jalan-jalan, photography, sepedaan, trekking, koleksi kartu pos UNESCO. Yoga Iyengar. Teknik Sipil dan Arsitektur. Senang berdiskusi tentang bangunan tahan gempa. Sekarang ini sedang ikut proyek Terowongan. Tinggal di Berlin.

Selanjutnya

Tutup

Humaniora Pilihan

Melebur dalam Kebaikan: Gong Xi Fa Cai!

8 Februari 2016   22:02 Diperbarui: 10 Februari 2016   14:27 187
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

[caption caption="Imlek: Angpao dan Jeruk"][/caption]Tradisi ngumpul di hari besar itu ibarat menu utama dari sebuah perayaan. Karena tidak bisa ditampik kalau kebersamaan itu memang indah dan memberi kegembiraan ganda. Dan karena hari besar itu identik dengan ngumpul; sebut saja hari besar Waisak, Nyepi, Natal, Lebaran, Imlek, maka keluarga yang merayakan biasanya mengusahakan untuk berkumpul.

Betul?

Banget, dah!

Tradisi ngumpul indentik dengan mudik versi Indonesia tidak hanya dimiliki bangsa kita saja, tapi, tampaknya dimiliki banyak bangsa yang merayakan hari besar agama, misalnya. Mungkin Jerman adalah salah satunya. Dimana kota Berlin yang riuh itu pun akan menjadi lengang di tanggal 24 Desember disaat malam Natal. Jadi, jangan berwisata ke Jerman saat malam Natal atau Natal, ya! Nanti tidak akan puas melihat kota nya karena banyak tempat tutup.

Mengingat tradisi ngumpul ini lah, maka perayaan Imlek dari kantor young international researcher kita pun menerima saran dari teman-teman untuk mengadakan makan malam sederhana. Sekedar ngumpul saja, begitu. Teman dari Cina dan Singapore juga sudah menyanggupi untuk jadi host. Sementara, seperti biasa, dapur kantor international office yang hanya punya dua stoves itu bisa dipake untuk masak dan salah satu dari ruangan presentasi kantor akan dipakai untuk makan bersama nantinya.

Iya, begini lah cara kami yang tidak dekat dengan keluarga berkumpul untuk merayakan hari besar di sini. Dan saya sangat bersyukur karena kantor international office ini sudah seperti rumah bagi banyak bangsa selama melakukan penelitian, atau, jadi guest researchers di sini. Tidak hanya memanjakan kami dengan jalan-jalan mengenal Jerman yang dibiayai universitas, pemerintah kota serta pemerintah Jerman, tapi hal perayaan seperti ini pun tetap diperhatikan.

Kembali lagi ke acara masak-masak yang dimulai setelah jam kantor tersebut. Seperti biasa, kapasitas peserta selalu dibatasi karena tempatnya memang kecil. Jadi harus cepat-cepat daftar kalau sudah ada pengumuman. Dan kali ini, kita diajarin bagaimana masak beberapa masakan Chinese foods berikut juga cara buat Chinese dumpling (saat kunjungan kita ke Polandia, kita tau bahwa dumpling juga terkenal di sana, jadi kita bedakan dengan namanya begitu).

(teman dari Cina ngajarin group kita membuat dumpling)

(ini dumpling yang sudah jadi dengan segala permasalahan dan lekuknya, haha.)

Ya, sudah begitu saja cerita kita dari sini, hanya ingin membagikan kebahagiaan kami saat merayakan Imlek dengan sederhana dari salah satu sudut kota di Jerman. Tidak ada lampion, tidak ada baju baru, tidak ada angpao, tidak ada makanan-makanan yang super enak, tapi kita semua melebur dalam perayaan yang sesungguhnya tidak lagi melihat sekat bangsa itu. Lagi-lagi, kebersamaan itu indah ketika kita bisa mengesampingkan perbedaan!

Dan bukankah berteman itu ibarat menambah jumlah jendela buat kita? Jendela untuk bisa melihat dunia lain dari perspektif yang lain, juga. Kenapa kita harus menyipitkan mata dan tidak membuka hati menerima perbedaan kultur yang berbeda, bukan? Mungkin juga pesan ngumpul dari setiap perayaan itu sebenarnya, agar kita belajar berbagi (makanan dan pengetahuan tentang sesuatu) dengan orang-orang sekeliling. Ketika ngumpul juga bertemu orang lain, berarti kita belajar menyikapi perbedaan. Dan lihatlah betapa teman-teman ini senang mempersiapkan menu makan malam kami, mereka bukan saja menggemaskan (ocehan dan penampilannya), tapi dipastikan juga pintar.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Humaniora Selengkapnya
Lihat Humaniora Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun