Berikan Acara Televisi Berkualitas untuk Anak

17 Juli 2017   08:35 Diperbarui: 18 Juli 2017   17:13 40 2 0

Media massa adalah alat yang digunakan dalam penyampaian pesan-pesan dari sumber kepada khalayak (menerima) dengan menggunakan alat-alat komunikasi mekanis seperti surat kabar, film, radio maupun televisi. ( Cangara, 2002).

Secara umum media massa memiliki fungsi sebagai hiburan, pendidikan dan informatif. Dennis McQuail (2002) mengatakan "bahwa media massa sebagian besar memilki sifat-sifat negatif image". Ditambahkan pula oleh Burhan Bugin (2005). " pers dan media massa postmodern selain memiliki fungsi-fungsi umum, juga memiliki peran-peran diatas, secara umum, pers dan media massa memiliki kemampuan konstruktif dan destruktif yang sangat dahsyat, selain ia sebagai mesin uang kapitalis yang terus mengeksploitasi manusia".

Diantara media massa yang ada televisi menjadi media massa yang paling banyak dikonsumsi masyarakat. Hal ini dikarenakan televisi menjadi media yang mudah diakses oleh berbagai kalangan serta memiliki daya tarik tersendiri dibanding dengan media massa lainnya.

Daya tarik televisi juga menjadi media massa yang paling berpengaruh dalam dampaknya. Televisi memiliki keunggulan audio serta gambar bergerak yang dengan mudahnya mempengaruhi khalayak luas. Menurut JB Wahyudi (1986) Televisi memiliki tiga sifat yaitu dekat dengan khalayak, meneruskan isi pesan dan media massa televisi bersifat dinamis.

Televisi memiliki berbagai ragam tayangan seperti Sinetron, Film, Reality Show, Gameshow maupun berita.  Dalam beragam tayangannya acara televisi sudah diatur jam untuk penayangannya. Televisi juga memiliki penggolongan klasifikasi untuk siapa siaran acara tersebut ditunjukan.

KPI melalui Pedoman perilaku penyiaran dan standart program siaran tahun 2012 (P3SPS) pada pasal 33 mengatur tentang Klasifikasi progam siaran dimana memuat bahwa program siaran digolongkan kedalam 5 klasifikasi berdasarkan kelompok usia, yaitu :

  • Klasifikasi P : Siaran untuk anak-anak Pra-Sekolah, yakni khalayak usia 2-6 tahun.
  • Klasifikasi A : Siaran untuk anak-anak, yakni khalayak usia 7-12 tahun.
  • Klasifikasi R : Siaran untuk Remaja, yakni khalayak usia 13-17 tahun.
  • Klasifikasi D : Siaran untuk Dewasa, yakni khalayak diatas 18 tahun keatas.
  • Klasifikasi SU : Siaran khalayak berusia diatas 2 tahun.

Di dalam peraturannya informasi penggolongan progam siaran ini harus terlihat di layar televisi di sepanjang acara berlangsung guna untuk memudahkan khalayak menonton mengidentifikasi progam siaran.

Seiring dengan perkembangan zaman, banyak bermunculan acara televisi yang mengandung unsur dewasa ditayangkan pada jam anak masih aktif. Hal ini mengakibatkan anak akan menonton acara yang tidak sesuai dengan usianya terlebih lagi sekarang sedikit ditemui acara hiburan televisi yang murni untuk anak-anak.

Dahulu acara anak mudah di temui pada hari minggu pagi dimana layar kaca televisi menyuguhkan berbagai kartun anak dan acara anak lainnya. Dahulu berbagai macam acara edukasi sangat mudah ditemukan contoh saja acara Ringking 1 yang disiarkan di Trans Tv atau Handmade yang disiarkan di Global tv dimana acara tersebut memberikan pengetahuan serta cara berpikir kreatif. Namun, seiring dengan perkembangan zaman acara anak sekarang tertindas dengan acara bermuatan dewasa yang disiarkan pada jam anak masih aktif. Hal ini tentu mengakibatkan anak akan memilih acara dewasa tersebut. Hal ini juga dipengaruhi oleh contoh dari orang dewasa sekitarnya, jika orang tua anak menonton acara bermuatan dewasa maka anak otomatis juga akan ikut menontonnya.

Sinetron menjadi tontonan yang menarik di kalangan masyarakat. Banyak bermunculan sinetron dengan tema sekolahan namun di dalamnya terdapat unsur-unsur yang tidak semestinya. Contohnya seperti adegan perkelahian atau kisah cinta yang berlebihan. Hal ini tentu tidak layak ditonton untuk anak. Bisa dilihat bahwa sekarang ini banyak bermunculan kasus dimana seorang anak sd sudah mengenal pacaran dan dilakukan seperti orang dewasa.

KPI telah mengatur tentang bagaimana acara anak pada pasal 36 P3SPS 2012 tentang klasifikasi A mengenai hal-hal yang tidak boleh disiarkan pada acara anak. Progam siaran anak juga diatur dimana diutamakan pada pukul 05.00 -- 18.00 waktu setempat.

Dengan peraturan yang sudah ada, tidak dapat dipungkiri bahwa masih saja banyak acara yang tidak layak tonton oleh anak.  Banyak siaran acara yang tayang dalam jangkauan jam anak menampilkan adegan kekerasan, saling merendahkan, perceraian, hingga percobaan bunuh diri. Tentu hal ini akan mengakibatkan pola pikir anak terkontaminasi dengan hal-hal yang negatif.

Dalam keterangan di situsnya KPI menuliskan bahwa kekerasan yang menimpa anak-anak dan remaja semakin banyak jumlahnya dan semakin memprihatinkan bahkan kekerasan tersebut terjadi di sekolah dan lingkungan tempat tinggal yang seharusnya aman bagi anak-anak dan remaja. Sejumlah pihak menduga media khusunya televisi sebagai salah satu pemicu munculnya kekerasan tersebut.

Acara televisi sekarang ini seperti menjadi sebuah bom bagi anak. Contohnya seperti acara dahsyat. Dahsyat bukan lagi acara yang mengutamakan informasi seputar musik. Dahsyat tayang pukul 07.00 dimana pada aturan P3SPS 2012 bahwa jam tersebut masih dalam jangkauan anak. Apabila tayang pada jam tersebut seharusnya dahsyat lebih memperhatikan konteks isi siaran seperti bahasa yang digunakan, bahan candaan, maupun tingkah laku host.

Dengan minimnya acara televisi anak yang edukatif maka membuat anak-anak akan menonton siaran yang tidak seharusnya. Oleh karena itu, media massa televisi harus lebih memperhatikan apa yang layak untuk disiarkan guna untuk menjaga etika dan budaya masyarakat indonesia.

Namun untungnya salah satu pertelevisian indonesia masih menyajikan tontonan berkualitas untuk anak seperti Si Bolang, Laptop si Unyil, Dunia Binatang dan Acara Tau ngg sih yang membuat anak bertambah pengetahuan.

Acara anak seharusnya bersifat mendidik dan menghibur sesuai dengan usianya. Apabila pertelevisian indonesia sedikit melihat kondisi anak jaman sekarang yang dewasa sebelum waktunya maka seharusnya konteks siaran harus lebih diperbaiki.

Orangtua juga berperan penting dalam pengawasan. Orang tua harus mendampingi serta mengarahkan anak untuk menonton yang sesuai dengan usianya. Orang tua harus teliti dengan simbol (R, RBO, A, D) acara tersebut.  Jangan biarkan anak-anak mengkonsumsi siaran acara yang akan menganggu psikologis anak.

Bisa dilihat bahwa kasus anak-anak yang sering terjadi. Di era kemanjuan jaman tentu banyak pergeseran yang membuat isu-isu terbaru. Hal ini seharusnya menjadi perhatian media untuk lebih baik dalam membuat siaran acara. Jangan hanya mengutamakan rating kemudian melupakan kualitas.

Anak-anak adalah masa depan bangsa yang harus dijaga. Jika sejak dini pikiran mereka sudah dikotori dengan hal-hal berbau negatif maka akan mempengaruhi pola pikir anak dimasa yang akan datang.


Refrensi

Hafied, Cangara. 2012. Pengantar Ilmu Komunikasi. Jakarta : Rajawali Pers

JB, Wahyudi. 1986. Media Komunikasi Massa Televisi. Bandung: Alumni

Pedoman Prilaku Penyiaran dan Standart Progam Siaran tahun 2012 (P3SPS)