HIGHLIGHT

Meresapi Kemerdekaan RI di Hari Nan Fithri, Implikasinya Terhadap Kehidupan Personal dan Sosial

26 Agustus 2012 21:43:55 Dibaca :

Tulisan ini pernah dimuat dalam mimbar Jum’at Masjid Jami at-Taqwa Ujungharapan Bekasi pada 17 Agustus 2012.


Lantunan suara takbir, tahmid, dan tahlil menggemuruh ke seluruh jagad raya sejak terbenamnya matahari di hari terakhir bulan Ramadhan,  menandakan bahwa bulan penuh keagungan ini berakhir. Dengan demikian, umat Islam telah selesai melaksanakan ibadah puasa lebih kurang satu bulan lamanya.


Seiring dengan itu, ucapan selamat beserta do’a  juga saling terlontarkan dikalangan umat Islam. Minal Aidin wal Faizin wal Maqbulin Kullu Aamin Nahnu wa Antum Bikhoir wa Afiyah. Kalau diterjemahkan, bunyinya: Semoga termasuk orang-orang yang kembali (kepada fitrah) dan diterima (amal ibadahnya). Mudah-mudahan setiap tahun kami dan kamu sekalian dalam keadaan baik dan sehat wal afiyah.


Perayaan hari raya Idul Fithri kali ini menjadi teramat berkesan karena berbarengan dengan hari ulang tahun kemerdekaan yang ke-67 Negara Republik Indonesia (tahun ini yang ke-68). Peristiwa tersebut kembali mengingatkan kita mengenai perjuangan para pahlawan yang rela mengorbankan jiwa dan raga untuk merebut kemerdekaan bangsa ini dari tangan para penjajah. Dua moment besar yang kita alami beririsan waktunya ini sama-sama menyiratkan makna yang terkandung cukup dalam, yaitu kemenangan dan kemerdekaan.



Definisi Kemenangan dan Kemerdekaan


Dua kata ini sebenarnya punya makna yang sangat dekat. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (2002), kata menang menggambarkan suatu keadaan dimana kita telah dapat menaklukan lawan. Sedangkan merdeka mengisayaratkan suatu keadaan dimana kita bebas dari penghambaan dan dapat menentukan hidup kita sendiri.


Pengertian kemenangan (Victory; triumph) dalam Longman Dictionary of Contemporary English (2003) dijelaskan sebagai:  the success you achieve when you win a battle, game, election etc. Adapun kemerdekaan (Independence; freedom), berarti: The freedom and ability to make your own decisions in life, without having to ask other people for permission, help, or money; the right to do what you want without being controlled or restricted by anyone.


Penulis menyimpulkan, kemenangan merupakan suatu keadaan yang kita peroleh melalui proses dimana kita aktif terlibat mengerahkan segala daya upaya dengan sungguh-sungguh dalam proses itu sehingga kita dapat memperoleh hasil yang kita inginkan dan merasa bebas (merdeka) untuk berbuat apa, dan menjadi siapa, selama tidak bertentangan dengan syariat Islam.



Makna Kemenangan & Kemerdekaan


Kemenangan yang kita raih pada saat hari raya Idul Fithri ini adalah hasil dari proses perjuangan mengendalikan hawa nafsu yang kita lakukan selama bulan Ramadhan. Dalam bulan tersebut, kita dididik untuk berpuasa (menahan) atau mengontrol hawa nafsu, tidak hanya biologis seperti: makan, minum, dan seks, melainkan juga, nafsu psikologis seperti: membicarakan keburukan orang lain, berbohong, mengumpat, mengambil hak orang, menonton film yang membangkitkan nafsu seksual, dan yang lainnya.


Perilaku menahan (puasa) ini dilakukan terhadap sesuatu yang haram dan juga sesuatu yang halal. Meskipun untuk yang halal ini sifatnya sementara, yaitu sehabis waktu sahur hingga adzan Maghrib.


Jika seseorang berpuasa dari nafsu biologis saja (makan, minum, dan seks) sedangkan nafsu psikologisnya tidak, maka ini termasuk orang-orang yang tersinyalir dalam sabda Rasululullah SAW:


Berapa banyak orang yangberpuasa namun mereka tidak memperoleh pahala kecuali lapar dan haus saja.


Sebab itu, moment kemenangan idul fithri yang kita raih ini hanyalah merupakan satu langkah dari proses perjuangan yang kita lakukan. Kita baru berhasil melewati pendidikan Ramadhan, masih ada tahapan-tahapan berikutnya yang harus kita tempuh, yaitu menjadi individu yang bertaqwa yang merupakan standar kompetensi yang ditetapkan setelah melalui proses pendidikan dan pelatihan Ramadhan. Sebagaimana dimaksud dalam surat al-Baqarah ayat 183:


Hai orang-orang yang beriman! Diwajibkan berpuasa atas kamu seperti telah diwajibkan atas orang sebelum kamu, agar kamu mempraktikkan perilaku taqwa.


Individu taqwa adalah seseorang yang mampu menjadikan perilaku sehari-harinya, sekecil apapun yang dilakukannya, apapun bentuk perbuatannya, dimanapun dilakukannya, dengan siapapun melakukannya, merupakan perilaku yang bernilai ibadah di sisi Allah SWT bukan bernilai sebaliknya.


Sangat disayangkan, jika pada bulan Ramadhan kita mampu mengkhatamkan al-Qur’an sebanyak tiga kali, tapi di bulan lain tidak mampu melakukan hal serupa. Saat Ramadhan kita mampu melaksanakan salat lima waktu secara berjama’ah, namun di bulan lain hal itu terbengkalai. Mereka yang mengenakan busana muslim ketika bulan Ramadhan datang, dengan serta merta menanggalkan pakaian tersebut saat bulan puasa itu pergi. Bahkan banyak diantara kita, setelah hari raya Idhul Fithri bukan malah meningkat kualitas dan kuantitas amal ibadahnya, melainkan menurun drastis hingga ke level yang mencemaskan.


Jika hal semacam ini masih terjadi, maka berarti kita hanya memperoleh kemenangan semu karena belum mampu memaksimalkan kemenangan yang kita peroleh. Dengan kata lain, kita belum memilih untuk merdeka karena diri kita terbelenggu kembali oleh hawa nafsu yang pada bulan Ramadhan sempat kita taklukkan.


Sayang sekali, usaha yang kita lakukan dengan susah payah untuk meraih kemenangan, namun ketika kemenangan itu didapat kita biarkan saja moment berharga itu terlantarkan, sehingga diri kita menjadi terjajah dan dikuasai kembali oleh hawa nafsu yang cenderung melanggar aturan-aturan Allah SWT.


Jadi, kemenangan Idhul Fithri yang sebenarnya adalah bagaimana kita dapat terus terbebas dari belenggu hawa nafsu, bukan hanya di bulan Ramadhan tapi juga di bulan-bulan lainnya. Itulah makna kemenangan yang kita lihat dalam konteks personal.


Dalam konteks sosial, Individu-individu yang berhasil memperoleh kemenangan dan juga mampu memepertahankan moment kemenangan itu, sehingga dia tetap menjadi orang yang merdeka (bebas lepas) dari cengkraman hawa nafsu, akan mampu menggerakkan institusi-institusi sosial --dimana individu itu berada didalamnya— sehingga institusi tersebut dapat berfungsi dan berperan efektif serta mampu menjaga amanah yang diberikan masyarakat. Akibatnya, masyarakat dapat terwadahi dan mampu beribadah kepada Allah SWT dengan lebih bermakna.


Dalam konteks sosial yang lebih luas, sudah selayaknya negara RI sejak menang melawan penjajah dan memproklamirkan diri merdeka pada tanggal 17 Agustus 1945 mampu menjadi bangsa yang mandiri, bebas lepas dari cengkraman dan intervensi negara-negara asing. Juga, bantuan–bantuan mengikat yang diberikan oleh para donatur dan lembaga internasional. Demikian pula, mental menghamba, rendah diri, dan takut kepada selain Allah SWT harus dibuang jauh-jauh dari diri pemimpin-pemimpin negeri ini.


Momentum hari raya Idul Fithri –setelah mengalami proses pendidikan Ramadhan- merupakan saat yang paling tepat untuk para pemimpin kita benar-benar memanfaatkan kemenangan personal yang diraihnya untuk tetap memilih menjadi individu yang merdeka, lepas dari belenggu nafsu biologis maupun nafsu psikologis. Mereka harus punya keberanian untuk menerapkan pelatihan dan pendidikan selama Ramadhan (Kejujuran, kedisiplinan, perilaku prososial) dalam kepemimpinan yang dijalankannya. Terlebih disaat gelombang otonomi daerah ini bergulir dan terbukanya kursi kepemimpinan untuk siapa saja. Maka terbentuknya baldatun tayyibatun wa rabbun ghofur menjadi sangat tergantung kepada kepiawaian dan niat baik pemimpin daerah itu.


Jika pada bulan Ramadhan saja dia tidak berani meminum seteguk air yang diperoleh secara halal, meskipun tidak ada orang yang melihatnya, maka sudah sepantasnya dia malu kalau mengambil sesuatu yang bukan haknya walau hanya satu sen. Bila ini terjadi, maka perilaku-perilaku terpuji senantiasa menjadi perilaku kesehariannya.


Begitulah, jika kita semua menginginkan negara RI ini benar-benar menjadi bangsa yang merdeka dalam arti yang sebenarnya.


Kemerdekaan yang telah kita capai sekarang ini, baru sebatas kemerdekaan atas penjajahan secara fisik. Sedangkan realitanya, bangsa ini masih terjajah oleh bentuk penjajahan baru yang justeru lebih kejam dan menyengsarakan rakyat pada umumnya.


Kekayaan sumber daya alam yang terkandung di negeri ini, sebagian besar masih dikuasai negara asing. Perekonomian di republik ini, didominasi oleh segelintir orang. Kebijakan pejabat pemerintahan, masih sangat berpihak kepada kepentingan pribadi dan golongan.


Jika keadaan negeri kita masih seperti ini, apakah betul bangsa ini telah merdeka? Padahal, kalau kita menengok negeri lain yang masih muda usia kemerdekaannya, banyak diantara mereka telah dapat menjadi bangsa yang mandiri, maju, makmur serta sejahtera yang ditandai dengan pendidikan yang berkualitas dan mampu dikenyam oleh berbagai lapisan masyarakatnya, pemenuhan kebutuhan dasar yang terjangkau, serta pemenuhan kesehatan masyarakat yang terjamin.


Sebagai penutup, meraih kemenangan yang kita usahakan melalui proses yang susah payah akan sangat sia-sia jika kita tidak memilih untuk menjadi pribadi yang merdeka (bebas lepas) dari nafsu biologis dan nafsu psikologis. Sebab, kemenangan dan kemerdekaan saja belum cukup. Itu hanya  merupakan prasyarat, bukan menjadi tujuan dalam kehidupan kita sebagai mahluk individual maupun sosial. Yang terpenting adalah bagaimana kita tetap memilih moment kemenangan dan kemerdekaan itu menjadi wadah agar kita mampu beribadah kepada Allah SWT secara lebih bermakna yang termanifestasi dalam bentuk perilaku yang berkualitas.


Jika kemenangan Idhul Fithri dan kemerdekaan RI yang kita peroleh hanya dimanifestasikan melalui kegiatan seremonial semata, tidak lebih dari itu, maka pendidikan dan pelatihan selama Ramadhan hanya menjadi rutinitas semata, yang terus berlangsung dari tahun ke tahun tanpa memberikan makna dan dampak nyata yang mampu membawa perubahan yang lebih baik untuk kehidupan kita sebagai makhluk individual maupun sosial terlebih lagi berbangsa dan bernegara. Minal Aidin Wal Faizin. Dirgahayu RI yang ke-68.





M. Husni Mubarok

/emhusni

Pembelajar, Pemerhati , dan praktisi masalah psikologi dan pendidikan
Selengkapnya...

KOMPASIANA ADALAH MEDIA WARGA, SETIAP KONTEN DIBUAT OLEH DAN MENJADI TANGGUNGJAWAB PENULIS.

Siapa Yang Menilai Tulisan Ini ?