pilihan headline

Tentang Memasak dan Pendidikan untuk Anak: Sepenggal Kisah Bersama Mereka

23 Juni 2017   12:28 Diperbarui: 27 Juni 2017   15:49 247 2 2
Tentang Memasak dan Pendidikan untuk Anak: Sepenggal Kisah Bersama Mereka
Dok.pribadi

Tidak ada kewajiban bagi seorang wanita untuk bisa memasak, tetapi jika bisa memasak maka ini lebih baik. Setiap gerak tangannya akan bernilai sebagai pahala, InsyaAllah. Sebab di sini, memasak bukan hanya sekedar mengolah dan menghidangkan makanan saja. Ada keterlibatan hati dan perasaan di dalamnya. Lalu ketika telah berumahtangga, memasak bisa menjadi bagian dari proses pendidikan dari seorang ibu kepada anak-anaknya. Sebab banyak sekali nilai-nilai yang bisa diajarkan kepada anak-anak melalui aktivitas memasak ini. Maka, cobalah untuk sesekali melibatkan anak-anak dalam aktivitas ini, apalagi dengan anak perempuan. 

Melibatkan anak-anak dalam aktivitas memasak memang cenderung memakan waktu yang lebih lama. Dari yang biasanya memasak menu lengkap bisa selesai dalam waktu 30-45 menit, ketika melibatkan anak-anak mungkin akan menjadi 2 sampai 3 kali lipatnya. Tapi ya rasakan saja bagaimana nikmat dan bahagianya. Waktu yang lama karena ada proses pendidikan di dalamnya. Bagaimana cara mengolah makanan yang sehat? kenapa mendahulukan melakukan ini sebelum itu? dan waktu-waktu yang harus diluangkan untuk menjawab penasaran-penasaran mereka akan suatu hal. Nah, justru dari aktivitas inilah akan semakin menumbuhkan kedekatan, keterbukaan, dan melatih komunikasi yang efektif antara seorang ibu dengan anak-anaknya.

Berikut akan saya ceritakan pengalaman saya memasak dengan anak-anak kemarin. Bermula dari keinginan membangun komunikasi dan kedekatan terhadap anak-anak didik saya di sekolah, akhirnya tercetuslah ide untuk melakukan aktivitas memasak bersama beberapa anak. Hal ini pun juga tak lepas dari keinginan mereka yang menyatakan diri mau membantu memasak untuk suatu kegiatan yang akan kami lakukan bersama.

***

Tahap pertama adalah berbelanja. Dalam hal ini saya hanya bisa mengajak satu orang anak setelah sebelumnya berunding untuk menyepakati siapa yang akan menemani saya berbelanja. Ketika berunding itu saya juga mengatakan bahwa berbelanja pada pagi hari di pasar itu lebih murah daripada siang hari. Alhasil, anak tersebut pun menghampiri saya ke rumah ba’da subuh untuk berbelanja di pasar. 

Selama di pasar anak itu terlihat heran dengan harga-harga bahan makanan dan keluarlah komentar kalau itu ternyata mahal, ini murah, bahkan mengomentari sikap-sikap para pedagang di pasar. Wkwk.. dan akhirnya munculah karakter emak-emak dari si anak tersebut. 

Ketika di pasar tersebut, muncul pula sikap empati yang ditunjukkannya. Ketika melihat simbah-simbah yang berjualan tapi sepi pembeli dia berkomentar "kasian ya, Bu.. belum ada yang beli", bahkan ketika saya dikatain sama seorang pedagang ketika menawar dagangan (padahal saya nawarnya cuma tanya “mboten kirang niki, Bu? Mbok dikirangi regine”, eh tapi malah dikatain lalalala sama pedagang itu :-D). Istighfar ja deh ya dan saya ya memaklumi saja, sebab sudah biasa hal seperti itu di pasar mah. Tapi, kemudian saya menjelaskan dengan bahasa curhat kepada anak murid yang saya ajak belanja itu, tentang perbedaan pasar tradisional dan modern, kelebihan dan kekurangannya, akad dalam jual beli, sikap yang sebaiknya dimiliki oleh pedagang dan pembeli, yang akhirnya memancing sifat yang saya harapkan tumbuh darinya. Alhamdulillah.

***

Setiba di rumah ternyata saya telah ditunggu oleh beberapa anak. Alhasil begitu dari pasar, bukannya duduk istirahat dulu yang dilakukan tapi langsung bongkar-bongkar barang belanjaan sama mereka saking semangatnya. Nah, saat membongkar bahan belanjaan, biasanya anak akan bertanya ini nanti ngapain dulu? Yap, dan disinilah kata kunci pendidikan dalam aktivitas memasak dimulai. Maka, akan lebih baik jika dari awal kita harus menyebutkan dulu apa yang mesti dilakukan, ya meskipun nanti kita juga bakalan untuk menyebutnya lagi bahkan berulang kali pas di tengah-tengah aktivitas memasak. Hehe, tapi tetep semangat dan sabar ya, Bu.. :-D

“Ini nanti sayurnya dicuci dulu sebelum dipotong. Dagingnya juga di cuci, habis itu nanti juga ngupas bawang, nguleg bumbu, dan de el el.” terang saya kepada mereka. Dan jangan kaget dengan respon anak-anak yang begitu cepat tanggap seperti anak-anak murid saya berjumlah 4 ini ketika saya menyebutkan semua hal yang akan dikerjakan nanti. ‘aku nanti nglakuin ini, kamu itu aja. // Enggak, aku mau ini, mau itu.” Intinya itu mereka saling berebutan pekerjaan dan ternyata anak-anak ingin melakukan itu semua dengan mencobanya satu-satu. Tapi, untuk hal ini saya tidak mengijinkannya. Tentunya dengan memberi penjelasan terlebih dahulu jika pekerjaan kita akan cepat selesai apabila kita saling bekerja sama bukan melakukan pekerjaan yang sama sekaligus. Akhirnya saya membagi kelompok untuk melakukan pekerjaan yang berbeda-beda. Maka, disinilah kita juga belajar tentang efisiensi waktu.

***

Tidak selalu aktivitas ini bisa berjalan lancar sesuai rencana. Terlebih bila kita melakukannya dengan anak-anak yang baru pertama kali terjun ke dapur. Akan banyak hal yang lucu dan bikin gemes mereka. Karena ketika memasak bersama anak-anak, mereka itu tidak langsung menyelesaikan pekerjaannya, tetapi memperlamanya dengan bermain-main, ya seperti pasaran gitulah. Berpindah pekerjaan sebelum pekerjaannya selesai karena tergoda pekerjaan temannya lebih asik dan enak. Bahkan ada anak yang merasa jijik untuk mencuci daging, menggunakan pisau secara terbalik (untung ga nglukain tangan), melempar tempe ketika mau menggoreng karena takut terkena percikan minyak, mengolak-alik ayam yang belum matang sampai remuk (huhu...ayamkuuuuuuu , rasanya pengen teriak kayak anak di iklan Mie instan ayamku itu), dan masih banyak tingkah polah mereka yang bikin geleng-geleng kepala memancing diri ini agar turun tangan mengambil alih pekerjaan. 

Eits, tapi sabar... keinginan itu harus dilawan. Sebab berapa banyak orangtua yang tak bisa bersabar dalam mengajarkan sesesuatu kepada anak? Dan lihatlah ketidaksabaran itu nantinya hanya akan melahirkan sikap ketergantungan dan ketidakmandiriin anak. Ingat sebuah nasehat yang disampaikan seorang guru di Inggris kepada orangtua murid, they said, “Parents, please help your children to be independent. Let them help themselves. If you always them, they wont’t learn to be independent.

Maka sabar dulu, tahan diri untuk tidak melakukan pertolongan dan biarkan mereka melakukannya seorang diri lebih dahulu sampai alarm itu berteriak “Buuuuuuu....ini gimanaaaaa?” Hahaa..dan inilah  tiba moment yang tepat untuk take action. 

Jika mereka terbiasa menyelesaikan masalah dibantu orangtua, maka ia akan bergantung pada bantuan orang lain ke depannya. Hal sederhana yang berdampak pada karakter anak di masa depan.

"Jadi begini hlo sayangku, cintaku, cantikku sholehahku...bla...bla...bla..." hehe, saya sengaja membrendel sapaan itu di depan untuk meredam emosi karena ketidaksabaran dan menciptakan kesan ke anak-anak bahwa "ini hlo bukan masalah besar, bisa diselesain dengan cara yang lebih cepet" dan tentunya untuk menenangkan mereka. Selain itu juga untuk memotivasi mereka agar nggak mutung kalau nggak bisa. 

Nah, sapaan yang baik ini juga masuk dalam komunikasi yang efektif untuk  menjaga hati mereka hlo dan memberi contoh “ini hlo ada perkataan dan sapaan yang baik, jadi jangan gunain kata-kata yang buruk ya.”

“Ini ayamnya di cuci pakai air yang mengalir biar darahnya mudah hilang juga. Bisa pake kran atau diguyur pake gayung ini dulu. Nanti dicucinya ga cuma sekali hlo ya” Jelas saya sampai ngasih contohnya.

”Ini ketumbarnya dulu yang diuleg, jangan bersamaan sama bawang dan bumbu lainnya. Nanti susah halusnya. Atau kalau mau cepet halus, dikasih garam dikit dulu nggak apa-apa.”

“Waktu masukin ayam ke penggorengam, jangan dilempar. Nih ditaruh pelan-pelan kayak gini biar minyaknya nggak muncrat.” Saranku setelah ada yang kecipratan minyak panas karena main lempar-lempar ada masukinnya. Wkwk.

“Kalau timunnya dipotong seperti ini cocoknya buat lalapan dong, cantik. Kalau buat trancam dipotong dadu kecil-kecil kayak gini ya.” Kata saya sambil ngasih contoh juga. Setelah saya memberikan contoh, saya biarkan mereka menyelesaikan pekerjaannya seorang diri tapi tentunya dengan ngaish kontrol semisal ada yang “aneh-aneh” lagi.

Awalnya saya tidak menyangka aktivitas memasak bersama anak-anak seperti ini ternyata menjadi sebegitu menyenangkannya. Saya bisa mengobrol lebih banyak dan bebas dengan mereka tak seperti biasanya sewaktu di kelas. Bisa lebih tau tentang latar belakang mereka dan karakter mereka. Maka, benarlah jika memaksa bersama bisa menumbuhkan kedekatan hati.

***

“Bismillah, semoga rasanya enak ya. Soalnya ga dirasain ini karena semua sedang puasa kan ya?.” Kataku.

“Aamiin...InsyaAllah enak, Bu. Kan masaknya pake hati.” Kata seorang dari mereka. Alhamdulillah, hati kecilku rasanya mau loncat-loncat girang karena mereka akhirnya tau inti dari memasak itu apa.

“Sebenernya boleh di cicipin dikit sih, asalkan nggak ditelen dan langsung di keluarin.” Kataku.

“Iya, boleh Bu. Tapi makruh.” Kata seorang anak lainnya. Alhamdulillah, ternyata ada salah satu anak yang sudah tau hukumnya dan akibatnya anak-anak yang lain pun juga ikut tahu. Ya, memasak bersama itu salah satunya dalah menularkan pengetahun.

Dari saya mulai mengerti, ternyata aktivitas memasak dan medan dapur memang cukup untuk membentuk karakter seseorang. Inilah salah satu moment yang menciptakan kedekatan antara ibu dan anak. Moment yang tepat untuk ibu dan anak bisa saling bercerita, memberi nasehat, dan bertukar pengalaman. Dari sini pun saya mengerti kenapa kok wanita tempo dulu, wanita dari generasi X dan generasi sebelumnya cenderung lebih tangguh, lebih mandiri, rela bekerja keras, tidak mudah mengeluh. Itu semua salah satunya karena medan dapurlah yang menempa mereka, memutar akal mereka agar engan uang segini bisa dapet menu makanan yang cukup untuk angota keluarganya. Berbeda dengan generasi Y dan Z yang cenderung suka pada hal-hal yang praktis dan tergantung pada kecanggihan teknologi. 

Hingga sampailah pada kesimpulan si kecil sholihahku, “Bu, kalau masak sendiri itu ternyata jauh lebih sehat, bersih dan ngirit ya..”


*FYI, usia anak yang membersamai di atas yaitu 9 dan 10 tahun.
#elw