Termehek-mehek Menjadi Ibu Rumah Tangga

24 September 2012 13:26:04 Dibaca :
Termehek-mehek Menjadi Ibu Rumah Tangga

Pasca Lebaran, hingga saat ini saya belum jua mendapatkan Pekerja Rumah Tangga (PRT) menggantikan si mbak yang sudah hampir 3 tahun bekerja pada kami. Otomatis saya harus merangkap 2 peran sekaligus, sebagai ibu rumah tangga dan tetap aktif bekerja 3 hari dalam seminggu.

Menjadi ibu rumah tangga full yang harus mengurus keluarga bukanlah perkara mudah. Mungkin karena saya belum terbiasa menangani semua pekerjaan rumah tangga seorang diri tanpa bantuan PRT. Apalagi si kecil Darielle sudah aktif sekolah di TAAM (Taman Asuh Anak Muslim). Meskipun hari sekolahnya hanya 3 hari saja (Senin, Rabu dan Jumat) saya pun harus mengantarnya ke sekolah.

Bersyukur si boss tak mempermasalahkan waktu kerja saya. Saat saya meminta kebijakan padanya agar bisa ngantor di hari Selasa, Kamis dan Jumat, ia tak keberatan. Selama saya bekerja, dengan sangat terpaksa anak-anak harus saya titipkan pada ibu saya.

Awalnya saya keberatan saat ibu menawarkan diri untuk menjaga anak-anak selama saya bekerja, mengingat usia ibu yang tak lagi muda. Belum lagi kondisi ibu yang pernah terkena stroke. Namun ibu tetap bersikukuh untuk tinggal bersama kami sampai saya mendapatkan PRT yang bisa dipercaya.

Sungguh suatu pekerjaan yang tak mudah menjalani profesi sebagai ibu rumah tangga yang merangkap sebagai ibu bekerja. Mulai dari bangun tidur pekerjaan rumah sudah menanti, menyiapkan sarapan untuk Danish yang akan berangkat sekolah juga suami yang hendak ke kantor.

Setelah suami dan si kakak berangkat, pekerjaan lainnya menunggu antrian untuk disentuh. Cucian dua ember, cucian piring bekas memasak dan sarapan. Belum lagi mempersiapkan kebutuhan Darielle dan harus mengantarnya sekolah. Pulang dari sekolah Darielle, saya kembali dipusingkan dengan pilihan 'harus memasak apa hari ini?'

Mulailah saya sibuk mencari tukang sayur dan memasak menu tanpa direncanakan. Apapun yang saya dapatkan dari tukang sayur, itulah yang akan saya masak. Meski tak lihai memasak, setidaknya anak-anak masih doyan dengan masakan mamanya. Beruntungnya suami saya bukan tipe suami yang rewel, yang selalu minta dimasaki masakan yang nikmat. Ia sangat memaklumi keterbatasan waktu saya.

Selesai memasak, jangan harap saya bisa tidur nyenyak. Cucian baju yang kering harus saya setrika. Bila saya tunda, alhasil baju-baju itu akan menggunung di keranjang. Semakin mumet lah saya bila melihat tumpukan itu.

Itu adalah sederet pekerjaan yang terdaftar dalam benak saya. Pekerjaan lain yang belum tersentuh adalah menyapu dan mengepel lantai. Meski pekerjaan mudah, setidaknya saya harus meluangkan waktu untuk mengerjakannya. Saat si kecil Darielle terlelap bobo siang, kesempatan itu saya manfaatkan untuk menyapu dan mengepel lantai. Setelah itu menyetrika pakaian.

Hufftt...benar-benar melelahkan. Awalnya saya termehek-mehek mengerjakan semua pekerjaan ini. Ingin menangis rasanya. Belum lagi pekerjaan di kantor yang bertumpuk. Sekalipun berada di rumah, telpon dari kantor maupun dari klien tak pernah reda. Tubuh berada di rumah, namun pikiran saya terus bekerja untuk urusan kantor.

Nyaris tak ada waktu saya beristirahat. Saat berada di sekolah Darielle, saya saksikan puluhan ibu yang mengantarkan anak-anaknya sekolah. Tak terlihat kelelahan di wajah mereka. Sungguh salut saya melihat pemandangan itu. Apa ya rahasia mereka bisa menikmati profesi ibu rumah tangga tanpa termehek-mehek seperti saya?

Beberapa di antara mereka yang saya ajak berbincang mengaku tak memiliki PRT di rumah. Bahkan ada beberapa ibu yang membawa bayinya serta. Wonderwomennya si ibu, ia mengendarai motor sambil menggendong bayinya plus memboncengi si kecil sepulang sekolah.

Melihat 'keperkasaan' para ibu itu, saya berani angkat 2 jempol untuk mereka. Seharusnya saya bisa seperti mereka. Mereka bisa menikmati profesi sebagai ibu rumah tangga tanpa merasa terbebani. Bila hati tak merasa nyaman dan terbebani, maka akan seperti saya yang saya rasakan. Mungkin inilah yang membuat saya seringkali mengeluh kelelahan mengerjakan pekerjaan rumah tangga mulai dari bangun tidur hingga akan beranjak tidur lagi.

Dari situlah saya mulai belajar memanage waktu agar tak selalu terpontang-panting setiap harinya. Jika para ibu yang saya lihat itu bisa melakukan semuanya dan mengatur waktunya dengan baik, mengapa saya tidak?

Bila mengingat perjuangan ibu saya dahulu, ia seorang diri mengurus 4 orang anak. Tanpa suami, tanpa PRT. Sungguh tak sebanding dengan rasa lelah yang saya rasakan. Tak seharusnya saya terus-terusan mengeluh mengerjakan pekerjaan yang memang menjadi tugas saya sebagai seorang ibu.

Ternyata menjalani profesi sebagai ibu rumah tangga tetap dibutuhkan kecermatan dalam memanage waktu. Bila ada yang menganggap remeh profesi ibu rumah tangga, seharusnya mereka berpikir dua kali. Betapa profesi ibu rumah tangga sungguh pekerjaan mulia dan tak kenal waktu. Tak terbayang lelah dan peluh yang mengalir di setiap harinya.

Duhai para suami yang budiman, dari cerita saya ini dapatlah anda membayangkan bagaimana rasa lelah dan jenuhnya istri anda yang setiap hari berkutat dengan pekerjaan rumah tangga. Sungguh kekaguman luar biasa saya terhadap para ibu rumah tangga yang tetap tersenyum menjalani profesi mereka yang tak kenal waktu.

Bila para ibu yang lain bisa menangani semuanya seorang diri, mengapa saya tidak? Semoga saja PRT yang bisa dipercaya dalam membantu saya menjaga anak-anak selama saya bekerja bisa segera saya dapatkan dalam waktu dekat ini sehingga ibu saya bisa beristirahat di rumah tanpa harus kelelahan menjaga anak-anak.

Ella Zulaeha

/ella_zulaeha

TERVERIFIKASI (HIJAU)

Pages FB : Bursa Tas Branded Batam
Selengkapnya...

KOMPASIANA ADALAH MEDIA WARGA, SETIAP KONTEN DIBUAT OLEH DAN MENJADI TANGGUNGJAWAB PENULIS.

Siapa Yang Menilai Tulisan Ini ?