HIGHLIGHT

Sepak Terjang Si Lugu: 3 Bulan Sukses 'Ngakali' Orangtua

13 Juni 2012 01:05:52 Dibaca :

Kemarin saat di kantor, saya kembali mendengarkan lanjutan cerita rekan kerja saya, Zaid perihal Bayu, putra ketiganya. Bayu saat ini duduk di kelas 2 SMA. Saat Bayu kelas 1 (waktu itu liburan semester), Bayu banyak menghabiskan waktu liburannya di sebuah Warnet yang letaknya tak jauh dari rumahnya.


Sebenarnya Zaid tahu putranya itu sering main game online di Warnet itu. Namun karena kesibukan Zaid dan istrinya di kantor membuat keduanya tak begitu memantau aktivitas putranya itu. Selama ini mereka percaya Bayu anak yang bisa diandalkan. Ia anak yang lugu, penurut dan kelakuannya lurus-lurus saja.


Setahu Zaid, liburan semester Bayu hanya 2 minggu saja. Sewaktu Zaid bertanya mengapa sudah lewat 2 minggu lebih Bayu belum jua masuk sekolah. Bayu beralasan sekolahnya memang sedang libur. Waktu berlalu hingga sebulan, Zaid masih belum bertanya lagi mengapa Bayu tak kunjung sekolah juga.


Saat memasuki bulan ke-2, Zaid mendapat surat panggilan dari pihak sekolah yang memberitahukan bahwa Bayu sudah hampir 2 bulan terakhir tidak hadir di kelas. Membaca surat panggilan itu, Zaid dan istrinya kaget bukan kepalang.


Orang tua mana yang tak kecewa saat mendapati putranya ternyata selama ini pandai bersandiwara. Malam harinya, Zaid langsung menyidang Bayu soal panggilan dari sekolah Bayu. Bayu panik dan bingung. Alasan apa lagi yang hendak dilontarkannya. Bayu berdalih tak kerasan dengan suasana kelasnya. Oleh karena itu dia sengaja tak berangkat sekolah.


Mendengar alasan itu, Zaid tak percaya begitu saja. Setelah didesak oleh Zaid apa alasan sebenarnya Bayu tak mau sekolah, Bayu dengan suara gemetar menceritakan bahwa ia selama ini memang ketagihan bermain game online di Warnet. Bahkan uang SPP pun ludes di tempat itu.


Zaid dan istrinya bukan main shocknya. Mereka sungguh tak menyangka, si lugu Bayu selama 2 bulan ini tega membohongi mereka. Apa hendak dikata, ibarat nasi sudah menjadi bubur. Betapapun marahnya Zaid terhadap putranya itu, takkan mampu mengobati rasa kecewanya.


Zaid menyesalkan mengapa selama ini ia begitu percaya begitu saja dengan keluguan Bayu. Ia tak pernah mengawasi atau mengontrol aktivitas putranya di luar rumah. Ia juga nyaris tak ada waktu menemani anak-anaknya selama liburan. Waktunya habis hanya untuk bekerja, demikian pula istrinya.


Memasuki bulan ke-3, Zaid dan istrinya masih terus berusaha membujuk Bayu agar ia mau masuk sekolah lagi. Pihak sekolah juga menyampaikan pesan jika Bayu tak masuk sekolah lagi dalam waktu dekat, terpaksa di DO!


Baru kali ini Zaid menghadapi situasi yang amat memusingkan kepalanya. Ia sungguh tak mengira dampak kecanduan game online begitu mengacaukan kehidupan putranya. Mau tak mau Zaid harus bolak-balik izin dari kantor demi bernegosiasi dengan pihak sekolah. Ia berupaya mencari solusi dengan berkonsultasi dengan Kepala Sekolah Bayu perihal masalah yang membelit Bayu selama ini.


Istri Zaid sudah tak mampu lagi menahan emosinya. Ia kemudian memaksa Bayu agar berangkat lagi ke sekolah. Emosi ibunya yang demikian meluap tak lantas membuat Bayu berubah. Ia sama sekali tak begeming. Efeknya, Bayu ngambek. Ia mengunci diri di dalam kamar selama 2 hari. Jelas saja Zaid dan istrinya kembali dibuat panik.


Kekhawatiran luar biasa di hati Zaid karena Bayu hampir 2 hari tak makan. Ia kemudian nekat memanjat kamar Bayu demi melihat apakah putranya itu masih 'bergerak'. Ternyata rasa lapar yang melilit Bayu, membuatnya tak kuasa. Esok harinya Bayu keluar dari 'semedinya'. Ia menangis dan bersujud di kaki ibunya. Ia pun berjanji akan kembali ke sekolah memenuhi harapan kedua orang tuanya.


Zaid dan istrinya tak kuasa membendung airmata. Betapa mereka sangat mengasihi putranya itu. Bayu menyesal karena telah mengkhianati kepercayaan kedua orang tuanya. Ia juga berjanji akan berjuang untuk lepas dari ketagihan game online. Zaid memegang kata-kata Bayu. Terakhir Zaid meminta agar Bayu bisa membuktikan janjinya dengan menunjukan nilai sekolah yang terbaik.


Janji itupun dipenuhi Bayu. Ia meminta walikelasnya agar ia diizinkan mengejar ketinggalan pelajarannya. Bayu pun mulai mengikuti ulangan susulan. Ternyata janji Bayu terbukti. Ia berhasil mendapatkan nilai yang cukup baik sekalipun pernah tertinggal pelajaran dalam waktu yang cukup lama. Alhasil kesadaran Bayu pun membawanya naik ke kelas 2.


Mendengar sepak terjang Bayu, saya sesekali menarik nafas panjang plus geleng-geleng kepala. Bayu kecil yang saya kenal dulu kini telah beranjak remaja. Siapa mengira ABG yang lugu itu memiliki sepak terjang yang lumayan bikin stress orang tuanya. Bersyukur masa-masa sulit itu bisa terlewati.


Hikmah dari kisah Bayu ini adalah hendaknya kita orang tua jangan sedikitpun lengah sekalipun kita mempercayai putra-putri kita. Apalagi di usia remaja memang dibutuhkan perhatian ekstra. Anak lugu di rumah tak menjamin lugu juga di luar rumah. Mereka bahkan lebih pintar dari yang kita duga. Demikian pula dalam soal mengenal teknologi seperti game online ini.


Hendaknya pengawasan terhadap anak harus terus dilakukan sekalipun kesibukan kita di kantor seolah tiada habisnya. Hal ini juga membuktikan bahwa kita benar-benar memperhatikan kegiatan anak, baik saat di rumah maupun di luar rumah. Karena ternyata anak lugu dan baik seperti Bayu pun tak luput dari godaan game online.

Ella Zulaeha

/ella_zulaeha

TERVERIFIKASI (HIJAU)

Pages FB : Bursa Tas Branded Batam
Selengkapnya...

KOMPASIANA ADALAH MEDIA WARGA, SETIAP KONTEN DIBUAT OLEH DAN MENJADI TANGGUNGJAWAB PENULIS.

Siapa Yang Menilai Tulisan Ini ?