HEADLINE

Pentingnya "Prenuptial Agreement" bagi Pasangan Beda Negara

01 Juli 2011 02:55:52 Dibaca :
Pentingnya "Prenuptial Agreement" bagi Pasangan Beda Negara

Ilustrasi: Google Image

Cinta adalah anugerah Tuhan. Bertemu dengan seseorang kemudian menjalin cinta, bisa terjadi kepada siapa saja dan kapan saja. Tak terkecuali ketika anda bertemu dengan seseorang yang berkewarganegaraan asing (WNA). Cinta tak mengenal suku, kasta dan negara. Bila ternyata hati anda telah mantap memilih pria WNA sebagai pendamping hidup anda, itu adalah hal yang wajar dan sepenuhnya hak anda. Sebelum memasuki gerbang pernikahan, tentu banyak hal yang harus anda perhatikan. Selain mempersiapkan foto prewedding, pesta di hotel berbintang atau berbulan madu di sebuah pulau yang romantis, hal lain yang tak kalah penting untuk anda berdua persiapkan adalah persiapan pasca-nikah, seperti tempat tinggal, transportasi, pemilihan asuransi, keputusan memiliki anak, pengaturan keuangan dan Perjanjian Pranikah ("Prenuptial Agreement").

Prenuptial Agreement atau lebih populer dikenal dengan Perjanjian Pranikah adalah perjanjian yang dibuat sebelum pernikahan dilangsungkan dan mengikat kedua belah pihak calon mempelai yang akan menikah. Isi perjanjian ini mengenai masalah pembagian harta kekayaan diantara suami istri yang meliputi apa yang menjadi milik suami atau isteri dan apa saja yang menjadi tanggung jawab suami dan isteri, ataupun berkaitan dengan harta bawaan masing-masing pihak agar bisa membedakan yang mana harta calon istri dan yang mana harta calon suami, jika terjadi perceraian atau kematian disalah satu pasangan. Perjanjian Pranikah dibuat dalam suatu akta otentik di hadapan Notaris.

Namun sayangnya, banyak orang yang belum mengetahui tentang makna dan pentingnya Perjanjian Pranikah ini. Sebab, pada awalnya Perjanjian Pranikah sering dilakukan oleh kalangan atas yang yang memiliki harta warisan yang banyak, atau seorang duda/janda yang hendak menikah lagi namun ingin memberikan kekayaan hanya pada anak dari hasil pernikahan sebelumnya. Keinginan orang dari Perjanjian Pranikah kian berkembang sejalan dengan makin banyaknya orang yang menyadari bahwa pernikahan merupakan sebuah komitmen. Tujuan terpenting dari Perjanjian Pranikah ini adalah untuk kepentingan perlindungan hukum terhadap harta bawaan masing-masing (suami ataupun isteri).

Di negara kita, Perjanjian Pranikah memang tidak terlalu membudaya. Ketika anda bermaksud untuk melaksanakan Perjanjian Pranikah, bukan tidak mungkin akan banyak mata yang memandang aneh bahkan merasa risih. Perjanjian Pranikah masih dipandang sebagai sesuatu yang negatif, bahkan mungkin bermakna matrealistik, egois, tidak etis, atau tidak sesuai dengan adat ketimuran.

Namun bila kita mengingat semakin maraknya kasus perceraian, permasalahan yang sebelumnya tak pernah anda bayangkan akan muncul ke permukaan saat terjadinya perceraian. Alangkah lebih baiknya bila pandangan anda dan cara berpikir anda terbuka terhadap fenomena tersebut. Perjanjian Pranikah diharapkan justru dapat memberikan batasan yang jelas mengenai apa yang harus dan boleh dilakukan pasangan, sehingga dapat tercipta kelanggengan dalam pernikahan anda.

Membuat Perjanjian Pranikah diperbolehkan asalkan tidak bertentangan dengan hukum, agama dan kesusilaan, nilai-nilai moral dan adat istiadat. Pasal 29 ayat 1 UU No.1 tahun 1974 tentang Perkawinan (UU Perkawinan) mengatur mengenai hal tersebut "Pada waktu atau sebelum perkawinan dilangsungkan, kedua belah pihak atas persetujuan bersama dapat mengajukan perjanjian tertulis yang disahkan oleh pegawai Pencatat perkawinan setelah mana isinya berlaku juga terhadap pihak ketiga tersangkut". Di dalam penjelasannya, yang dimaksud dengan perjanjian dalam pasal ini tidak termasuk Taklik Talak.

Kompilasi Hukum Islam juga memperbolehkan Perjanjian Pranikah sebagaimana termuat dalam pasal 47 "Pada waktu atau sebelum perkawinan dilangsungkan kedua calon mempelai dapat membuat perjanjian tertulis yang disahkan Pegawai Pencatat Nikah mengenai kedudukan harta dalam perkawinan."

Konsep perjanjian pra nikah awalnya berasal dari hukum perdata barat Kitab Undang-undang Hukum Perdata (KUH Perdata). Namun UU Perkawinan telah mengkoreksi ketentuan KUH Perdata tersebut, khususnya tentang Perjanjian Pranikah. Dalam pasal 139 KUH Perdata mengatur "Dengan mengadakan perjanjian kawin, kedua calon suami isteri adalah berhak menyiapkan beberapa penyimpangan dari peraturan perundang-undangan sekitar persatuan harta kekayaan asal perjanjian itu tidak menyalahi tata susila yang baik atau tata tertib umum dan asal diindahkan pula segala ketentuan di bawah ini, menurut pasal berikutnya"

UU Perkawinan bersifat lebih terbuka, tidak hanya harta kebendaan saja yang diperjanjikan tetapi juga bisa di luar itu sepanjang tidak bertentangan dengan hukum, agama dan kesusilaan, nilai-nilai moral dan adat istiadat.

Manfaat dibuatnya Perjanjian Pranikah ini antara lain, bagi anda wanita Indonesia yang ingin menikah dengan pria WNA, sebaiknya anda terlebih dahulu membahas masalah ini bersama pasangan anda. Hal ini demi kepentingan bersama dan menjamin perlindungan hukum bagi anda berdua, Perjanjian Pranikah merupakan solusi yang terbaik bagi keutuhan perkawinan anda. Contoh paling simple adalah ketika anda bermaksud ingin membeli tanah dan bangunan (rumah), bila anda tidak memiliki Perjanjian Pranikah, hal ini akan menjadi masalah baru bagi anda.

Menurut Pasal 21 Undang-undang No. 5 Tahun 1960 tentang Peraturan Dasar Pokok-Pokok Agraria (UUPA), WNA memang tidak dapat memiliki tanah atau rumah sebagai Hak Milik. Hanya warga negara Indonesia yang dapat mempunyai hak milik Walaupun rumah dan tanah tersebut diatasnamakan isteri yang notabene warganegara Indonesia. Jika tidak adanya Perjanjian Pranikah yang antara lain mengatur harta kekayaan, maka terjadi penyatuan harta kekayaan suami dan harta kekayaan isteri. Oleh karena itu rumah dan tanah itu merupakan harta bersama karena diperoleh selama perkawinan.

Bila suatu hari nanti isteri meninggal dunia, suami yang WNA sebagai ahli warisnya tetap berhak atas rumah dan tanah tersebut, namun bukan sebagai hak milik tetapi hanya hak pakai. Menurut ketentuannya orang asing hanya diperbolehkan memiliki hak pakai saja. Hak milik tersebut dalam jangka waktu 1 (satu) tahun sejak diperolehnya hak itu wajib melepaskan hak tersebut.

Hal tersebut sebagaimana diatur dalam ketentuan pasal 21 ayat (3) UUPA disebutkan: "Orang asing yang sesudah berlakunya Undang-undang ini memperoleh hak milik karena pewarisan tanpa wasiat atau percampuran harta karena perkawinan, demikian pula warganegara Indonesia yang mempunyai hak milik dan setelah berlakunya undang-undang ini kehilangan kewarganegaraannya wajib melepaskan hak itu dalam jangka waktu satu tahun sejak diperolehnya hak tersebut atau hilangnya kewarganegaraan itu. Jika sesudah jangka waktu tersebut lampau hak milik itu tidak dilepaskan, maka hak tersebut hapus karena hukum dan tanahnya jatuh pada negara, dengan ketentuan bahwa hak-hak pihak lain yang membebaninya tetap berlangsung."

Selain itu, bila terjadi perceraian maka Perjanjian Pranikah ini akan memudahkan dan mempercepat pembagian harta, karena sudah pasti harta yang akan diperoleh masing-masing, sudah jelas apa yang menjadi milik suami dan apa yang menjadi milik istri, tanpa proses yang berbelit belit. Harta yang diperoleh isteri sebelum nikah, harta bawaan, harta warisan ataupun hibah tidak akan tercampur dengan harta suami. Karena itu akan menjadi jelas apa saja harta yang dimiliki istri . Dengan adanya pemisahan hutang, maka jelas siapa yang akan yang bertanggung jawab atas hutang tersebut. Demi melindungi anak dan Isteri, maka isteri bisa menunjukan perjanjian pra nikah bila suatu hari suami meminjam uang ke bank kemudian tak mampu melunasi, maka harta yang bisa diambil oleh Negara hanyalah harta yang dimiliki suami dan bukan harta isteri.

*********

Firman Allah SWT:

"Dan jika kamu ingin mengganti istrimu dengan isteri yang lain, sedang kamu telah memberikan kepada seseorang di antara mereka harta yang banyak, maka janganlah kamu mengambil kembali dari padanya barang sedikit pun. Apakah kamu akan mengambilnya kembali dengan jalan tuduhan yang dusta dan dengan menanggung dosa yang nyata? Bagaimana kamu akan mengambilnya kembali, padahal sebagian telah bergaul dengan yang lain sebagai suami-isteri. Dan mereka (isteri-isterimu) telah mengambil dari kamu perjanjian yang kuat" (QS. An-nisa [4]: 20-21).

Ella Zulaeha

/ella_zulaeha

TERVERIFIKASI (HIJAU)

Pages FB : Bursa Tas Branded Batam
Selengkapnya...

KOMPASIANA ADALAH MEDIA WARGA, SETIAP KONTEN DIBUAT OLEH DAN MENJADI TANGGUNGJAWAB PENULIS.

Siapa Yang Menilai Tulisan Ini ?