HEADLINE HIGHLIGHT

Makna Luar Biasa di Balik Oleh-oleh yang Tak Seberapa Untuk Si Kecil

09 Juli 2012 23:16:23 Dibaca :
Makna Luar Biasa di Balik Oleh-oleh yang Tak Seberapa Untuk Si Kecil
Dua buah hatiku: Darielle (3) dan Danish (8)

"Ma, Oleh-olehnya mana?" Pernahkah anda disambut si kecil dengan 'ditodong' pertanyaan seperti itu sepulang dari bepergian atau saat pulang kerja? Apalagi ternyata saat itu anda tak membawakan suatu apapun untuknya, bagaimana perasaan anda?

Pertanyaan seperti itu pernah beberapa kali dilontarkan si kecil. Ketika tubuh lelah hingga tak ada lagi keinginan untuk mampir ke suatu tempat membelikan sesuatu untuk si kecil, setiba di rumah mereka bertanya "Mama bawa apa?" Degh! Pertanyaan itu sungguh menohok hati saya. Apalagi melihat raut wajah si kecil yang tampak berharap mendapatkan sesuatu dari mamanya.

Sejak saat itu saya bertekad untuk selalu membawakan sesuatu, bisa itu berupa makanan, mainan atau benda lain yang jadi kesukaannya. Bila uang di dompet sedang menipis, biasanya saya hanya membelikan jajanan ringan khas kesukaan anak-anak, seperti susu kemasan, biskuit atau snack, permen atau makanan murah meriah lainnya yang banyak dijual di minimarket dekat rumah kami.

Saya berusaha memberi pengertian pada kedua buah hati saya, Danish (8) dan Darielle (3), bahwa mamanya tak bisa  selalu membawakan oleh-oleh untuk mereka. Oleh-oleh itu dibawakan bila mamanya berkesempatan mampir di suatu tempat atau saat sedang memiliki kelebihan uang, seperti saat gajian. Alhamdulillah mereka bisa mengerti.

Meski demikian yang namanya orang tua sekalipun berusaha memberi pengertian dan anak paham, namun tetap saja ada perasaan sedih manakala melihat si kecil menyambut saya di depan pintu dengan wajah riang gembira. Keceriaan inilah yang takkan bisa tergantikan dengan apapun.

Saat mereka tahu saya tak membawa apa-apa untuk mereka, di sinilah rasa bersalah menyeruak di hati saya. Terlihat wajah-wajah muram di sana. Duh, sayang...tak sanggup rasanya hati ini bila harus kehilangan keceriaan itu di wajah kalian...

Pada akhirnya saya tak pernah ingin melihat kemuraman di wajah mereka. Sedapat mungkin saya menyediakan waktu sekedar mampir membawakan jajanan yang tak seberapa harganya demi melihat keceriaan di wajah si kecil. Melihat senyum di wajah keduanya, rasa lelah yang menyerang saya seketika itu juga langsung lenyap!

Pantas saja seorang teman di kantor rajin sekali membawakan oleh-oleh untuk anak-anaknya. Saat ada acara kantor dan makanan seperti kue-kue berlimpah, ia selalu minta dibungkuskan untuk anaknya. Saya sempat bertanya kepadanya, mengapa tidak kamu makan saja kuenya? Dia bilang, "kue-kue ini buat si kecil saja. Saya sudah sering mencicipinya. Anak-anak di rumah pasti senang sekali dibawakan kue seperti ini."

Rupanya inilah yang diharapkan rekan saya, melihat senyum bahagia si kecil saat mendapat oleh-oleh dari orang tuanya. Ternyata hampir setiap orang tua berpikiran sama, ingin selalu melihat kegembiraan buah hatinya. Hanya dengan membawakan oleh-oleh yang tak seberapa, namun efeknya luar biasa buat si kecil. Ia merasa diperhatikan dan disayang karena ia merasa orang tuanya selalu ingat kepadanya.

Pernahkah anda membaca atau mendengar sebuah kisah dari Ali bin Abi Thalib? Kisah seorang laki-laki yang datang kepada Rasulullah Shalallahu 'Alahi Wasallam, ia ingin mensucikan dirinya dari perbuatan maksiat yang sering dilakukannya.

Laki-laki itu berkata: "Wahai Rasulullah, aku telah berbuat maksiat, maka sucikanlah aku!" Kemudian Rasul bertanya "Apa maksiatmu?" Si laki-laki menjawab "Aku malu untuk mengatakan". Rasul pun berkata "Mengapa kamu malu memberitahukan dosa-dosamu kepadaku, sedang kamu tidak malu kepada Allah Ta'ala padahal Dia Maha Melihatmu? Keluarlah dariku sehingga api tidak tinggal pada kami!" Demikian kata Rasul.

Keluarlah laki-laki itu dari hadapan Rasulullah Shalallahu 'Alahi Wasallam dalam keadaan sedih, putus asa dan menangis. Kemudian Jibril datang dan menegur Rasul: "Wahai Muhammad, mengapa kamu membuat ahli maksiat itu berputus asa, sedang ia punya penebus bagi dosa-dosanya meskipun banyak?" Kemudian Rasul bertanya "Apakah penebusnya, ya Jibril?"

Jibril menjawab "Ia memiliki seorang anak kecil. Ketika ia masuk ke rumahnya dan anak itu menyambutnya, kemudian ia memberinya sesuatu berupa makanan atau apapun yang membuat hati anaknya senang. Ketika anak itu merasa gembira, maka hal itulah yang menjadi penebus dosanya".

Kisah tersebut menggambarkan betapa orang tua, sebanyak apapun dosa yang telah diperbuatnya yang mungkin ia sendiri tak menyadarinya, ternyata oleh-oleh yang dibawanya untuk anaknya membuat senang hati anaknya sehingga Allah menjadi ridho terhadapnya. Hal inilah yang bisa menjadi penebus bagi dosa-dosanya.

Membaca kisah ini sungguh membuat mata hati saya terbuka dan semakin memahami, betapa besar arti oleh-oleh bagi seorang anak kecil. Walau mungkin harganya tak seberapa, namun kegembiraan yang terlukis di wajah si kecil sungguh berarti besar. Kegembiraan itulah yang nantinya menjadi pengampunan bagi dosa orang tuanya karena ridho Allah melihat si kecil senang dan bahagia.

Hal ini juga bisa menjadi pencerahan bagi kita, betapa kehadiran anak dalam hidup kita sungguh anugrah yang tak ternilai. Anak adalah amanah atau titipan dari Sang Maha Pencipta untuk kita jaga, kita pelihara dan kita rawat dengan penuh kasih sayang.

Siapapun orangnya yang memberi amanah kepada kita, kemudian amanah tersebut kita jaga dengan baik, tentulah hatinya akan senang. Demikian juga Allah. Ia akan ridho dan senang melihat amanahNYA kita jaga sebaik-baiknya. Dengan kata lain, anak adalah tiket kita menuju surga. Maka merugilah mereka yang telah menyia-nyiakan titipan Allah itu.

******

Ella Zulaeha

/ella_zulaeha

TERVERIFIKASI (HIJAU)

Pages FB : Bursa Tas Branded Batam
Selengkapnya...

KOMPASIANA ADALAH MEDIA WARGA, SETIAP KONTEN DIBUAT OLEH DAN MENJADI TANGGUNGJAWAB PENULIS.

Siapa Yang Menilai Tulisan Ini ?