HIGHLIGHT

'Lapar Mata': Bukti Gagalnya Manusia Menahan Hawa Nafsu?

01 Agustus 2012 18:17:09 Dibaca :

Di bulan Ramadhan, umat muslim di seluruh dunia berlomba-lomba mencari pahala dan mensucikan diri segala dosa di masa lalu. Di bulan suci ini manusia berpuasa demi menahan hawa nafsu. Yang halal dilakukan di siang hari menjadi tak boleh dilakukan. Seperti makan, minum, merokok dan berhubungan badan dengan pasangan.

Namun apa yang terjadi dengan kita selama menjalani ibadah puasa? Apakah kita sudah yakin bisa menahan hawa nafsu tersebut? Hawa nafsu tak melulu hanya menahan makan, minum dan menahan amarah. Sejatinya di bulan puasa, kita juga harus mampu menahan diri antara lain membelanjakan sesuatu yang berlebihan.

Lihatlah betapa banyak orang memenuhi tempat yang menjual makanan untuk berbuka puasa. Aneka menu berbuka puasa yang dijual terlihat begitu menggoda. Setiap sore hari, kita pun bersiap mencari panganan buka puasa. Karena tak kuasa menahan selera, akibatnya segala makanan pun kita beli.

Mulai dari kolak, gorengan, sup buah teh manis, es cendol dan makanan lainnya yang tersaji meriah di meja makan kita. Belum lagi disusul dengan makanan 'berat' lainnya pasca ta'jil tersebut, seperti nasi dengan aneka lauk pauk yang terhidang 'warna warni'.

Saat tiba waktu berbuka, makanan itu pun kita serbu. Apa yang kita rasakan? Alhasil perut seperti terasa mau 'meledak' karena rasa kenyang yang berlebihan. Ketika hendak sholat magrib, perut yang 'begah' itu pun terasa mengganggu kekhusyukan ibadah kita.

Seperti itulah yang saya rasakan saat Ramadhan tahun-tahun lalu. Mempersiapkan menu berbuka puasa yang berlebihan. Padahal saat berbuka tiba, segelas teh dan semangkok kolak sudah membuat perut mendadak 'penuh'.

Akibatnya, makanan lain yang saya beli pun menjadi tak tersentuh. Sungguh mubazir karena pada akhirnya makanan itu tidak habis hingga menjelang tidur malam. Ada rasa penyesalan terselip saat itu. Mengapa harus 'lapar mata' setiap kali melihat jenis makanan yang begitu menggoda hati saat puasa.

Belum lagi pasca menerima THR. Seperti mendapat rejeki nomplok, apapun saya beli. Mulai dari ujung rambut sampai ujung kaki. Hal-hal yang belum perlu sekali saya beli akhirnya masuk juga dalam tas belanjaan. Mulai dari jilbab, pakaian, aksesoris, pakaian dalam, selop, sepatu, tas, serta aneka perlengkapan lainnya untuk anak-anak.

Sadar sesadar-sadarnya bahwa barang yang saya beli itu adalah hasil 'lapar mata' saya setiap kali berkeliaran dari mall ke mall. Setiap kali ada diskon besar, selalu saja tak pernah luput untuk ikut membelinya.

Setiba di rumah, lagi-lagi timbul penyesalan. Mengapa barang-barang itu saya beli, padahal saya belum terlalu membutuhkannya. Bukankah di lemari saya masih begitu banyak pakaian dan jilbab saya yang bertumpuk menanti giliran untuk saya pakai? Ya Tuhan, sungguh hambaMU ini tak mampu mengendalikan diri.

Saat Ramadhan berlalu, yang tinggal hanya rasa penyesalan. Mengapa hikmah puasa yang idealnya bisa menahan hawa nafsu termasuk menahan diri dari gaya hidup konsumtif tak mampu saya lewati? Apalah artinya puasa saya jika saya selalu 'lapar mata'. Inikah bukti bahwa saya manusia yang gagal dalam menahan hawa nafsu?

Belajar dari pengalaman belasan bahkan puluhan tahun melalui Ramadhan yang terasa sia-sia, InsyaAllah Ramadhan ini saya mulai belajar untuk tidak lagi 'lapar mata' dan berusaha menahan godaan diskon yang 'menggila' di berbagai pusat perbelanjaan.

Tanpa kita sadari saat Ramadhan, pengeluaran kita 2x lebih banyak daripada bulan-bulan biasa. Mengapa? Salah satu penyebabnya adalah 'lapar mata' tersebut. Belum lagi berbagai persiapan untuk menyambut hari Raya. Seperti kebutuhan untuk memberikan bingkisan lebaran untuk rekan kerja maupun untuk orang-orang yang bekerja pada kita di rumah.

Apalagi bagi mereka yang hendak mudik. Aneka kebutuhan untuk di kampung pun menjadi prioritas, seperti membeli oleh-oleh serta kue lebaran untuk orang tua dan kerabat. Demi memenuhi tuntutan pengeluaran tersebut, banyak orang akhirnya memilih untuk menggesek kartu kredit. THR pun seolah hanya 'numpang lewat'.

Lantas, bagaimana upaya kita dalam menahan diri agar tak 'lapar mata' saat Ramadhan yang berakibat pengeluaran menjadi 'membengkak' dan membuat pahala kita 'raib' tak berbekas akibat tak mampu menahan diri?

1. Tidak berlebihan berbelanja saat Ramadhan

Saat Ramadhan, usahakan untuk normal dalam berbelanja. Artinya tidak perlu menaikkan uang belanja harian. Bukankah sama saja jika jatah makan siang kita berubah menjadi jatah berbuka, sehingga sisanya tentu tidak ada perubahan.

Godaan terbesar kita saat puasa adalah tak kuasa untuk tidak mencicipi aneka makanan yang terlihat begitu lezat menggoda. Akibatnya hati yang ingin pun menyampaikannya pada otak untuk segera membeli makanan tersebut. 'Lapar mata' pun tak terelakkan lagi.

2. Kurangi 'ngabuburit' ke pusat perbelanjaan.

Banyak orang yang beranggapan ngabuburit mengisi waktu luang menanti adzan berkumandang bisa dengan jalan-jalan ke mall. Bila itu yang terjadi, bersiaplah untuk menerima godaan aneka diskon yang 'menggila' di depan mata.

Sebaiknya isi waktu luang kita menanti waktu berbuka dengan memperbanyak amalan seperti mengaji (tadarusan), atau menyambangi Yayasan Yatim Piatu atau mengikuti Pesantren Kilat.

3. Prioritaskan THR orang-orang yang bekerja pada kita.

Jangan terburu-buru membelanjakan aneka kebutuhan saat mendapatkan THR. Prioritaskan lebih dulu THR untuk orang-orang yang bekerja pada kita, seperti Pekerja Rumah Tangga (PRT), tukang kebun, supir, Satpam. Ingatlah mereka yang bekerja untuk kita juga berhak untuk mendapatkan THR.

4. Jangan lupakan kewajiban kita membayar Zakat Fitrah.

Saat Ramadhan begitu banyak kebutuhan yang harus kita penuhi, jangan sampai kita melupakan kewajiban kita membayar Zakat Fitrah. Saat menerima THR, sisihkanlah dana untuk membayar Zakat.

5. Membeli kebutuhan Lebaran yang benar-benar diperlukan.

Bila kita memiliki kelebihan dana, bolehlah jika kita ingin membeli sesuatu yang memang dirasa sudah kita perlukan, seperti kebutuhan untuk anak-anak, untuk oleh-oleh orang tua atau kerabat, serta persiapan menjelang Hari Raya.

Semoga Ramadhan ini kita berhasil meraih kemenangan, menang melawan godaan hawa nafsu dan tidak lagi 'lapar mata'.

Ella Zulaeha

/ella_zulaeha

TERVERIFIKASI (HIJAU)

Pages FB : Bursa Tas Branded Batam
Selengkapnya...

KOMPASIANA ADALAH MEDIA WARGA, SETIAP KONTEN DIBUAT OLEH DAN MENJADI TANGGUNGJAWAB PENULIS.

Siapa Yang Menilai Tulisan Ini ?