Wanita dan Kelembutannya, Tetap Harus Kuat

24 Mei 2012 12:50:30 Dibaca :

Allah akbar….Allah Akbar…


“Mah, ayo!” tangan mungil azzahra, putri kecilku menarik-narik lengan bajuku.Emosiku mulai terpancing.Sudah menjadi kebiasaannya saat mencari perhatian.Kutatap mata polosnya.Ada-ada saja permintaannya Tak pernah membiarkanku diam sejenak untuk istirahat setelah seharian disibukkan dengan pekerjaan rumah.Minta inilah,minta itulah.


“Allah” katanya serius dengan nada cadelnya seraya menggerakan tubuhnya menyerupai orang yang sedang melakukan sholat.Aku melongo. Emosiku redam saat itu juga.Kukecup pipinya yang lembut.Rupanya dimesjid sudah dikumandangkan adzan magrib.segera kumatikan televisi yang sedari tadi tak menjadi perhatiaannya.


Kubenamkan lisanku menelusuri kalam-kalam ilahi.Nikmat.Makin lama makin aku hayati, rasanya tak pernah ingin menyudahinya.Setidaknya ini bisa menggantikan hentakan soundtrack sinetron yang makin membuat angan-anaganku jauh berkelana.andai aku begini, andai aku seperti itu.Akh hayalan muluk yang tak pernah berkesudahan.Berawal dari beberapa hari ini bayangan almarhum ayahku selalu mendatangiku lewat mimpi-mimpi. Apa sebenarnya arti dari mimpiku? atau hanya bunga tidur karena setiap detik memori otakku merekam semua kenangan tentangnya.


Sudah sepuluh tahun hingga menjelang akhir hayatnya aku tak bisa meluangkan waktu untuk mengurusinya.Mataku terlalu pekat tertutup cita masa depan. Masa depan yang aku sendiri belum tahu harus kugantungkan pada apa dan siapa.


Sering berpikir apa yang tengah terjadi sekarang ini pada ayah?apakah Allah memeliharanya dengan baik?aku merinding mendengar untaian khutbah pak ustadz dimesjid.


“Terputus sudah amalan seseorang ketika orang itu meninggal.Yang dapat menolongnya adalah amal ibadah selama ia hidup didunia dan anak sholeh yang selalu mendoakannya”


Sepuluh tahun telalu cepat rasanya ku meninggalkan kampung halamanku.Meninggalkan keluarga dan orang-orang yang aku sayangi.membentuk keluarga yang Insya Allah akan terus kucintai suami dan anak-anakku.tapi untuk siapa kulakukan semua ini? Bukankah aku cukup bahagia ditengah keluargaku,meski hanya memiliki mobil dan rumah yang sederhana, tapi kami saling menghargai dan berusaha membuat nyaman dan tersenyum.Terlepas dari itu semua, aku harus menyelesaikan permasalahan hidupku sendiri.Rumah tanggaku dengan berbagai intriknya, hubunganku dengan orang lain dan orang-orang sekitar, dan penipisan kepercayaanku terhadap Allah. Akh sebetulnya aku tak ingin mengulangi memikirkan kalimat terakhir, tapi itu nyata. Saat lima tahun yang lalu aku kehilangan harapan untuk menjadi ibu yang kuat dan istri yang mampu. Allah hanya menitipkan seorang putra sejenak padahal sebelumnya aku menginginkan kelak Raka Abdillah putraku menjadi tumpuan harapan kami.Aku kecewa. Aku marah dan hampir tak ikhlas. Tapi saat kusabari dengan membaca ayat-ayatnya, air mataku terpukul terlonjak keluar, hatiku menjerit.


Bisa apa aku ini melawan kehendakNya? untuk membendung agar air mataku tak jatuhpun aku tak bisa. Tak berdaya. Orangtuaku yang selalu kugantungkan harappun tak mampu menolong. Saat itu juga aku akui Allah maha kuat dan berkehendak.


Kuambil hikmah dari perjalananan kemarin. Saat kutempati rumah baru kami,ada yang menjalar perlahan tiap hari. Sepi. Tanpa ada tawa, tangis atau celoteh renyah dari suara anak kecil. Rindu rasanya mendengar teriakan anak-anak.Tapi aku takut. Takut dengan perasaan-perasaan yang datang silih berganti menghujani pikiran.Takut dengan keputusanNya yang membuat aku menangis lagi.


“Selamat, ya! hasilnya positif.” Ujar dokter kandungan yang memeriksaku.


Tak terasa sudah empat bulan usia kandunganku. Kujaga asupan gizi dan pola makanku setiap hari. Entah berapa dus susu untuk ibu hamil yang telah aku habiskan. Aku begitu bersemangat menjalani hari-hari. Tak kukenal manja atau istilah ngidam saat hamil. Kalaupun morning sick sedikit tak pernah kukeluhkan. Langsung kutarik nafas dalam-dalam dan segera bisa kulalui. Begitu semangat kujalani hari tanpa mengenal lelah. Mengerjakan tugas-tugas sebagai istri seperti masak, mengepel, mencuci kulakukan sendiri.


Dua hari berikutnya


“A…”panggilku pada Arga, suamiku. Debaran jantungku kurasa makin kencang.


Arga yang tengah mendaratkan bibirnya dicangkir teh manis segera melirik kearahku. Kebetulan hari itu hari minggu,jadi Arga tidak masuk kerja.


“Aku…” Jawabku ragu.


Arga seolah menanti jawaban.


“Apa tidak apa-apa,ya?” lanjutku setengah bertanya pada diri sendiri. Arga makin penasaran. Diletakkanya cangkir teh dipiring kecil dihadapannya.


“Aku ada flek” Aku hampir menangis. Kejadian dua tahun yang lalu tiba-tiba membayang.


“Hah! Banyak ga?” Arga terperanjat


“Sedikit sih. Tapi aku takut…” Aku tak berani melanjutkan kalimatku. Terlalu seram membayangkannya.


“Ya sudah, sekarang siap-siap. Kita periksa kedokter” Tegas suamiku megambil kunci motor dimeja.


Klinik terdekat dari rumah kami bisa ditempuh sekitar lima belas menit dengan menggunakan sepeda motor. Cemas,takut, bercampur jadi satu. Ada kekhawatiran mencekam yang menusuk-nusuk ingatanku. Aku cemas dengan kehendakNya. Pelan kutandaskan do’a agar kali ini Allah berikan kesempatan padaku untuk menjadi ibu.


Sembilan puluh sembilan nama sucinya kupuji. Mengaharap belas kasihNya.


“Ya Allah jika anak ini lahir dengan sehat dan selamat, aku akan memakai jilbab” janjiku tiba-tiba mengendap dalam hati.


Penantianku terasa begitu panjang dan lama. 17 Juli adalah tanggal yang diperkirakan dokter untuk kelahiran buah hatiku. Dengan cara normal kuputuskan kujalani kelahirannya. Selain ingin mendapat pahala lebih dariNya, kondisi bayiku juga aman-aman saja, meski aku sempat dag dig dug untuk kesekian kalinya, karena waktu menginjak usia kehamilanku delapan bulan,dokter menyatakan berat badan bayiku rendah. Jadi harus bertambah beberapa ons lagi. Apapun yang dianjurkan oleh dokter aku lakukan semampuku. Menambah porsi makan, minum susu atau makan ice cream yang banyak mengandung susu. Alhamdulillah suamiku sangat mendukung upayaku. Keselamatan bayi kami adalah semangatnya juga.


Setelah berunding cukup alot, kuputuskan untuk melahirkan dirumah orang tuaku.


Delapan belas juli jam sembilan malam, kurebahkan badanku diatas sofa dekat televisi. Tak jauh dariku, ayah sedang menemaniku. Setelah hampir lima bulan kugerakan kaki ini mengitari sudut-sudut kamar dan ruang tamu tak henti-hentinya. Do’a-do’a kuucapkan tak henti-hentinya memohon agar Allah melancarkan semuanya, memberi sehat jasmani dan rohani untuk anakku.


Pepatah orang tua tak ada salahnya kuturuti jika demi kebaikan. Termasuk meminum minyak kletik yang sengaja ibu buatkan untukku. Padahal rasanya… akh ganjil sekali terasa ditenggorokan. Entah benar atau tidak mitos itu tapi yang pasti tak pernah terlewatkan untuk kulantunkan ayat-ayatNya. Aku tak ingin bermalas-malasan menyambut kelahiran putriku. Ya puteri. Setelah di USG dokter menyatakan bahwa anakku adalah perempuan, sesuai dengan harapan ayahnya.


“Nanti kalau perempuan, bisa gantian dengan mama membuatkan teh manis buat ayah” senyum Arga mengembang.


Dan tak sebatas itu sebenarnya harapan kami. Semoga putri kami akan selalu mencintai dan dicintai Allah SWT.


Dua jam berlalu dari jam dua belas malam. Kurasa perutku makin kencang. Aku tahu ini adalah tanda-tanda menjelang kelahirannya. Kuusap lembut dan perlahan perutku agar puteriku kembali tenang.


Bidan terdekat memang tak jauh dari rumah kami,tapi aku tak ingin membuat orangtuaku panik. Jadi kutahankan sampai pagi. Lagipula menurut pengalamanku yang pertama,cukup lama setelah ada tanda-tanda seperti itu. Aku tak mau terlalu lama menunggu dirumah bidan. Hanya akan menambah cemasku saja.


Jam tujuh pagi, dengan jalan kaki -dan memang sengaja kulakukan-, bersama ibu mendatangi rumah bu bidan.


“Sudah pembukaan tiga.” Paparnya.


“Mungkin diperkirakan ashar atau maghrib” lanjutnya lagi.


“Mau nunggu disini atau dirumah saja? Saya mau praktek dulu di PUSKESMAS.” Terangnya.


Aku memilih pulang dulu kerumah, makan, mengumpulkan tenaga dan menenangkan hati. Melahirkan butuh stamina sekaligus ketenangan yang luar biasa. Semangatku makin menggelora. Sudah tak lama lagi, pikirku. Mengalahkan cemas,takut dan khwatir yang memuncak.


“Allah Akbar! Alhamdulillah!” Seruku tak henti-henti mendengar suara tangisnya pecah. Padahal sedari tadi aku pasrah saat bu bidan tak kunjung datang. Aku yang hanya berdua dengan ibu, ikhlas jika saat itu memang sudah tiba waktuku. Ibu tak henti-henti menyeru namaNya. Ayat Kursi, surat Al-a’raf ayat 54, Surat Al-Falaq, Surat An-naas berulang kali keluar dari bibirnya.


Puteriku yang kini kunamakan Azzahra, lahir sendiri dengan sehat dan selamat. Hanya tangan ibu yang pertama kali menyentuhnya.


Begitu dahsyat kekuatan do’a dan kalimat-kalimat suci yang aku yakini tak ada keraguan sedikitpun padanya. Indahnya dapat menentramkan hati dan mengusir cemasku Hari ini kubelajar pahami ayat-ayatNya termasuk surat Al-Ahzab ayat 59.



Mantap. Kuraih jilbab yang Azzahra sodorkan. Dia selalu mengingatkanku akan kuasaNya. kuyakinkan pada Azzahra, wanita itu walau lembut tapi harus kuat.


Ini adalah bentuk terima kasihku padaMu, rasa cintaku padaMu,aku mengaharap ridhomu dan yakin dengan seruanMu. Semoga dengan langkahku ini Azzahra dapat mencontoh untuk selalu mencintai Tuhannya, menjadi wanita yang kuat, mengamalkan kalam-kalam ilahi. Dan dengan do’anya dapat menolongku dihari kemudian, tentu saja atas ridhoNya. Karena Kau maha kuasa dan berkehendak.


KOMPASIANA ADALAH MEDIA WARGA, SETIAP KONTEN DIBUAT OLEH DAN MENJADI TANGGUNGJAWAB PENULIS.

Siapa Yang Menilai Tulisan Ini ?