Lilik Fatimah Azzahra
Lilik Fatimah Azzahra Wiraswasta

Seorang ibu yang suka membaca dan menulis

Selanjutnya

Tutup

Cerpen highlight

Cerpen | Bisikan Drupadi

12 Agustus 2017   17:59 Diperbarui: 12 Agustus 2017   18:04 346 11 10
Cerpen | Bisikan Drupadi
Ilustrasi: adobe.blogs.com

Adalah aku, titisan Dewi Drupadi, perempuan yang terlahir dari api suci.

"Niken! Hapus tulisan aneh itu!" Kakakku Siska menegurku. Aku tidak menggubrisnya.

Adalah aku, yang pernah membebat luka Sri Kresna ketika ia terluka dengan kain panjangku...

"Niken, kisah apa sih yang kau tulis ini? Tidakkah lebih baik menyalinnya di buku harianmu saja? Menempelkan coretan-coretan kecil pada dinding kamar seperti ini, sungguh terlihat sangat berantakan!" kembali suara bawel itu terdengar. Aku sama sekali tidak menanggapinya.

Siapa yang tidak terpesona oleh kecantikanku? Para Dewa, para ksatria...Bahkan dua Kurawa yang terkenal bodoh itu, Duryudana dan Dursasana, mereka terlihat semakin bodoh ketika bersitatap muka denganku, terkesima oleh pesonaku hingga tak menyadari hampar kolam di hadapannya. Byuuur! Kedua mahluk jelek itu kuyup tercebur. Hak, hak, hak...sungguh lucu, mari kita tertawa.

"Astaga, Niken. Berhentilah menulis sesuatu yang tidak berguna!"

Dan aku, terbelenggu kebingungan, ketika Dewi Kunti memintaku untuk membagi cinta, menjadi istri bagi kelima putranya, Panca Pandawa.

"Itu sungguh sesuatu yang gila! Perempuan dengan lima suami? Bagaimana mungkin terjadi?" Kakakku mengangkat alisnya tinggi-tinggi. Hah, sepertinya ia menyimak juga tulisan-tulisanku yang tadi sempat dianggapnya tidak berguna itu.

Oh, air mataku tumpah, ketika dua Kurawa brengsek itu berusaha menarik kain panjangku, menelanjangiku. Duh, Dewa Bathara Agung....

"Adikku, ini sudah malam. Tidakkah kau ingin tidur? Jangan lanjut menulis kisah yang tidak kumengerti. Apalagi yang berbau misteri," terdengar suara itu lagi. Meski nadanya agak mereda, menurutku kebawelan Kak Siska masih tetap menyebalkan. 

Sri Kresna mendengar tangisku...tangis perempuan yang hendak dipermalukan. Maka impaslah semua. Buah kebaikanku, telah terbalaskan.

"Kukira menutup mata dan telinga adalah pilihan terbaik," Kakakku menyerah karena tak bisa menghentikan gerakan tanganku. Ia meraih earsetyang tergeletak di atas meja lalu menyumpalkan benda kecil itu pada kedua lubang telinganya.

Sudah berapa kekasih yang kau miliki? Dua? Tiga?

Oh, Dewi, tak satu kekasih pun yang aku punya!

Dengkur Kak Siska mulai terdengar, naik turun. Kukira itu lebih baik. Dengan begitu aku bebas melanjutkan menulis kisah Drupadi, dewi pewayangan yang sangat kukagumi, tanpa harus mendengar lagi kebawelannya.

Drupadi t'lah menyatu denganku, menitis padaku.

Dengkur Kakakku semakin keras. Ah, kalau saja kami memiliki kamar sendiri-sendiri....

Drupadi---  jika tidak menyukai sesuatu, ia tidak akan berlama-lama membiarkannya. Kau paham maksudku?

Tik-tak...tik-tak.

Jam di dinding terus berdetak.

Perempuan ayu, menawan, menjadi rebutan, dipertaruhkan oleh para ksatria, memiliki  lima suami. Oh, adakah yang lebih menakjubkan dari kisah Dewi Drupadi  ini?

Kakakku menggeliat. Entah apa yang tengah dimimpikannya. Mungkin---ia sedang menikmati mimpi indah bersama kekasihnya yang tampan itu. Bah!

Drupadi  itu aku. Tidak  pernah kalah. Jadi segera menangkan pertarunganmu!

Bisikan itu terngiang di telingaku. Membujukku. Berulang kali.             

Baiklah, baiklah...Drupadi.  Aku akan laksanakan perintahmu!

Dan ---tanpa ragu-ragu, kuraih bantal di hadapanku. Lalu sekuat tenaga kubekap wajah Kakakku, wajah yang jelita itu. Wajah yang selalu menjadi idola setiap pria. Wajah yang sangat sempurna, yang memiliki keberuntungan tiada tara dibanding wajahku. 

Sudah, cukup!  Ia sudah mati.  Sekarang kau bisa tenang melanjutkan hidupmu.

Deg. Itu bukan bisikan Drupadi. Itu bisikan iblis.

Aku tak peduli!

Tik-tak, tik-tak.

Bunyi denyut jantungku.

Kupandangi dinding kamarku. Sudah penuh oleh coretan kisah Dewi Drupadi. Aku tertawa.

Kupandangi juga ubin di bawah tempat tidurku, plesternya masih basah. Sekali lagi---aku tertawa.

Kau ingin tahu apa yang ada di balik ubin itu? Tiga nyawa. Nyawa Ayahku, Ibuku, Kak Siska, oh, semoga mereka tidak merasa gerah ya, karena telah kutumpuk menjadi satu.

Tik-tak, tik-tak.

Waktu terus melaju.

Kubuka lebar-lebar jendela kamarku. Kubiarkan udara pagi menyentuh wajahku. Wajah cacat yang selama ini tak boleh ditunjukkan pada dunia. Wajah yang dianggap---sangat memalukan dan membawa sial bagi keluarga.


***

Malang, 12 Agustus 2017

Lilik Fatimah Azzahra