Eka Adhi Wibowo
Eka Adhi Wibowo Dosen

Dosen Fakultas Bisnis Universitas Kristen Duta Wacana, Yogyakarta

Selanjutnya

Tutup

Gaya Hidup

Membaca dan Lagi-lagi Membaca

27 Oktober 2016   14:34 Diperbarui: 27 Oktober 2016   14:44 91 2 2
Membaca dan Lagi-lagi Membaca
dokumentasi Pribadi

Hari ini kami mendapat penugasan dari Fakultas kami untuk mengikuti training tentang bagaimana membuat karya ilmiah yang baik agar dapat dipublikasikan pada jurnal-jurnal yang top level. Pelatihan ini diberikan oleh Prof. Dr. Salih Katircioglu dari Eastern Mediterranean University, Turki. Beliau menjelaskan sesuai dengan bidang ilmu yang ditekuni. 

Pengetahuan-pengetahuan cukup banyak kami peroleh dari pelatihan ini. Terlebih lagi bagi kami para akademisi menulis dan mempublikasikan karya ilmiah adalah salah satu fungsi yang harus kami jalankan. Sangat menarik bahwa ternyata dunia kami sangat erat bahkan sangat sering beririsan dengan dunia jurnalistik khususnya bidang literasi (baca tulis), dan publikasi.

Publikasi memiliki aneka ragam kelas dan karakteristik, bagi kami para akademisi tentu akan berusaha untuk mempublikasikan tulisan atau lebih spesifik disebut karya ilmiah yang sebelumnya didahului oleh penelitian. Publikasi yang lain juga tidak kalah pentingnya meskipun mungkin dapat dikatakan sebagai informasi atau bacaan yang ringan, semuanya dihasilkan oleh penulis-penulis dari berbagai latar belakang ilmu yang kemudian membagikannya dalam bentuk hasil olahan kata yang dapat dipahami oleh orang lain. 

Semua itu memerlukan daya nalar, baik dalam wujud logika, imajinasi hingga perasaan yang dituangkan dalam bentuk artikel-artikel. Tidak kalah penting bagi penulis yang merangkap peneliti adalah originalitas riset karena originalitas ini adalah hal yang menunjukkan ide yang asli dan benar-benar baru dari peneliti. Originalitas akan menentukan bagaimana kualitas dari suatu penelitian. Semakin berkualitas suatu penelitian akan semakin tinggi jurnal publikasi ilmiah yang akan bersedia mempublikasikannya.

Memori pikiran saya tertuju pada saat saya kuliah metodologi penelitian saat saya sedang menempuh studi Strata 2. Pikiran saya kembali mereview bagaimana cara mendapatkan originalitas itu, jawaban dari dosen saya pada saat itu sangat sederhana: membaca. Membaca dan lagi-lagi membaca; baru kemarin saya membaca artikel tentang membaca di kompasiana yang berjudul “kriminalitas merajalela gara-gara kita malas membaca? dari tulisan tersebut dinyatakan bagaimana keadaan negara-negara dengan minat baca yang tinggi menunjukkan tingkat kriminalitas yang rendah, sedangkan negara dengan minat baca yang rendah menunjukkan tingkat kriminalitas yang tinggi. Lebih memprihatinkan adalah negara kita termasuk dalam negara dengan minat baca yang rendah. Dalam artikel tersebut juga dijelaskan tentang berbagai manfaat dalam membaca khususnya dalam menjalani kehidupan kita. Pertanyaan timbul dalam pikiran saya adalah: apakah yang menyebabkan bangsa kita minat bacanya rendah?

Observasi kemudian saya lakukan seperti mencari sumber-sumber tentang kenapa minat baca rendah? Hasilnya saya temukan berbagi faktor yang kemudian saya coba rangkum sebagai berikut: 1. Masyarakat Indonesia lebih suka menonton televisi. Data dari BPS tahun 2012 menunjukkan 91,58% dari penduduk Indonesia yang berusia 10 tahun ke atas lebih suka menonton televisi. (Sumber)

Sementara dapat disimpulkan bahwa bangsa kita lebih memilih informasi yang bersifat lisan daripada tulisan. Padahal budaya lisan seperti menonton televisi memiliki dampak yang kurang bermanfaat bagi kerja otak. Hasil-hasil penelitian baik dalam dan luar negeri menunjukkan bahwa orang yang gemar menonton televisi memiliki kemampuan analisa yang lebih rendah dan lambat. 

Sedangkan membaca akan mendorong otak untuk bekerja mengolah informasi baik secara logis matematis maupun imajinatif. Masukan informasi yang telah diolah dengan baik akan menghasilkan keluaran informasi yang juga baik, bahkan lebih baik. Kualitas informasi akan menentukan bagaimana kualitas keputusan yang diambil dalam menjalani hidup ini.

2. Budaya Instant yang merajalela.

Bangsa kita sejatinya adalah bangsa yang tekun dalam berkarya dan bekerja, hal tersebut tampak dari peninggalan-peninggalannya yang memiliki nilai tinggi yang sebagian besar diakui sebagai karya besar dunia. Mengenai budaya literasi baca tulis juga dapat terlihat dari prasasti-prasasti dan catatan-catatan yang dimiliki oleh pujangga-pujangga kita pada masa lampau. Tetapi budaya tersebut kini semakin pudar, memang terdapat sebagian dari bangsa kita yang berupaya melestarikan budaya tersebut, namun mereka agaknya kewalahan karena begitu banyaknya hal-hal yang sudah diinstanisasi oleh produk-produk korporat yang menjadikan bangsa kita sebagai pangsa pasar. Akibatnya bisa ditebak: muncullah generasi yang tidak sabaran, yang hanya berorientasi pada hasil tanpa mempedulikan proses yang harus dilalui untuk mendapatkan hasil. Tanpa sadar bahwa itu semua hanya pe”ninaboboan” dari pemilik-pemilik perusahaan untuk membuat produknya laku keras.

Budaya membaca dibuat seolah-olah merupakan sesuatu yang kurang bermanfaat, hanya buang-buang waktu dan tenaga, dan hasilnya juga tidak dapat langsung dan cepat dirasakan. Padahal teknologi-teknologi yang mereka nikmati merupakan hasil dari orang yang memiliki minat baca yang tinggi. Kedua faktor tersebut hanyalah sebagian dari penyebab minat baca masyarakat kita rendah.

Keputusan kini ada di tangan kita, apakah kita akan menjadi pihak yang melestarikan dan bahkan meningkatkan minat baca di masyarakat kita, atau ikut memusnahkan budaya membaca itu sendiri. Semoga bermanfaat.

Jogjakarta, 27-10-2016