Pelangi

27 September 2013 22:23:20 Dibaca :

Eghi Amin Rintik hujan masih terasa jatuh basah di pori kulit. Awan di langit jua masih tampak menjalar tak beratur dan mulai memerah, sebagian masih hitam pekat. Pelangi memancar indah merias wajah semesta senja itu. Bulir-bulir air itu setelah mendapat sengatan sinar mentari senja akhirnya terurai menjadi warna-warni pelangi. Begitu menakjubkan, Tuhan menciptakan keindahan, sebab Dialah yang indah dan pemilik keindahan. Sebentar kemudian udara dingin ikut menyengat perlahan-demi perlahan menusuk kulit hingga akhirnya ke sum-sum tulang belakang. Genangan air juga terlihat sepanjang jalan tadi, mempertegas bahwa baru saja hujan begitu lebat mengguyur kampung ini. Tak banyak yang tahu kedatangnku sore itu, hanya sekelompok kecil saja dari tetangga sebelah yang menatap seolah sinis ketika aku turun dari hartop sebutan mobil ofroad yang membawaku menyulusri lereng gunung, naik-turun gunung yang penuh lumpur dan bebatuan krikel hingga akhirnya sampai di Taukong. Sebuah dusun kecil di pinggir sungai di lereng gunung Tandeallo di kaki pengunungan Quarles Sulawesi Barat. Mereka seolah ingin berkata selamat datangpadaku. Selamat datang sarjana kota yang dulu begitu rajin mengadzan. Lantas kemudian menatapku dengan senyum-senyum seadanya, menayapa dan bertanya kabar dalam ranah malu. Ku mencoba membalas senyum mereka dengan seramah mungkin, pikirku kalian adalah bagian hidupku dan mengapa seolah tak akrab hanya karena empat tahun lima bulan tiada berjumpa. Memang aku sadari bahwa kebiasaan orang kampung adalah sinis dan malu-malu pada orang yang baru. Meskipun aku bukan orang baru, tetapi mungkin mereka punya pandangan lain dari caraku membalas sapaan. Apalagi gayaku yang seolah baru keluar dari supermarket, berdandan berlebihan dari sudut pandang mereka mungkin. Kassi-kassi, mungkin begitulah, pandangan mereka bahwa aku overgaya. Empat tahun lima bulan itu berlalu rasa-rasanya bagai kemarin saja, ketika itu aku minta pamit pada kawan-kawanku, pada ayah, bunda dan juga Maya teman kecilku. Sekarang tak banyak yang berubah setelah aku datang kembali. Dedaun rumbiah yang dulu kutinggal masih menempel rapih sebagai atap rumah-rumah penduduk, papan kayu yang kami disebut pulio masih sebagai dinding, dan juga tanah kering sebagai lantai. Tak banyak yang berubah memang, bahkan tidak salah jika ku katakan sama saja ketika aku tinggalkan kampung ini dulu. Hanya beberapa rumah saja yang berganti atap menjadi seng, dinding menjadi tembok dan lantai berkramik. Hanya beberapa saja dan bisa dihitung jari. Di sana, di sini, dan setiap sudut kampung masih berantakan sampah. Pasar tua juga masih itu di ujung kampung, ia turut serta menyapaku, bertanya penuh makna, seolah Ia sedang berteriak memanggilku dengan harap untuk membebaskan penatannya, kejenuhannya, dan dari riuh anak kampung yang tak mau ikut memberi pikir-pikir perbaikan. Ada sampah-sampah yang berserakan di sana, genangan air hujan, bahkan atapnya yang tak sedap di pandang mata. Bukan hanya itu saja, yang lebih menyedihkan adalah jalanan panjang 50 km menuju kampung yang sedari tadi kulewati tak sedikit pun tersentuh perbaikan, akibatnya tak bisa berdaya penduduk kampung kami. Padahal telah aku tahu bahwa kampung kami yang dahuulu kutinggal dengan status dusun, sekarang telah naik dua tingkat menjadi kecamatan. Setelah aku meletakkan ransel milikku, lalu mencium tangan kerdil ibuku. Aku bersandar mesra di pangkuannya. Kuelus tangannya. Kutatap matanya yang mulai berubah tak lagi bening. Rambutnya semakin memutih pertanda usia semakin senja. Kutanya satu persatu tentang keluarga, ayah, adik-kakakku dan tentu Maya. “Maya sudah punya anak, Nak. Kau terlalu lama di kota”. Ibu mencandaiku mesra. Bagaimana bisa Ibu bercanda padaku tentang Maya, pikirku seketika. Aku rasa Ia sedang meledekku, atau apalah. Tapi sudah, aku tak perlu terlalu banyak pikir soal itu meski harus bohong pada hati kecilku tentang Maya, tentang masa kecilku sampai akhirnya harus ku tinggal kampung ini ketika Maya sudah menginjak remaja dan menjadi gadis desa. Aku pergi jauh ke tanah Jawa dengan satu tekad untuk kembali dan jujur pada Maya, tentang perasaanku dan asa yang sejak dulu hadir. Menciptakan pikir dalam hayal, tentang angan, harapan dan kedamaian dari sunyi dan senyap lembah sungai Maitting yang dikala malam purnama airnya begitu jernih mengalirkan kedamaian. Hari ini aku telah kembali. Lima tahun enam bulan bukanlah waktu yang lama bagiku, tapi kurasa modal pengetahuan yang kumiliki sudah cukup untuk menerjemahkan satu kalimat yang pernah dibisikkan dosen UI yang cantik dan terkenal Dian Sastro Wardoyo. Ketika hadir memberi kuliah perdanaku dulu di Malang. “Kalau semua orang hebat pindah ke kota, lalu siapa yang akan membangun desa?”. Aku berpikir lama untuk kembali, sebab janji kehidupan metropolis begitu indah. Mimpi-mimpi manis akan hidup di kota begitu menjanjikan bahagia. Wajarlah ketika banyak pemuda-pemudi desa hijrah mengadu nasib di kota, meski akhirnya tak sedikit yang jatuh kepada kehancuran. Ketika pagi belum benar-benar tiba, aku berjalan ke gang sempit itu. Menyusuri setapak demi setapak lorong sunyi, bebatuan yang basah risau di terpa embun pagi menyengat aroma sedap malam yang terasa masih menempel pulas bersama embun pagi. Salju masih terlelap malas di ujung dedaun, menanti datangnya sang mentari bertahta di ufuk timur. Aku teringat suatu cerita, bahwa pahlawan sejati selalu menunjukan kekuatan sesungguhnya di saat-saat terakhir. Dan itulah yang ingin kulakukan, menunjukan kekuatanku disaat aku terdesak bersama harapan dan juga kekhawatiran semua orang. Dengan begitu aku bisa meniru pahlawan yang ada di dalam cerita yang pernah aku dengar, bahwa aku bisa mengalahkan semua musuh, meski itu harus berada di saat-saat terakhir. Jikalau esok hari tak bisa lagi menatap matahari, harapku adalah pikiran ini menjadi hidup kekal dan abadi pada semua orang. Itulah kemenanganku. Dan inilah tekadku mengapa telah memilih lorong sunyi itu. Sebab yang kuyakini adalah kebenaran akan jalan yang kupilih, lorong sunyi nan berlumpur itu adalah takdir Tuhan yang mesti dijalani sebagai proses penghambaan diri. Inilah takdir, takdir yang tak dapat ditolak. Kita tak bisa menyalahkan keadaan, justru harus bersyukur telah hadir di bumi Tuhan, telah berada di alam kefanaan ini. Pelangi tak dapat kulihat lagi tentunya, ia telah pergi entah kembali. Begitu naifkah aku mengharap ketikpastian, lirihku dalam diam. Ahh, persetan dengan ketikpastian itu. Pikiranku tak tertuju pada kembalinya pelangi, tapi tak bisa kunafikan bayang-bayang itulah yang menyiksaku sedari kemarin, ketika Ibu meledekku penuh canda, melontarkan nada-nada sedikit kecewa atas waktu yang berlalu begitu cepat membawa pergi Sang Pelangi. Mungkin Ibu-lah satu-satunya manusia yang tahu pentingnya warna pelangi itu untuk menemani kesendirianku, mewarnai hari-hariku, memupuk rasa bahagiaku, mengubur kemalangan dan mengabarkan kegembiraanku. Aku dari tiada kemudian ada, dan akhirnya berada pada ruang ketiadaan, hanya pelangi itu yang tahu tentang semuanya. Sayangnya ia telah lenyap sebelum cahaya datang, kemalangan takdirlah yang berkata lain, pelangi telah pergi dengan jalannya sendiri. Memilih hidup, dan bukan diriku. Lima tahun enam bulan itulah awal ketika ku titipkan harap pada Sang Pelangi, yang tak lupa kukisahkan pada teman kecilku Maya. Ia terlahir beruntung, Tuhan menganugerahinya keindahan paras bagai pelangi. Tak salah jika semua orang menyebutnya bunga desa. Mahkota bunga-bunga yang manis di puncak biru langit Tapodo tempat ia disemai menjadi belia dan akhirnya menjadi gadis, tumbuh menjadi pribadi yang ceria, suka senyum pada orang sekampung. Sehari sebelum kepergianku ke Surabaya telah ku lihat ia berseri bagai bunga mawar di musim semi. Benar-benar indah memancarkan cahaya. Aroma harum turun tanpa disemprot parfum industri. Benar-benar cantik natural, membuat mata yang memandangnya lengap dalam hayal. Berlari mengejar hari-hari yang silih berganti berjalan mengantar pagi menjumpai malam. Kecantikannya bagai sang dewi malam, ibarat seberkas cahaya pelagi di kesejukan senja. Mempesona! Malang tak diraih untung tak dapat di tolak, nasib pelangi menjelma menjadi peluh. Di lorong sunyi inilah aku melihat Maya meraut sepi. Wajahnya yang dulu kukenal jelita menjelma menjadi sesesok perempuan besi yang harus kuat melawan kemalangan. Ia menatapku malu, gugup, matanya tak lagi bening sebening air sungai Batupiring. Menatapku layu, pipinya yang dulu merah delima disulap waktu menjadi legam, lenyaplah warna pelangi di matanya. Sekarang aku baru mengerti tentang ledek Ibu, bahwa takdirlah yang menuntun pada kemalangan. Maya telah di tuntun pada jalan itu, Ia berlari mengejar takdirnya. Tumbuh dan kuat bersama bayang-bayang harapan. Berharap mimpi-mimpi yang indah, tak berakhir dengan keluh peluhnya. “Nak, jangan melihat rupa seseorang untuk mengatakan dia baik, kalian bisa fatal jika tak mengerti hatinya”. Pesan Ibu pada Maya yang masih terniang empat tahun silam. Dan akhirnya aku tahu semua makna itu, ketika melihat Maya memikul bakinya di pagi buta. Ketika mata kami saling bertatapan di lorong sunyi, lantas Ia menyapaku seadanya lalu menghilang bersama dua perempuan kecilnya, berlari mengejar harap di bayang-bayang sepi. Sepi, ketika Ia sendiri. Sepi, ketika Ia harus menjadi ayah dari kedua putrinya. Sepi, ketika harus mengerjakan semua pekerjaan lelaki dusun yang tak pantas bagi perempuan pelangi itu. Dan sungguh sepi ketika Ia ditinggal pergi suaminya yang mengaku orang kota, orang besar dan terpandang. Dua tahun lalu lelaki kota itu menikahinya akibat kabut kelam permainan lelaki, karena kepolosan Maya yang tak memegang kata Ibu, karena kekeliruan pikir dan kemalangan takdir. Sekarang lelaki kota itu pergi jauh, hilang di telan bumi. Entah kemana dia pergi, tak satu setan pun yang tahu soal itu. Hari-hari mulai berselimut sepi memaksa Maya harus kuat, melawan kemalangan takdirnya sebagai janda dua anak perempuan. Tak seorang pun bertanya pada kemalangan Maya, seolah angin lalu semua mengalir terniang di atas dedaun rumbiah, menerpai atap-atap rumah-rumah penduduk dusun yang kata orang kecamatan baru itu. Semua diam membisu, ikut mengutuk kesalahan Maya terbius berlabu dipelukan yang salah. Aku menyesal mengapa tak bertanya pada Maya dimana kisah pelangi itu? Ketika semua telah berada di puncak kesal, anak-anak kampung mulai tersadar mengiba. Mereka mulai berpikir soal kemalangan yang terus menjelma menjadi perbudakan. Dan aku telah lama bertanya pada diriku sendiri bahwa takdir bukanlah kemalangan, ia harus pergi dari hati-hati kami. Lalu pintaku pada Maya agar dia bersemi kembali, agar Ia bercerita tentang kenangan-kenangan manis maupun pahit. Selanjutnya biarkanlah Ia terkubur selamanya, hilang di telan kesunyian malam, hanyut terbawa derasnya Batupiring di akhir desember yang dingin nanti. Biarkanlah Ia pergi, biarlah! BERSAMBUNG ...

Harmegi Amin

/egi_amin

Kemari adalah sejarah, hari ini realita, dan esok adalah impian
Selengkapnya...

KOMPASIANA ADALAH MEDIA WARGA, SETIAP KONTEN DIBUAT OLEH DAN MENJADI TANGGUNGJAWAB PENULIS.

Siapa Yang Menilai Tulisan Ini ?